Kolom

Organisasi Yang Tak Lagi Mendidik

Seri ke 12

Organisasi yang Tak Lagi Mendidik

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, Peneliti, Pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi dan pengamat pendidikan.

—000—

Di sebuah organisasi, seorang pengurus muda berkata, “Kami sudah capek ikut rapat, tapi tidak merasa berkembang. Seperti masuk ruang kosong yang penuh suara, tapi tak membawa apa-apa keluar.” Saya tersenyum. “Itu bukan ruang kosong, Nak. Itu ruang yang sudah dipenuhi ego, hingga ilmu tak bisa masuk.”

Organisasi idealnya seperti sekolah. Bukan hanya tempat bekerja, tapi juga tempat belajar. Di sana orang tumbuh. Yang muda belajar dari yang tua. Yang tua terbuka pada semangat baru dari yang muda. Tapi jika organisasi hanya jadi tempat perintah dan pelaksanaan, hanya ada bos dan bawahan, bukan guru dan murid, maka berhentilah ia menjadi tempat pendidikan.

Kang Jalal pernah bercerita, “Di pesantren, kiai lebih banyak diam saat santri berbicara. Karena ia tahu, santri sedang bertumbuh. Bukan karena santrinya lebih tahu, tapi karena sang kiai memberi ruang.” Organisasi yang mendidik bukan organisasi yang penuh instruksi, tapi yang memberi ruang untuk salah, dan kemudian belajar.

Ketika organisasi kehilangan semangat mendidik, ia berubah menjadi birokrasi kaku. Yang muda diminta taat, bukan kritis. Yang lama merasa paling tahu, bukan paling terbuka. Maka jadilah organisasi itu tempat orang saling menunggu: yang atas menunggu pujian, yang bawah menunggu giliran keluar.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut kaum yang “tidak menggunakan akalnya” sebagai kaum yang sesat. “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami…” (QS. Al-A’raf: 179). Ayat ini bukan hanya bicara tentang orang kafir, tapi juga tentang kita yang membiarkan diri berjalan tanpa berpikir, dalam organisasi yang lupa mendidik.

Ada seorang tokoh bijak berkata, “Tujuan organisasi bukan hanya menghasilkan kinerja, tapi juga menciptakan manusia yang lebih baik.” Maka kita harus bertanya: apakah organisasi ini membuat kita lebih peduli? Lebih berpikir? Lebih jujur? Atau justru lebih licik dan lebih takut berkata benar?

Saya pernah melihat rapat yang isinya hanya evaluasi dan omelan. Tak ada satu pun kalimat apresiasi. Tak ada satu pun ajakan berpikir bersama. Semua hanya soal target, angka, dan perintah. Saya bilang, “Kalau organisasi ini manusia, mungkin dia sudah sakit jiwa karena tidak pernah diajak bicara dari hati ke hati.”

Kang Jalal dalam salah satu kuliahnya bilang, “Kalau kamu merasa makin bodoh setelah ikut organisasi, maka berhentilah. Atau bikin organisasi baru yang lebih memanusiakan.” Karena tujuan ilmu bukan memperbanyak hafalan, tapi memperdalam kemanusiaan. Dan organisasi harus menjadi kawah candradimuka bagi jiwa-jiwa yang ingin matang.

Dalam hadis Nabi ﷺ, kita diajarkan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Maka seharusnya, organisasi melahirkan manusia-manusia yang membawa manfaat, bukan sekadar manusia yang bisa bicara di depan, tapi tidak sanggup mendengar yang duduk di belakang.

Kalau dalam satu organisasi, kritik dianggap ancaman, perbedaan dianggap gangguan, dan ketaatan dianggap ukuran prestasi, maka organisasi itu tidak lagi mendidik. Ia hanya mengatur. Ia hanya menggiring. Bukan memimpin, apalagi membimbing.

Padahal, dalam Islam, kepemimpinan itu juga pendidikan. Rasulullah ﷺ membangun generasi yang sanggup berdialog, bukan sekadar berkata “siap.” Beliau membuka ruang tanya, bahkan saat perang. Beliau mendengar, meski beliau bisa saja langsung memutuskan. Karena pemimpin bukan yang paling banyak bicara, tapi yang paling banyak mendengarkan.

Mari kita jaga organisasi kita tetap menjadi ruang belajar. Belajar berpikir. Belajar mendengar. Belajar tumbuh. Karena kalau organisasi hanya mengejar hasil, tapi kehilangan proses belajar, ia mungkin bisa sukses di laporan, tapi gagal dalam membentuk manusia. Dan di situlah kita mulai kehilangan makna.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button