Kolom

Ketika Pemimpin Terlalu Sibuk Memuja Diri: Membaca Gejala NPD dalam Kepemimpinan

Sesi 16

Ketika Pemimpin Terlalu Sibuk Memuja Diri: Membaca Gejala NPD dalam Kepemimpinan

Oleh:
Mulyawan Safwandy Nugraha

Kita sering mendengar istilah pemimpin, tapi jarang kita duduk sebentar untuk menimbang: pemimpin itu untuk siapa? Ada pemimpin yang menempatkan dirinya sebagai pelayan rakyat, dan ada pula yang menempatkan rakyat sebagai penonton dari panggungnya sendiri. Pemimpin jenis kedua ini yang berbahaya, karena yang ia pimpin bukan manusia, melainkan bayangan dirinya di cermin. Ia hidup untuk mengagumi dirinya sendiri, mengumpulkan pujian, dan menolak kritik. Dalam ilmu psikologi, sikap semacam ini disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD). Namun dalam bahasa iman, kita menyebutnya penyakit hati, yakni kesombongan.

Allah sudah menyinggung hal ini dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37). Ayat ini sederhana, tetapi dalam. Pemimpin yang terjangkit narsisme biasanya berjalan bukan dengan kakinya, melainkan dengan egonya. Ia merasa bisa menembus batas, padahal ia hanya makhluk yang terbatas. Rakyat menjadi korban dari langkahnya yang arogan.

Kalau kita perhatikan, Nabi Muhammad SAW mencontohkan kepemimpinan yang sangat kontras. Beliau adalah orang yang paling rendah hati. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah duduk bersama sahabat-sahabatnya hingga orang luar sulit membedakan mana Nabi dan mana orang biasa. Beliau tidak membiarkan dirinya dipisahkan dengan kursi yang tinggi atau pagar yang mewah. Sementara pemimpin narsistik justru membangun tembok citra agar ia tampak lebih agung. Rakyat tidak boleh terlalu dekat, kecuali untuk memuji.

Rasulullah juga bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim). Jika kesombongan sekecil biji sawi saja bisa menghalangi surga, bagaimana dengan pemimpin yang setiap hari mengunyah kesombongan dalam pidatonya? Pemimpin yang merasa paling benar, paling pintar, dan paling berjasa, padahal jasanya sering ditopang keringat banyak orang. Di sinilah bahayanya NPD: pemimpin kehilangan rasa butuh pada orang lain. Padahal kepemimpinan tanpa mendengar bawahan hanya akan berputar di lingkaran egonya sendiri.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis: “Kesombongan adalah penyakit yang menutup pintu hati dari menerima kebenaran.” Kata-kata ini menjelaskan mengapa pemimpin narsistik sulit berubah. Hatinya terkunci oleh pujian yang ia dengar setiap hari. Kritik dianggap hinaan. Nasihat dianggap serangan. Bahkan kebenaran pun disaring melalui kepentingannya sendiri. Sehingga keputusan-keputusan yang lahir bukan lagi demi rakyat, melainkan demi mempertahankan citra.

Kalau kita mau jujur, penyakit narsisme pemimpin ini sering kali tumbuh karena rakyat juga memberi pupuknya. Kita mudah terpesona oleh pidato yang bombastis, wajah yang karismatik, atau gaya bicara yang meyakinkan. Kita salah menafsirkan karisma sebagai kepemimpinan, padahal karisma bisa juga hanya topeng. Dalam psikologi, ini disebut charm offensive, pesona yang digunakan untuk mengendalikan orang lain. Rakyat memberi tepuk tangan, media memoles citra, hingga akhirnya pemimpin benar-benar percaya bahwa dirinya tanpa cela.

Fenomena ini sangat berbahaya di era media sosial. Pemimpin narsistik menemukan panggung baru yang lebih luas. Setiap unggahan di akun pribadinya adalah cermin raksasa. Ia tidak sedang berbicara kepada rakyat, melainkan kepada dirinya sendiri yang ingin dipuja. Statistik like dan share lebih penting daripada kesejahteraan masyarakat. Rakyat pun perlahan digiring untuk menjadi audiens pasif yang hanya menonton drama kepemimpinan. Akhirnya, politik berubah jadi pertunjukan, bukan pelayanan.

