Bahaya Tersembunyi Pemimpin Narsistik bagi Organisasi dan Masyarakat
Seri ke-17
Bahaya Tersembunyi Pemimpin Narsistik bagi Organisasi dan Masyarakat
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, Peneliti, Pengabdi juga sebagai Dosen Tetap UIN SGD Bandung pada S2 Manajemen Pendidikan Islam Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi dan Dosen Luar Biasa, dan juga pengamat pendidikan.
_____
Kita sering kali hanya menilai seorang pemimpin dari apa yang tampak di depan mata. Dari pidatonya yang penuh percaya diri, dari gestur tubuhnya yang seolah mantap, dari keputusannya yang terlihat tegas. Namun, di balik itu semua ada sesuatu yang tidak selalu kasat mata. Ada penyakit batin yang bisa merusak tidak hanya dirinya, tapi juga organisasi dan masyarakat yang dipimpinnya. Penyakit itu bernama Narcissistic Personality Disorder, atau yang sering disebut NPD.
Al-Qur’an sudah mengingatkan tentang bahaya orang-orang yang hatinya terikat pada kesombongan. Allah berfirman dalam surat Luqman ayat 18: “Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Ayat ini menegaskan bahwa kesombongan bukan hanya soal perasaan dalam hati, tetapi tampak dari cara seseorang memperlakukan orang lain. Seorang pemimpin dengan NPD biasanya memalingkan wajah dari bawahannya, tidak mau mendengarkan, dan berjalan dengan angkuh seolah-olah dunia ada di genggamannya.
Bahaya tersembunyi dari pemimpin narsistik adalah kemampuannya menyembunyikan kelemahannya di balik topeng karisma. Banyak orang terkecoh dengan aura percaya diri seorang pemimpin yang sebenarnya rapuh. Ibn al-Qayyim pernah menulis, “Kebanggaan diri yang berlebihan adalah tanda kelemahan jiwa, bukan kekuatannya.”
Kata-kata ini memberi kita pemahaman bahwa orang yang sibuk meninggikan dirinya justru sedang berusaha menutupi kekosongan di dalam dirinya. Namun sayangnya, organisasi atau masyarakat yang dipimpinnya tidak melihat itu. Yang terlihat adalah ketegasan, kecerdasan berbicara, dan keyakinan diri yang kadang menipu.
Bahaya itu makin besar ketika organisasi mulai bergantung sepenuhnya pada figur pemimpin narsistik. Segala keputusan harus melalui dia. Segala ide harus mendapat persetujuan darinya. Bawahan menjadi takut mengusulkan gagasan karena khawatir dianggap menyaingi.
Padahal Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits riwayat Muslim: “Seorang pemimpin adalah pelayan bagi kaumnya.” Pemimpin sejati melayani, bukan mendominasi. Namun, pemimpin narsistik justru menuntut dilayani. Ia lupa bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan panggung untuk memuaskan diri.
Mari kita lihat bagaimana hal ini bekerja dalam kehidupan nyata. Bayangkan sebuah sekolah yang dipimpin oleh kepala sekolah narsistik. Awalnya, ia terlihat penuh semangat, penuh visi, dan meyakinkan banyak orang. Namun, lama kelamaan semua hal harus berjalan sesuai dengan keinginannya. Guru yang berbeda pendapat dianggap pengkhianat. Siswa yang mengkritik dianggap tidak tahu sopan santun.
Akibatnya, suasana sekolah menjadi penuh ketakutan. Guru tidak berkembang, siswa tidak belajar dalam kebebasan berpikir, dan lembaga pendidikan berubah menjadi ruang yang kaku. Inilah bahaya tersembunyi yang pelan-pelan merusak.
Bahaya lain adalah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Pemimpin narsistik tidak segan menggunakan posisinya untuk menguntungkan diri sendiri. Ia bisa mengangkat orang-orang dekatnya ke posisi strategis meskipun tidak kompeten. Ia bisa meminggirkan mereka yang berpotensi mengancam posisinya.
Padahal Al-Qur’an dalam surat Al-Nisa ayat 58 menegaskan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” NPD membuat seseorang melanggar prinsip amanah dan keadilan. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana menjaga kekuasaan dan citra dirinya.
