Kolom

Bahaya Pemimpin Yang Tak Bisa Dikritik

Ke-4

Bahaya Pemimpin yang Tak Bisa Dikritik

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dalam sejarah umat manusia, banyak kekuasaan besar runtuh bukan karena serangan luar, tetapi karena kebekuan di dalam. Salah satu sumber kebekuan itu adalah ketika pemimpin mulai merasa suci dan tak tersentuh. Ia menganggap dirinya pemegang kebenaran mutlak. Kritik dianggap ancaman. Yang berbeda pendapat dianggap musuh. Maka lahirlah kepemimpinan yang beku dan menakutkan.

Pemimpin yang antikritik sebenarnya sedang menutup pintu pertumbuhan. Sebab kritik bukanlah serangan pribadi, melainkan cermin sosial. Kritik adalah bentuk cinta dari orang-orang yang peduli. Dalam masyarakat yang sehat, kritik menjadi ruang dialog, bukan sumber permusuhan. Tapi dalam kepemimpinan narsistik, kritik disamakan dengan pengkhianatan.

Dalam sejarah Islam klasik, Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata di mimbar, “Jika kalian melihat aku menyimpang dari jalan Allah dan Rasul-Nya, luruskan aku!” Seorang sahabat berdiri sambil menghunus pedang dan berkata, “Kami akan meluruskan dengan pedang ini!” Dan Umar tidak marah. Beliau justru bersyukur punya umat yang kritis dan berani.

Bandingkan itu dengan sebagian pemimpin hari ini, yang sedikit dikritik langsung tersinggung, membalas dengan sindiran, atau menggunakan kekuasaan untuk membungkam. Dalam konteks ini, kritik bukan hanya tidak dihargai, tapi ditakuti. Pemimpin seperti ini membangun tembok tinggi di sekelilingnya: tembok pujian, bukan jendela dialog.

Cak Nur dalam banyak tulisannya menekankan pentingnya keterbukaan. Menurutnya, masyarakat yang terbuka adalah masyarakat yang mampu merawat perbedaan, termasuk dalam hal pemikiran dan sikap terhadap pemimpin. Sebab dalam keterbukaan, kebenaran tidak dimonopoli oleh satu suara. Ia diuji melalui pertukaran gagasan dan argumen yang sehat.

Ketika pemimpin menolak dikritik, yang berkembang bukan lagi organisasi, melainkan kultus. Para pengikut hanya diperkenankan menyetujui. Yang berbeda didiamkan atau disingkirkan. Dalam waktu singkat, kritik berubah menjadi bisik-bisik. Lama-lama bukan hanya kinerja yang menurun, tapi juga kepercayaan.

Salah satu indikator utama narsisme dalam kepemimpinan adalah sikap anti-kritik. Ia tidak hanya menolak koreksi, tapi juga memelihara orang-orang yang bersedia membenarkan semua tindakannya. Maka yang lahir adalah budaya “asal bapak senang”—suatu kondisi di mana kenyataan disesuaikan agar pemimpin tidak kecewa. Ini bukan hanya tidak sehat, tapi berbahaya.

Dalam masyarakat seperti ini, inovasi mati. Orang menjadi takut mengambil inisiatif. Semua harus menunggu restu. Padahal, kepemimpinan yang baik adalah yang memberi ruang tumbuh, bukan sekadar mengendalikan. Yang mendorong diskusi, bukan menuntut kepatuhan buta.

Ironisnya, pemimpin yang menolak kritik seringkali merasa sedang menjaga wibawa. Padahal justru sebaliknya, wibawa lahir dari kerendahan hati. Dari kesediaan untuk mendengar dan berubah. Dari keberanian mengakui bahwa tidak ada manusia yang bebas dari salah. Karena hanya orang yang percaya diri yang bisa menerima bahwa dirinya mungkin keliru.

Dalam konteks demokrasi, kritik adalah jantung kehidupan publik. Ia bukan pengganggu, melainkan penyeimbang. Pemimpin yang sehat melihat kritik sebagai pengingat. Sebaliknya, pemimpin yang rapuh akan menganggap kritik sebagai serangan terhadap harga dirinya. Ia lupa bahwa jabatan adalah amanah, bukan panggung pengultusan.

Sudah saatnya kita mendidik masyarakat agar tidak hanya mencari pemimpin yang tegas, tetapi juga yang bersedia mendengar. Pemimpin yang bisa berkata, “Saya salah, terima kasih sudah mengingatkan.” Pemimpin yang mengerti bahwa loyalitas sejati bukan diukur dari siapa yang paling sering memuji, tapi dari siapa yang berani berkata jujur ketika ada kekeliruan.

Sebagaimana pernah dikatakan oleh Cak Nur, “Tidak ada masyarakat yang sehat tanpa akal sehat.” Dan akal sehat itu tumbuh dalam suasana yang terbuka, adil, dan penuh keberanian untuk bicara benar, sekalipun kepada penguasa. Maka tugas kita hari ini adalah membangun budaya kritik yang cerdas, bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk merawat kepemimpinan agar tetap waras.

@@@@@@@@@@@@@
*) Penulis adalah Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang melakukan pengabdian sebagai:
– Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia
– Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi
– Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi
– Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi
– Ketua Komisi Bidang Pendidikan ICMI Kota Sukabumi
– Anggota Litbang, Perpustakaan, Kajian dan Kurikulum DKM Masjid Agung Kota Sukabumi
– Ketua FU-Warci (Forum Ukhuwah Islamiyah Warga Ciaul) Kota Sukabumi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button