Mari kita bandingkan dengan Rasulullah SAW. Ketika Perang Uhud berakhir dengan kekalahan, banyak sahabat menyampaikan kritik dan evaluasi. Nabi tidak marah. Beliau mendengarkan dengan tenang, bahkan menyalahkan dirinya sendiri lebih dulu. Bandingkan dengan pemimpin narsistik yang alergi kritik. Bukan hanya menolak, kadang ia mengasingkan bahkan menghukum orang yang berani mengingatkannya. Inilah gejala NPD: kesombongan yang menutup pintu dialog.

Al-Qur’an menyebutkan kisah Fir’aun, salah satu contoh pemimpin paling narsistik dalam sejarah. Fir’aun berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24). Inilah puncak narsisme politik. Fir’aun tidak sekadar memimpin, ia ingin dipuja sebagai ilah. Sejarah menunjukkan bagaimana rakyat akhirnya menderita, dan Fir’aun sendiri tenggelam dalam kesombongannya. Kisah ini bukan dongeng masa lalu, melainkan cermin untuk kita. Jika pemimpin sibuk memuja diri, jalan akhirnya selalu kehancuran.

Kalau kita perhatikan organisasi, baik lembaga pendidikan, perusahaan, atau negara, pemimpin narsistik meninggalkan jejak yang sama: budaya ketakutan. Semua orang takut salah, takut mengkritik, takut berbeda pendapat. Mereka memilih diam, asal selamat. Organisasi menjadi miskin inovasi karena hanya ada satu suara: suara pemimpin. Padahal Al-Qur’an menekankan musyawarah: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38). Musyawarah adalah obat dari kepemimpinan narsistik.

Namun musyawarah hanya mungkin jika pemimpin rendah hati. Sayangnya, NPD justru membuat pemimpin merasa musyawarah itu ancaman. Ia takut suaranya kalah. Ia takut ide orang lain lebih bagus. Akhirnya musyawarah hanya formalitas. Pemimpin mendengar, tapi tidak menyimak. Ia tampak demokratis, tapi keputusannya sudah ia tentukan sendiri sebelumnya. Inilah bentuk manipulasi yang sering tak kita sadari.

Kita sering lupa bahwa kepemimpinan dalam Islam bukanlah kemewahan, tetapi amanah. Nabi SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Amanah berarti tanggung jawab, bukan kesempatan untuk dipuja. Pemimpin narsistik gagal memahami makna ini. Baginya, kepemimpinan adalah mahkota, bukan beban. Ia ingin dihormati, bukan mengabdi.

Para ulama mengingatkan bahwa sifat rendah hati adalah syarat mutlak bagi pemimpin. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Pemimpin yang terbaik adalah yang tidak membiarkan dirinya merasa lebih tinggi daripada rakyatnya.” Kata-kata ini mengandung makna besar. Kepemimpinan bukan untuk meninggi, tetapi untuk merendahkan diri agar bisa mengangkat yang dipimpin. Jika pemimpin terlalu sibuk memuja diri, ia kehilangan kesempatan untuk mengangkat orang lain.

Mari kita bayangkan pemimpin yang setiap pagi bercermin. Ia tidak melihat kerut di wajah rakyatnya, tidak mendengar suara lapar di pintu rumah orang miskin, tidak merasakan penat pekerja di pabrik. Yang ia lihat hanya senyumnya sendiri di kaca. Yang ia dengar hanya tepuk tangan yang ia rekayasa. Yang ia rasakan hanya kenikmatan berkuasa. Pemimpin seperti ini sebenarnya bukan sedang memimpin, melainkan sedang bersembunyi dari kenyataan.

Pemimpin narsistik ibarat seseorang yang haus, tapi ia menolak air. Ia memilih minum dari cermin yang tidak bisa menghapus dahaganya. Setiap hari ia semakin kosong, semakin rapuh, sehingga ia butuh lebih banyak pujian untuk bertahan. Pujian itu baginya seperti candu. Sekali ia dapat, ia ingin lagi. Rakyat pun dipaksa menjadi pemasok candu, meski dengan kebohongan dan kemunafikan.

Jika kita ingin organisasi, bangsa, atau masyarakat sehat, maka kita harus berani membongkar tabir narsisme ini. Kita tidak boleh menjadi penonton pasif. Kita harus kembali ke nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah. Pemimpin bukan untuk dipuja, tapi untuk digandeng bersama. Nabi tidak pernah berdiri terlalu jauh di depan umatnya. Beliau berjalan bersama. Itulah kepemimpinan sejati: berjalan bersama, bukan berjalan sendiri di atas panggung pujian.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button