Selain itu, bahaya pemimpin narsistik juga terlihat dari bagaimana ia membentuk budaya organisasi. Budaya yang lahir bukanlah budaya kolaborasi, melainkan budaya feodal. Semua orang berlomba-lomba menyenangkan atasan. Tidak ada yang berani bicara jujur. Kejujuran menjadi mahal, sementara pencitraan menjadi mata uang utama.
Ulama sufi pernah berkata, “Tidak ada yang lebih berbahaya bagi manusia daripada cinta berlebihan pada pujian.” Kata-kata ini terasa sekali kebenarannya dalam organisasi yang dipimpin oleh orang narsistik.
Kita juga perlu menyadari bahwa bahaya itu bukan hanya bagi organisasi, tapi juga masyarakat luas. Seorang pemimpin publik dengan NPD bisa membawa bencana sosial. Ia bisa membuat kebijakan hanya untuk meningkatkan popularitasnya, bukan untuk kebaikan masyarakat. Ia bisa mengabaikan kritik media dengan alasan menjaga stabilitas. Ia bisa mengutamakan proyek-proyek yang membuat namanya harum, meski dampaknya kecil bagi rakyat.
Sementara, masalah nyata seperti kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan diabaikan. Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam hadits riwayat Bukhari: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” Pemimpin narsistik cenderung jatuh pada kategori kedua.
Bahaya berikutnya adalah rusaknya mental masyarakat. Ketika masyarakat terlalu lama hidup di bawah pemimpin narsistik, mereka belajar untuk ikut narsistik. Mereka terbiasa untuk tidak jujur, untuk selalu menjaga pencitraan, untuk hanya mengatakan apa yang disukai atasan. Dalam jangka panjang, masyarakat kehilangan integritas. Generasi muda belajar bahwa sukses berarti pandai mengambil muka, bukan berjuang dengan kerja keras. Inilah kerusakan yang tidak langsung terlihat, tapi dampaknya panjang.
Sebenarnya, jika kita mau jujur, setiap kita punya bibit narsisme. Kita semua senang dipuji, tidak nyaman dikritik. Namun, Al-Qur’an sudah mengingatkan dalam surat Al-Furqan ayat 63: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina, mereka mengucapkan ‘salam’.” Ayat ini adalah kunci untuk melawan sifat narsistik. Rendah hati dan sabar menghadapi kritik adalah benteng agar tidak jatuh pada penyakit NPD.
Lalu apa yang bisa dilakukan? Pertama, organisasi perlu membangun sistem yang sehat. Jangan bergantung pada satu orang. Bangun mekanisme check and balance. Kedua, masyarakat perlu berani bersuara. Jangan biarkan pemimpin narsistik melanggengkan kekuasaan tanpa kritik. Ketiga, setiap individu perlu berlatih rendah hati. Imam Al-Ghazali menulis, “Jalan menuju Tuhan adalah merendahkan diri di hadapan makhluk-Nya.” Jika pemimpin bisa belajar merendah, banyak masalah bisa dihindari.
Namun, kita juga tidak boleh sekadar menyalahkan pemimpin narsistik. Mereka juga manusia yang sakit, yang perlu ditolong. NPD adalah gangguan kepribadian yang bisa lahir dari masa lalu yang penuh luka, dari kebutuhan untuk diakui yang tidak terpenuhi. Maka, bahaya tersembunyi ini hanya bisa kita atasi dengan membangun kepemimpinan yang sehat, budaya organisasi yang jujur, dan masyarakat yang kritis.
Pemimpin narsistik mungkin tampak gagah di luar, tetapi rapuh di dalam. Ia mungkin memimpin organisasi atau negara, tetapi sesungguhnya ia adalah tawanan dari egonya sendiri. Kita perlu waspada, bukan hanya agar organisasi tidak rusak, tetapi agar jiwa kita sendiri tidak ikut tercemar. Karena sesungguhnya, kepemimpinan adalah amanah yang kelak akan ditanya oleh Allah. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” Inilah yang harus selalu kita ingat.
Bahaya tersembunyi dari pemimpin narsistik adalah bahaya yang merayap pelan. Ia tidak langsung tampak, tapi dampaknya luas. Ia merusak organisasi, menghancurkan masyarakat, dan mencemari budaya. Maka, tugas kita bukan hanya mengkritik, tetapi juga membangun alternatif kepemimpinan yang rendah hati, melayani, dan mengutamakan kebaikan bersama. Itulah jalan yang diajarkan Islam, itulah warisan Rasulullah, dan itulah yang perlu kita perjuangkan bersama.




