Meneguhkan Komitmen Beribadah Qurban
Oleh:
Dr. H. Mulyawan Safwandy Nugraha, M.Ag., M.Pd
Saya punya sahabat lama bernama Cipta. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengemudi ojek online. Penghasilannya tidak besar, kadang pas-pasan, apalagi kalau musim hujan. Tapi satu hal yang selalu saya kagumi dari Cipta: setiap Iduladha, ia selalu berusaha berkurban. Kalau bukan kambing sendiri, ya patungan berdua atau bertiga. Tapi semangatnya untuk tetap bisa memberi, meski dalam keterbatasan, sungguh luar biasa.
Dari Cipta saya belajar, bahwa berkurban bukan soal berapa besar penghasilan kita, tapi seberapa besar niat kita. Cipta mulai menabung dari awal tahun, bahkan dari bulan Muharram. Ia sisihkan uang lima ribu, sepuluh ribu, kadang dititip ke istrinya supaya tidak tergoda dipakai. Ia tidak merokok, tidak jajan kopi mahal, dan tidak terlalu peduli tren HP baru. Fokusnya cuma satu: bisa berkurban tahun ini.
Saya sendiri awalnya malu hati. Gaji saya jelas lebih besar dari Cipta. Tapi dia yang sudah kurban dua tahun berturut-turut. Saya? Sibuk mikirin cicilan, belanja online, dan rencana liburan akhir tahun. Lucunya, untuk keperluan konsumtif saya sanggup, tapi untuk kurban selalu saya tunda-tunda dengan alasan “belum cukup.”
Kadang kita terlalu pandai mencari alasan. Kita bilang belum rezeki, belum waktu, belum ada dana. Padahal untuk ngopi tiap minggu, nonton bioskop sebulan dua kali, bahkan beli barang yang sebenarnya tidak perlu, kita sanggup. Tapi giliran bicara soal kurban, kita jadi pelit dengan diri sendiri—dan dengan Tuhan.

Saya juga pernah begitu. Selalu berkata, “Tahun depan, insyaAllah.” Tapi tahun berganti dan saya tetap hanya bicara. Sampai suatu malam saya termenung, bertanya pada diri sendiri, “Sebenarnya aku ini sedang menunggu apa?” Waktu itu hidup sedang baik-baik saja. Tapi niat saya untuk berkurban selalu kalah oleh keinginan yang lain.
Lucunya, istri saya justru lebih dulu menunjukkan teladan. Diam-diam dia menabung sendiri untuk membeli kambing. Tahun lalu, dia datang ke masjid dengan senyum bangga, menyerahkan hewan kurban atas nama dirinya sendiri. Saya bangga, tentu saja. Tapi juga tertampar. Ternyata dia lebih siap dari saya, baik secara hati maupun komitmen.
Berkurban memang bukan semata soal memotong hewan. Tapi lebih dalam dari itu, ini tentang memotong ego, rasa kepemilikan, dan belajar ikhlas seperti Nabi Ibrahim. Kita menguji hati sendiri: apakah kita sungguh mencintai Allah, atau masih terlalu mencintai harta?
Saya juga kenal seorang pemulung yang tinggal di gang sempit dekat rumah. Ia dan istrinya menabung selama dua tahun hanya untuk bisa membeli seekor kambing kecil. Mereka tak pernah malu, justru bangga bisa ikut berbagi. Saya iri—tapi dalam arti positif. Mereka tidak menunggu mapan, mereka mulai dari niat dan konsistensi.
Lucunya, banyak dari kita sanggup beli skincare ratusan ribu, sanggup perpanjang langganan streaming tiap bulan, dan rajin upgrade gadget. Tapi untuk kurban, kita sering bilang, “Nanti kalau ada lebih.” Padahal berkurban hanya sekali dalam setahun, dan manfaatnya jauh lebih dalam.
Kita tidak perlu menunggu mampu untuk berkurban. Tidak harus sapi satu ekor. Bisa dimulai dengan kambing, atau patungan. Yang penting adalah niat yang konsisten dan komitmen yang terus dijaga. Rezeki akan selalu mengikuti, selama niatnya baik.
Idul Adha bukan sekadar hari potong hewan atau bagi-bagi daging. Ia adalah momen muhasabah, refleksi: apakah kita sudah menjadi pribadi yang rela berbagi? Atau masih sibuk menghitung-hitung untung rugi? Semua pilihan itu sebenarnya ada di dalam hati masing-masing.
Kalau kita belum bisa berhaji, setidaknya kita bisa umroh. Kalau belum juga mampu umroh, maka berkurbanlah.
Tapi jika untuk berkurban pun kita selalu cari alasan… mungkin kita perlu bercermin lebih dalam. Jangan sampai kita kalah niat dari orang-orang yang jauh lebih sederhana dari kita.
≠=======================
*) Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Ketua Umum Agerlip PGM Indonesia.
Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi.
Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi
Ketua Komisi Pendidikan ICMI Kota Sukabumi.
Ketua FU Warci (Forum Ukhuwah Islamiyah Warga Ciaul) Kota Sukabumi




