Kolom

Pemimpin Narsistik: Antara Visi dan Manipulasi

Seri ke-8

Pemimpin Narsistik: Antara Visi dan Manipulasi

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dalam banyak perbincangan tentang kepemimpinan, istilah “visi” seringkali menjadi kata kunci. Seorang pemimpin dianggap kuat jika ia memiliki visi besar untuk membawa organisasinya ke arah kemajuan. Namun, tidak semua “visi” yang dikemukakan bersumber dari niat yang tulus. Dalam beberapa kasus, apa yang disebut visi hanyalah alat manipulasi yang dikemas dengan indah.

Pemimpin yang narsistik sangat piawai dalam menciptakan narasi tentang perubahan dan kemajuan. Ia tampil dengan gagasan yang tampak cemerlang, seolah-olah hanya dia yang memahami arah masa depan. Di sinilah batas tipis antara visi dan manipulasi menjadi kabur. Visi menjadi dalih untuk memusatkan kekuasaan, bukan sebagai panduan kolektif menuju cita-cita bersama.

Cak Nur dalam berbagai tulisannya mengingatkan bahwa inti dari kepemimpinan adalah kejujuran intelektual dan keterbukaan etis. Visi sejati lahir dari kontemplasi yang dalam dan tanggung jawab terhadap umat atau masyarakat. Bukan sekadar wacana retoris yang ditujukan untuk mengamankan posisi atau memoles citra.

Seorang pemimpin yang baik tidak memonopoli tafsir tentang masa depan. Ia membuka ruang diskusi, memperbolehkan tafsir berbeda, bahkan bersedia direvisi. Sebaliknya, pemimpin narsistik merasa bahwa hanya dia yang punya pandangan yang benar. Siapa pun yang tak sejalan akan dianggap menghambat perubahan. Padahal, justru kritik dan koreksi adalah bagian dari proses membangun visi bersama.

Manipulasi dalam kepemimpinan bisa tampak sangat meyakinkan karena dibungkus dengan bahasa moral, nasionalisme, atau bahkan agama. Di sinilah bahayanya. Masyarakat yang tidak kritis akan mudah terpikat oleh retorika yang indah, tanpa menyadari bahwa di baliknya ada agenda pribadi yang terselubung. Maka penting untuk selalu mengedepankan nalar sehat dalam membaca gerak kepemimpinan.

Dalam konteks demokrasi dan masyarakat terbuka, seorang pemimpin harus diuji bukan hanya dari visinya, tapi dari konsistensi moralnya. Apakah ia memberi ruang dialog? Apakah ia membangun struktur yang akuntabel? Apakah visinya memperluas partisipasi, atau justru mempersempitnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting agar kita tidak mudah terkecoh.

Kepemimpinan yang sehat ditandai oleh semangat pelayanan. Pemimpin yang benar-benar memiliki visi tidak merasa perlu terus-menerus menunjukkan kehebatannya. Ia bekerja dalam diam, memperkuat tim, dan membangun sistem yang bisa berjalan tanpa ketergantungan pada dirinya. Visi yang demikian bukan untuk memuliakan pribadi, tetapi untuk memberdayakan masyarakat.

Sebaliknya, pemimpin yang manipulatif akan terus memusatkan perhatian pada dirinya. Ia menciptakan ketergantungan. Semua keputusan penting harus melalui dia. Semua pujian harus ditujukan kepadanya. Dalam jangka panjang, organisasi seperti ini akan kehilangan kemandirian, dan masyarakat kehilangan daya kritisnya.

Cak Nur menyebut pentingnya “etika publik” dalam kepemimpinan. Etika ini bukan sekadar soal moral personal, tetapi lebih dalam: menyangkut tanggung jawab sosial, sikap anti-absolutisme, dan keterbukaan terhadap koreksi. Pemimpin yang etis tidak memanipulasi kepercayaan publik demi keuntungan pribadi, melainkan menjaganya sebagai amanah.

Dalam Islam sendiri, kepemimpinan adalah bentuk khilafah, yakni representasi amanah Allah untuk mewujudkan keadilan, kemaslahatan, dan kemerdekaan berpikir. Maka, setiap bentuk manipulasi atas nama kepemimpinan bertentangan dengan semangat dasar ini. Apalagi jika manipulasi itu merusak kepercayaan publik dan menyebarkan ketakutan dalam organisasi.

Masyarakat yang matang secara intelektual dan spiritual tidak akan mudah terkecoh oleh pemimpin yang hanya pandai berwacana. Mereka akan menilai dari substansi, bukan hanya gaya. Mereka akan membedakan antara pemimpin yang benar-benar membawa visi, dan yang hanya menjual mimpi untuk menutupi kekosongan moral.

Akhirnya, kita perlu terus memelihara kesadaran bersama bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan panggung pencitraan. Visi yang sejati tidak hanya indah diucapkan, tetapi terasa dalam kebijakan. Dan hanya pemimpin yang jujur pada dirinya sendiri, yang mampu membimbing orang lain menuju cita-cita yang lebih besar dari dirinya.

———————————-
*) Penulis adalah Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang melakukan pengabdian sebagai:
– Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia
– Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi
– Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi
– Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi
– Ketua Komisi Bidang Pendidikan ICMI Kota Sukabumi
– Anggota Litbang, Perpustakaan, Kajian dan Kurikulum DKM Masjid Agung Kota Sukabumi
– Ketua FU-Warci (Forum Ukhuwah Islamiyah Warga Ciaul) Kota Sukabumi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button