Kolom

Kepemimpinan Atau Kultus Individu?

Seri ke-6

Kepemimpinan atau Kultus Individu?

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Kalau pemimpin itu kayak tukang masak, maka rakyat itu ya yang makan. Tapi kalau yang masak malah sibuk pamer bumbu dan gaya motong bawang, lupa urusan rasa, ya sudah, warungnya lama-lama sepi. Banyak pemimpin hari ini lebih sibuk nyari tepuk tangan ketimbang mikirin rasa lapar orang yang dipimpinnya.

Kita ini kadang salah paham. Kita kira pemimpin itu harus hebat, gagah, kharismatik, bahkan suci. Kita enggak sadar, kalau terus begitu, kita lagi bangun panggung buat jadiin dia berhala. Bukan pemimpin, tapi simbol. Bukan pemimpin, tapi tokoh khayalan yang gak boleh dikritik, gak boleh salah. Nah lho, itu bukan kepemimpinan. Itu kultus individu.

Lha gimana enggak? Tiap pemimpin naik, langsung dibuatkan lagu. Muncul slogan, tempel foto segede gaban. Orang-orang berlomba puji-puji. Media ikut bersorak. Yang berani ngomong beda dikira pengkhianat. Padahal ya biasa aja. Dia manusia. Bisa benar, bisa salah. Bisa mulia, bisa gelap juga. Sama kayak kita.

Nabi Muhammad ﷺ aja gak minta begitu. Beliau tidak pernah minta disucikan. Malah berkali-kali ingatkan, “Aku hanyalah manusia seperti kalian, hanya saja aku diberi wahyu.” (QS. Al-Kahfi: 110). Lah kita? Baru pegang jabatan dua tahun, sudah pengin semua diam kalau dia bicara. Padahal omongannya kadang kosong kayak drum bekas.

Cak Nun pernah bilang, “Kalau pemimpin merasa paling tahu, paling bener, paling layak dipuja, maka jangan-jangan dia cuma kangen ibunya waktu kecil.” Lucu, tapi juga sedih. Karena ternyata banyak orang pakai posisi buat nyembuhin luka batin. Jabatan jadi alat untuk dapat cinta yang dulu hilang. Jadi pemimpin, tapi niatnya pengen disayang, bukan pengen melayani.

Dalam sejarah, banyak raja dan diktator jatuh karena kelamaan main cermin. Ia terlalu sibuk lihat wajah sendiri, sampai lupa melihat rakyat. Ia minta tepuk tangan terus, padahal panggungnya udah kosong. Ia marah kalau ada yang mengkritik, padahal yang ngingetin itu justru yang paling peduli.

Kalau pemimpin normal, dia butuh tim. Tapi kalau kultus, dia butuh fans. Orang-orang di sekitarnya bukan untuk kerja, tapi untuk mengiyakan. Bukan untuk menyumbang ide, tapi untuk memuji. Maka hilanglah diskusi, yang tersisa hanya tepuk tangan yang dibuat-buat.

Kita perlu bedakan antara hormat dan pemujaan. Hormat itu sadar batas, tahu posisi. Tapi pemujaan itu menyerah total, mematikan akal, dan membutakan mata. Jangan-jangan kita ini bukan rakyat, tapi penggemar. Bukan bagian dari bangsa, tapi penonton konser yang tiap lima tahun ganti idola.

Di negeri ini, kadang pemimpin diangkat setinggi langit hanya supaya kita punya alasan kalau gagal. “Lho, itu salah pemimpin.” Tapi begitu dia turun atau jatuh, kita buang seolah tak pernah ada. Kita terlalu gampang mengagungkan, dan terlalu cepat melupakan. Seakan-akan kita tak pernah belajar dari sejarah.

Kepemimpinan sejati itu bukan soal posisi di atas. Tapi soal siapa yang siap menanggung beban bersama. Siapa yang duduk paling akhir saat makan, tapi berdiri paling dulu saat kerja. Pemimpin itu bukan dewa, bukan poster, bukan slogan. Dia manusia yang harus terus belajar, terus mendengar, dan terus melayani.

Kalau Anda jadi pemimpin, jangan mau dipuja. Mending dicaci tapi benar, daripada dipuji tapi bikin rusak. Dan kalau kau rakyat, jangan gampang silau. Ukur pemimpin bukan dari wajahnya, suaranya, apalagi kontennya di media sosial. Tapi dari seberapa dia hadir ketika kau butuh keadilan.

Mari kita doakan negeri ini agar tidak sibuk cari tokoh buat disembah, tapi menemukan pemimpin yang bisa diajak bekerja sama. Yang enggak perlu dilambung-lambungkan, tapi tahu jalan turun ke kampung-kampung. Karena negeri ini terlalu besar untuk diserahkan pada satu orang, dan terlalu mahal untuk ditukar dengan citra.

——————-
*) Penulis adalah Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang melakukan pengabdian sebagai:
– Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia
– Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi
– Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi
– Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi
– Ketua Komisi Bidang Pendidikan ICMI Kota Sukabumi
– Anggota Litbang, Perpustakaan, Kajian dan Kurikulum DKM Masjid Agung Kota Sukabumi
– Ketua FU-Warci (Forum Ukhuwah Islamiyah Warga Ciaul) Kota Sukabumi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button