Hikmah

Adab Ilmu dan Kemuliaan Guru

Adab Ilmu dan Kemuliaan Guru

“مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا فَقَدْ صَيَّرَنِي عَبْدًا”

“Barang siapa yang mengajarkan kepadaku satu huruf saja, maka ia telah menjadikanku seorang hamba baginya.”

(Sayyidina Ali karramallāhu wajhah)

Ada kalimat yang tak lekang oleh waktu, keluar dari lisan seorang yang berhati suci — Sayyidina Ali, pintu ilmu Nabi ﷺ. Satu kalimat yang mengguncang kesadaran kita tentang makna adab dan penghormatan terhadap guru. Satu huruf ilmu yang diajarkan, bagi beliau, cukup untuk menundukkan ego dan menjadikan dirinya seolah seorang hamba di hadapan sang guru.

Ungkapan itu tidak hanya berbicara tentang huruf, tetapi tentang cahaya yang mengalir melalui huruf. Karena setiap huruf ilmu adalah percikan dari nur Ilahi. Maka siapa pun yang menjadi perantara datangnya ilmu itu, berhak dihormati sepenuh jiwa. Guru bukan hanya pengajar pengetahuan, melainkan penuntun ruh, pembuka tabir hati, dan penunjuk jalan menuju Tuhan.

Santri memahami makna itu bukan dengan teori, melainkan dengan hidup di dalamnya. Di pesantren, adab bukan pelajaran tambahan — ia adalah napas kehidupan. Seorang santri belajar menundukkan pandangan di hadapan gurunya, menahan lidah dari bantahan, dan membersihkan hati dari keangkuhan. Ia khidmah tanpa pamrih, sebab ia tahu, pelayanan kepada guru adalah jalan menuju keberkahan ilmu.

Ketika santri menyapu halaman pesantren, sesungguhnya ia sedang menyapu kesombongan dari hatinya. Ketika ia duduk di depan guru dengan penuh tenang, sesungguhnya ia sedang menegakkan adab sebelum ilmu. Karena ia sadar, satu tatapan guru yang penuh kasih bisa lebih berharga daripada seribu pelajaran yang dibaca tanpa adab.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādalah: 11)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama di antara kami.” (HR. Ahmad dan al-Hakim)

Ayat dan hadis ini menegaskan bahwa menghormati ahli ilmu bukan sekadar sopan santun sosial, melainkan bagian dari iman. Maka siapa yang menjaga adabnya terhadap guru, sesungguhnya ia sedang menjaga kedekatannya dengan Allah.

Ada perbedaan halus antara santri dan siswa. Siswa menuntut ilmu untuk masa depan, santri menuntut ilmu untuk kehidupan. Siswa mencari nilai di atas kertas, santri mencari nilai di sisi Allah. Siswa belajar dari papan tulis, santri belajar dari wajah gurunya yang bercahaya. Siswa menghormati karena aturan, santri menghormati karena cinta.

Ilmu tanpa adab adalah bara tanpa cahaya. Ia mungkin panas, tapi tak menerangi. Karena itu, para ulama dahulu mendidik muridnya bukan hanya dengan kata, tetapi dengan contoh. Imam Malik berkata, “Kami belajar adab selama dua puluh tahun sebelum kami belajar ilmu selama dua tahun.” Begitu pula para santri di pondok pesantren: mereka tidak hanya mempelajari teks, tapi juga menata hati.

Wahai para penuntut ilmu, tundukkanlah hatimu sebelum engkau angkat pena. Hiasi dirimu dengan khidmah sebelum engkau bicara tentang hikmah. Karena satu huruf yang diajarkan dengan cinta dari guru yang ikhlas, lebih mulia daripada seribu buku yang dibaca tanpa hormat.

Ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu tidak akan menyinari hati yang gelap oleh kesombongan. Maka siapa yang ingin mendapatkan keberkahan ilmu, muliakanlah guru. Siapa yang ingin ilmunya menumbuhkan hikmah, hormatilah orang yang mengajarkannya. Sebab di balik wajah seorang guru, ada cahaya Nabi. Dan di balik cahaya itu, ada sinar ridha Allah yang menjadi tujuan sejati setiap pencari ilmu.

Oleh Wakil Katib Syuriyah PCNU Kota Sukabumi, KH. Rizal Yusup Ramdhan, S.Ag., M.Pd

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button