Kolom

Kritik Sebagai Nafas Organisasi Sehat

Seri ke-9

Kritik sebagai Nafas Organisasi Sehat

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Penulis merupakan praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, peneliti, pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi, dan pengamat pendidikan. Di NU, saat ini berkhidmat di PCNU Kota Sukabumi sebagai salah satu Wakil Ketua Tanfidziyah.

—000—

Saya senang berorganisasi. Karena, butuh ruang untuk berekspresi dan silaturahmi. Dengan organisasi, saya jadi kenal watak, karakter tiap orangnya. Begitupun dengan karakter kepemimpinan seseorang.

Ada yang terbuka dengan kritik. Ada juga yang sebaliknya. Untuk pemimpin yang anti kritik, ini yang menarik dikaji.

Kok bisa tahu Dia anti kritik? Nuduh ya? Enggak kok. Ketahuan dari apa yang dia omong, dan dari apa yang dia sampaikan.

Ia bilang, “Kritik itu mengganggu stabilitas.” Padahal, yang lebih mengganggu justru kalau tak ada yang berani ngomong. Organisasi itu bukan taman bermain ego, tapi tempat berkumpul orang-orang yang punya otak dan mulut.

Kadang saya heran, kenapa pemimpin zaman “now”, kalau dikritik malah marah. Katanya demokratis, katanya terbuka. Tapi giliran ditegur, langsung menyusun pasal-pasal pembelaan diri, seakan-akan sudah turun wahyu kepemimpinan dari langit. Yang kritik dianggap makar. Padahal cuma beda pendapat soal anggaran ATK.

Kritik itu seperti, maaf, orangbyang kentut. Nggak enak memang, tapi kalau ditahan malah bikin sakit perut. Organisasi yang tidak membiasakan diri dikritik akan kembung. Banyak hal busuk tertahan di dalam, tinggal nunggu waktu meledak. Kalau sudah meledak, yang disalahkan bukan yang kentut, tapi yang terlalu lama menahan.

Dalam dunia pesantren, kritik itu bukan hal tabu. Santri boleh tanya apa saja, bahkan kadang tanya hal-hal yang bikin kiai geleng-geleng kepala. Tapi ya itu bagus, jadi tanda hidup. Kalau murid terlalu patuh, jangan-jangan dia tidak berpikir. Dan pemimpin yang takut dikritik, jangan-jangan dia tahu dirinya memang salah, cuma malu mengakuinya.

Orang-orang yang tidak mau dikritik biasanya merasa dirinya paling benar. Tapi kalau semua sudah benar, lalu buat apa kita rapat? Buat apa ada struktur organisasi? Kita bentuk lembaga, bukan untuk tepuk tangan, tapi supaya ada mekanisme kontrol. Kalau semua hanya soal puji-pujian, mending buka lembaga fans club saja.

Saya pernah bilang ke teman: “Kalau organisasi terlalu diam, berarti dua kemungkinan. _Pertama_, semua sudah sempurna. _Kedua_, semua sedang takut.” Dan biasanya, pilihan kedua yang lebih sering terjadi. Pemimpin yang terlalu dominan akan membuat orang-orang di sekitarnya kehilangan nyali untuk bersuara. Mereka memilih diam demi kenyamanan.

Padahal, justru dengan kritik itulah organisasi bisa tumbuh. Kritik adalah vitamin, bukan racun. Tentu, bentuk dan nadanya harus beradab. Tapi isinya jangan dihindari. Jangan baru dikritik satu dua orang, langsung lapor ke pusat, bikin surat peringatan, lalu bawa-bawa nama besar organisasi. Terlalu lebay, kata anak-anak sekarang.

Gus Dur pernah ditanya, “Pak, kenapa Bapak tidak marah dikritik?” Beliau jawab, “Lha, wong kadang yang mengkritik itu benar kok. Masa saya marah pada kebenaran?” Nah, inilah bentuk kerendahan hati yang langka. Kebesaran pemimpin itu bukan pada kehebatannya menjawab kritik, tapi pada kesediaannya mendengarkan dan memperbaiki diri.

Sayangnya, kita kadang lebih sibuk membungkam kritik ketimbang menjawabnya dengan kinerja. Lebih peduli dengan menjaga citra ketimbang memperbaiki cara kerja. Padahal, kalau kerja kita bagus, kritik pun akan jadi bahan bakar. Tapi kalau kerja kita buruk, ya wajar kalau orang ngomel. Masa orang dilarang mengeluh gara-gara nasi di piringnya mentah?

Dalam Islam, kita diajarkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu tanggung jawab bersama. Itu artinya, kita semua punya hak untuk saling mengingatkan. Termasuk mengingatkan pemimpin. Nabi saja pernah dikoreksi oleh sahabat, dan beliau menerima dengan lapang. Masa kita yang baru jadi ketua dua periode sudah merasa maksum?

Organisasi yang sehat bukan yang minim konflik, tapi yang bisa mengelola perbedaan dengan dewasa. Yang tidak takut beda pendapat. Yang tidak langsung membungkam orang karena tak sejalan. Ingat, pemimpin yang takut kritik biasanya tidak yakin dengan keputusannya sendiri. Maka dia butuh diam, bukan karena tenang, tapi karena cemas.

Mari biasakan hidup bersama kritik. Bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menyadarkan. Karena kritik adalah cermin. Kalau wajah kita jelek, jangan salahkan cerminnya. Perbaiki wajahnya. Atau, setidaknya, belajarlah tersenyum agar yang melihat tidak terlalu menderita

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button