Ketika Rapat Hanya Jadi Panggung Pemimpin
Seri ke-10
Ketika Rapat Hanya Jadi Panggung Pemimpin

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Penulis merupakan praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, peneliti, pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi, dan pengamat pendidikan. Di NU, saat ini berkhidmat di PCNU Kota Sukabumi sebagai salah satu Wakil Ketua Tanfidziyah.
============000============
Saya pernah ikut rapat yang lebih mirip acara monolog. Sejak pembukaan sampai penutupan, hanya satu orang yang bicara: ketuanya. Yang lain hanya manggut-manggut, sesekali tepuk tangan, sesekali cek jam tangan. Rapat itu bukan forum, tapi panggung. Yang hadir bukan peserta, tapi penonton.
Rapat idealnya ruang tukar pikiran. Tapi kalau isinya cuma ceramah satu arah, itu namanya bukan musyawarah, tapi khotbah. Apalagi kalau diselingi slide penuh foto kegiatan pemimpin, kutipan motivasi dari dirinya sendiri, lalu ditutup dengan kalimat, “Saya rasa ini sudah cukup jelas.” Ya, jelas sekali siapa yang paling ingin dipuji.
Kadang, di awal rapat ada agenda: pembahasan program. Tapi ujung-ujungnya jadi pembahasan prestasi pribadi. Dari “kita perlu strategi tim,” pelan-pelan berubah jadi, “Sejak saya memimpin, kita mengalami banyak kemajuan…” dan seterusnya. Yang seharusnya jadi rapat malah berubah jadi testimoni tidak resmi.
Saya teringat Gus Dur pernah bilang, “Kadang orang terlalu lama bicara karena takut orang lain menyela dan bilang: ‘Itu omong kosong’.” Maka daripada dipotong, lebih baik kuasai rapat sejak awal. Tidak perlu kasih jeda, tidak perlu kasih waktu tanya-jawab. Kalau perlu, semua pertanyaan dijawab nanti via email. Yang tidak dibalas, berarti tidak penting.
Banyak pemimpin takut dengan keheningan dalam rapat. Padahal justru dari diam orang lain, kita bisa tahu siapa yang berpikir dan siapa yang tertindas. Tapi karena takut dianggap tidak tegas, pemimpin sering merasa perlu bicara terus. Lupa bahwa kepemimpinan juga soal mendengarkan, bukan soal dominasi frekuensi suara.
Saya punya kenalan yang bilang, “Kalau saya rapat, saya siapkan dulu jokes dan analogi keren, biar terlihat inspiratif.” Ya, itu bagus kalau rapatnya podcast. Tapi kalau semua peserta butuh keputusan yang konkret, sebaiknya inspirasi diganti dengan koordinasi. Kadang, kata paling efektif dalam rapat bukan “visi”, tapi “ya atau tidak”.

Rapat yang sehat adalah ruang tempat suara minoritas juga didengar. Tapi kalau yang bicara hanya pemimpin dan kroninya, itu bukan rapat. Itu briefing satu arah. Lalu, kalau ada yang kritik, langsung dikoreksi: “Tolong sampaikan di jalur yang tepat.” Pertanyaannya, jalurnya ke mana? Ke laci meja?
Gus Dur dulu memimpin dengan cara yang sangat cair. Kadang rapat malah berlangsung di meja makan, diselingi tawa dan cerita. Tapi isinya padat. Karena di sanalah diskusi yang jujur bisa tumbuh. Tidak semua harus formal. Tapi kalau formalisasi malah membunuh substansi, lebih baik rapat dibubarkan dan diganti forum arisan.
Seringkali, orang-orang malas rapat bukan karena sibuk. Tapi karena tahu, suaranya tak akan dianggap. Ia hadir bukan untuk menyumbang gagasan, tapi untuk memenuhi daftar absensi. Dalam jangka panjang, ini membuat organisasi kehilangan daya hidup. Orang akan bekerja secara mekanis, tanpa hati.
Kalau dalam satu organisasi hanya ada satu suara yang dianggap penting, maka bisa dipastikan organisasi itu sedang tidak sehat. Rapat jadi ritual kosong, semacam teater kepatuhan. Pemimpin mungkin puas, tapi tim makin frustrasi. Karena keputusan yang lahir bukan hasil musyawarah, tapi hasil “monolog internal” sang ketua.
Rapat bukan ruang selfie kepemimpinan. Rapat adalah tempat bertanya, “Siapa yang belum bicara?”, “Siapa yang tidak setuju?”, dan “Apa yang bisa kita ubah bersama?” Kalau semua sudah sepakat sejak awal karena tak enak hati, maka itu bukan kesepakatan—itu kompromi diam-diam agar cepat pulang.
Jadi, kalau Anda pemimpin dan merasa bangga karena semua rapat berjalan mulus tanpa suara sumbang, jangan senang dulu. Bisa jadi, yang hadir sudah berhenti berharap. Dan kalau sudah begitu, percayalah: organisasi sedang pelan-pelan berubah dari tempat kerja menjadi panggung pertunjukan. Yang tampil satu orang, yang bosan semuanya.
—000—




