Pancasila : Janji Luhur, Tugas Bersama
Pancasila: Janji Luhur, Tugas Bersama
(Refleksi 1 Juni 2025)
Oleh:
Dr. H.Mulyawan Safwandy Nugraha, M.Ag., M.Pd
Tahun-tahun belakangan, saya mulai merasa… kita ini seperti rumah besar yang kadang gaduh di dalam. Ada yang merasa paling berhak atas ruang tengah. Ada yang ingin memagar kamar orang lain. Tapi anehnya, semua tetap makan dari dapur yang sama: Indonesia.
Saya jadi teringat obrolan dengan seorang tukang becak saat main di Jogja tahun 2017. Waktu itu sedang ramai-ramainya slogan: “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Waktu itu saya tanya, “Pak, menurut panjenengan, Pancasila itu masih penting enggak?” Beliau menjawab santai, sambil menyalakan rokok klobot: “Lho, nek ora penting, piye bisa kita iso urip rukun ngene?”
Jawaban sederhana, tapi nyentil. Kadang suara rakyat lebih jernih daripada debat seminar. Mereka tidak terlalu ribet soal ideologi. Tapi mereka paham arti hidup berdampingan. Dan itulah sejatinya Pancasila: bukan hafalan, tapi pergaulan dan penghayatan.
Saya khawatir, Pancasila mulai diposisikan seolah lawan agama. Pancasila vis a vis Agama. Seolah ia ide barat yang datang tanpa akhlak. Padahal, sila pertama saja sudah menjamin bahwa fondasi kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Pertanyaannya: benarkah kita hidup seturut itu? Atau hanya menggenggamnya di pidato dan upacara?
Saya tidak sedang sok tahu. Saya juga sedang belajar. Tapi saya percaya, agama sejati mestinya mendorong kita memperlakukan sesama sebagai ciptaan Tuhan, bukan rival ideologis. Justru Pancasila menjaga agar iman tak berubah jadi alat gebuk orang lain.
Pernah saya saksikan, seorang ibu yang berbeda agama ikut bersih-bersih masjid setelah Lebaran. Tak ada yang menyuruh. Ia cuma bilang, “Saya ingin bantu karena ini kampung saya juga.” Saya terdiam. Dalam hati saya berkata: ibu ini lebih Pancasilais daripada banyak orang yang teriak soal “NKRI harga mati.”
Kita sering terjebak pada simbol. Sibuk urus baliho, tapi lupa urus hati. Lupa bahwa keadilan sosial, misalnya, tak akan lahir hanya dengan slogan atau tagar. Ia tumbuh dari keberanian mendahulukan yang lemah, meski tak selalu menguntungkan kita secara pribadi.

Refleksi Hari Lahir Pancasila tahun 2025 ini mengajak kita bertanya: sudahkah kita hidup dalam nilai-nilainya? Atau sekadar menuntut orang lain hidup menurut tafsir kita?
Saya pun tak luput dari cela. Kadang tersulut emosi, kadang su’udzon duluan. Tapi setiap kali saya melihat anak-anak saya bermain bersama teman-temannya yang berbeda latar, saya malu sendiri. Mereka lebih Pancasilais tanpa mereka sadari. Mereka tak peduli siapa dari mana, yang penting mainnya seru dan bisa gantian.
Kita bisa belajar banyak dari anak-anak, dari tukang becak, dari ibu tetangga yang diam-diam saling bersikap menolong. Kita hanya perlu hati yang terbuka dan telinga yang tidak sibuk membantah. Kalau tidak, kita akan terus sibuk mempertahankan “kebenaran” sendiri dan lupa membangun kebaikan bersama.
Hari ini, saat waktu jelang Idul Adha, saya ingin berkurban—bukan kambing, bukan sapi. Tapi kebiasaan buruk dalam hati: merasa paling benar, paling suci, paling pantas bicara atas nama Indonesia. Karena negeri ini terlalu besar untuk ditentukan oleh satu tafsir saja.
Mungkin, kita hanya perlu mulai dari hal kecil: menyapa yang berbeda, memeluk yang duka, mendengarkan sebelum menghakimi. Itu cukup. Itu sudah bagian dari menjaga Pancasila.
Selebihnya, biarkan Tuhan yang menilai, bukan kita.
============
*) Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ketua Umum Agerlip PGM Indonesia
Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi
Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi
Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi
Ketua Komisi Bidang Pendidikan ICMI Kota Sukabumi
Litbang, Perpustakaan, Kajian dan Kurikulum DKM Masjid Agung Kota Sukabumi
Ketua FU-Warci (Forum Ukhuwah Islamiyah Warga Ciaul) Kota Sukabumi




