Kolom

Larangan Menjadi Pemimpin Yang NPD Dalam Ajaran Islam : Tinjauan Awal

Oleh:

Dr. H. Mulyawan Safwandy Nugraha, M.Ag., M.Pd

Dalam kehidupan modern yang makin hiruk-pikuk ini, kita kadang terlena oleh rupa luar: seseorang yang tampil percaya diri, tegas, dan cakap berbicara sering dianggap pemimpin ideal. Namun, tidak jarang apa yang tampak bukanlah yang sesungguhnya. Di balik citra yang dibangun, bisa tersembunyi wajah kepemimpinan yang rapuh, bahkan membahayakan. Saya ingin mengangkat satu sisi realitas yang sering terabaikan: bagaimana bila pemimpin kita ternyata menderita semacam kelainan kepribadian—Narcissistic Personality Disorder, atau disingkat NPD?

Fenomena ini bukan isapan jempol. Ia hidup dalam ruang-ruang kerja, organisasi, bahkan lembaga-lembaga yang katanya menjunjung nilai luhur. Saya sendiri pernah berada dalam lingkungan kerja yang awalnya saya kira biasa saja. Bos saya tampil karismatik, berbicara fasih, dan tampak meyakinkan. Namun pelan-pelan, saya dan rekan-rekan mulai merasakan sesuatu yang ganjil: semua harus tentang dia. Tidak boleh ada suara yang berbeda. Kritik dianggap pembangkangan, inisiatif dilihat sebagai ancaman. Suasana kerja pun berubah menjadi ladang kecemasan.

Dalam pengalaman saya, satu peristiwa kecil menguatkan kesadaran itu. Saya mengoreksi data yang salah di hadapan klien—sangat sopan, tanpa menyudutkan. Tapi responsnya tajam: “Kamu pikir kamu lebih hebat dari saya?” Seketika saya tersentak. Bukan karena takut, tapi karena sadar, ada yang tidak sehat dalam dinamika ini. Rupanya, harga dirinya begitu rapuh hingga koreksi sederhana terasa sebagai penghinaan.

Sikap seperti itu, jika ditelusuri lebih dalam, sejatinya adalah ekspresi ketakutan yang disamarkan sebagai kekuasaan. Seorang pemimpin sejati tidak takut dikoreksi. Ia justru bersyukur karena itu bentuk kasih sayang. Nabi Muhammad ﷺ sendiri, yang dijamin kebenarannya oleh wahyu, tetap terbuka terhadap masukan sahabat. Dalam satu peristiwa Perang Badar, beliau mengubah strategi setelah mendengar pandangan dari seorang sahabat—ini bukti bahwa kekuatan sejati pemimpin bukan pada ketakutannya terhadap salah, melainkan pada kerendahan hatinya menerima kebenaran, meski datang dari yang dipimpin.

Al-Qur’an memberi peringatan tegas: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36). Dalam konteks kepemimpinan, ayat ini mengandung pesan mendalam: kuasa yang digunakan untuk memupuk pujian dan menindas suara lain adalah bentuk kesombongan spiritual yang nyata. Islam tidak mengenal otoritas mutlak, kecuali milik Tuhan. Maka, pemimpin manusiawi haruslah tunduk pada prinsip keadilan dan kemanusiaan.

Saya teringat sabda Nabi ﷺ: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, menjadi pemimpin bukanlah anugerah kosong. Ia adalah beban yang berat, dan hanya bisa dijalani oleh mereka yang mampu menjaga keseimbangan antara kuasa dan kasih sayang, antara keberanian dan kerendahan hati.

Dalam pengalaman saya, menghadapi pemimpin dengan kecenderungan narsistik adalah ujian spiritual tersendiri. Ia bisa menggerus harga diri, mematahkan semangat, dan melemahkan nalar. Namun, justru dari titik inilah kita ditantang untuk tidak larut dalam kepasrahan. Kita diajak untuk bangkit, mencari ruang aman, membangun kekuatan batin, dan—jika memungkinkan—perlahan keluar dari lingkaran yang menyesakkan itu.

Kita mesti ingat bahwa hidup bukan hanya soal bertahan di ruang yang salah. Ia juga soal menjaga keluhuran diri, sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka…” (QS. Hud: 113). Cenderung di sini bisa berarti diam, membiarkan, atau tidak bersuara. Dan dalam konteks ini, kita diajak untuk menyelamatkan jiwa dari lingkungan yang meracuni batin.

Saya tidak menulis ini dengan niat menyalahkan siapa pun. Saya hanya hendak mengajak merenung: adakah kita, sebagai pemimpin atau yang dipimpin, telah sungguh-sungguh menjadikan nilai-nilai keteladanan Nabi sebagai panduan? Atau jangan-jangan, kita hanya menjadikan Islam sebagai kulit, tanpa menanamkan isinya dalam laku sehari-hari?

Mari kita jaga batin kita. Mari kita perbaiki ruang-ruang sosial yang mulai keropos oleh ego dan haus pujian. Dan mari kita bangun kembali semangat kepemimpinan yang berakar pada cinta, bukan kuasa.

————-+
*) Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ketua Umum Agerlip PGM Indonesia
Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi
Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi
Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi
Ketua Komisi Bidang Pendidikan ICMI Kota Sukabumi
Litbang, Perpustakaan, Kajian dan Kurikulum DKM Masjid Agung Kota Sukabumi
Ketua FU-Warci (Forum Ukhuwah Islamiyah Warga Ciaul) Kota Sukabumi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button