Mendaki Tangga Langit Bersama Anak : Refleksi Isra Mi’raj
Mendaki Tangga Langit Bersama Anak: Refleksi Isra’ Mi’raj
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Wakil ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi, Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi , Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Sebagai orang tua, saya sering gelisah di malam hari. Saya memikirkan tujuan pendidikan anak-anak saya. Keriuhan sehari-hari sering mengaburkan tujuan utama itu. Pikiran saya lalu tertuju pada kisah Isra’ Mi’raj. Saya melihat sebuah cermin yang jernih bagi pergulatan parenting kita.
Bayangkan Nabi Muhammad SAW pada malam itu. Beliau mengalami tahun kesedihan (‘Am al-Huzn). Beliau kehilangan dua pendukung utamanya, Khadijah dan Abu Thalib. Sebagai orang tua, kita juga mengenal “kesedihan-kesedihan” kecil. Kita menghadapi momen saat anak sakit atau kita sendiri kelelahan. Dalam momen itu, keluarga harus menjadi basis kekuatan utama. Pelukan dan kehadiran kita adalah pondasi cinta yang kokoh. Pondasi ini harus kita bangun sebelum segalanya.
Kemudian, Nabi melakukan Isra’, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Malaikat Jibril membimbing beliau. Di sini terdapat pelajaran parenting yang penting. Kita harus menjadi “Jibril” bagi perjalanan hidup anak-anak kita. Setiap hari, mereka melalui petualangan kecilnya. Peran kita adalah mendampingi, bukan mengendalikan. Kita perlu menjadi tempat singgah yang aman untuk mereka bercerita. Telinga dan hati yang terbuka adalah seni pendampingan yang utama.
Lalu, terjadi Mi’raj, pendakian melalui tujuh langit. Nabi bertemu para nabi di setiap langit. Setiap pertemuan mengajarkan nilai kehidupan yang berbeda. Ini adalah panduan untuk parenting spiritual kita. Iman anak dibangun melalui teladan dan kisah. Kita perlu memperkenalkan sosok-sosok mulia sebagai pahlawan sejati mereka. Di puncak perjalanan, Nabi menerima perintah shalat. Inilah hadiah teragung.
Saya sering merasa gagal pada bagian ini. Kita terkadang lalai dalam “melatih” shalat anak. Kita harus mewariskan kemampuan untuk berdialog dengan Allah. Tugas kita adalah menciptakan pengalaman, bukan sekadar perintah. Shalat berjamaah dan penjelasan maknanya bisa menjadi awal yang baik.
Akhirnya, Nabi pulang dan menyampaikan pelajaran itu. Parenting juga memiliki pola yang sama. Kita harus menyampaikan ilmu dan nilai yang kita punya pada anak. Penyampaian itu harus dilakukan dengan lembut dan konsisten.
Mari kita renungkan. Perjalanan parenting kita adalah miniatur Isra’ Mi’raj. Kita melewati fase kelelahan yang membutuhkan ketahanan. Kita menjalani fase pendampingan dalam petualangan sehari-hari. Kita menapaki fase pendakian spiritual bersama anak.
Kita tidak akan menjadi orang tua yang sempurna. Namun, titik lemah kita bisa menjadi awal pendakian yang indah. Mari mulai dari hal kecil. Tanyakan satu cerita tentang hari mereka. Ajaklah mereka shalat berjamaah dengan ajakan yang lembut. Dari situlah perjalanan spiritual keluarga kita bisa dimulai. Kita menapaki tangga langit, satu hari pada satu waktu.
Wallahu alam



