Pemimpin Narsistik dan Budaya Ketakutan di Lembaga Pendidikan Islam
Seri ke-16
Pemimpin Narsistik dan Budaya Ketakutan di Lembaga Pendidikan Islam
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, peneliti, pengabdi, dan dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung
—
Di banyak lembaga pendidikan Islam, suasana kerja sering tampak tenang di permukaan, tapi menyimpan tekanan di dalam. Guru datang tepat waktu, rapat berjalan tertib, laporan disusun rapi. Namun di balik keteraturan itu, ada sesuatu yang menyesakkan: rasa takut.
Takut mengemukakan pendapat. Takut berbuat salah. Takut berbeda dengan pimpinan. Takut dianggap tidak loyal. Rasa takut itu bukan datang dari aturan, melainkan dari orang. Dari seorang pemimpin yang menjadikan dirinya pusat segalanya. Ia tampak religius, penuh semangat, dan pandai berbicara tentang visi besar pendidikan Islam. Tapi di balik tutur lembutnya, ada dorongan kuat untuk dikagumi dan ditaati tanpa tanya.
Di situlah cikal bakal budaya ketakutan tumbuh.
—
Narsisme di Balik Jubah Kepemimpinan
Pemimpin narsistik di lembaga pendidikan Islam tidak selalu keras atau kasar. Banyak yang tampil santun dan pandai mengutip ayat atau hadis. Ia menggunakan bahasa agama untuk meneguhkan posisinya. Dalam dirinya ada keyakinan bahwa lembaga akan hancur tanpanya. Ia merasa satu-satunya sumber kebenaran dan inspirasi.
Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Dawud).
Namun pemimpin narsistik membalik makna itu. Ia menuntut orang lain melayaninya. Loyalitas diukur bukan dari kerja keras, tapi dari kesediaan memuji dan mengikuti kehendaknya.
Ciri lain yang menonjol, ia tak bisa dikritik. Setiap saran dianggap ancaman. Setiap keberhasilan diklaim sebagai jasanya, sedangkan kegagalan adalah kesalahan orang lain. Dalam rapat, semua diam. Dalam evaluasi, semua mengangguk. Banyak yang ingin bicara, tapi lidah mereka kelu.
—
Budaya Takut yang Menyebar Senyap
Budaya takut tidak muncul dalam semalam. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dibiarkan.
Ketika seorang guru ditegur di depan umum karena berpendapat berbeda, yang lain belajar diam. Ketika staf diabaikan karena memberi masukan, yang lain belajar untuk tidak berinisiatif. Sedikit demi sedikit, lembaga kehilangan keberanian moral.
Akibatnya, kualitas pendidikan stagnan. Guru tidak berani mencoba hal baru. Dosen berhenti meneliti karena takut dianggap “tidak sejalan dengan visi pimpinan”. Santri dan mahasiswa tumbuh dalam budaya yang membungkam. Mereka belajar bahwa taat lebih penting daripada berpikir. Bahwa harmoni semu lebih dihargai daripada kebenaran.
Budaya takut ini ibarat asap yang menyesakkan. Semua orang tetap bekerja, tapi tanpa jiwa. Tetap mengajar, tapi tanpa gairah. Tetap berdoa, tapi tanpa harapan perubahan.
—
Islam Mengajarkan Keberanian Moral
Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah, bukan hak istimewa.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58).
Amanah menuntut kejujuran dan keberanian moral.
Umar bin Khattab pernah berkata, “Tidak ada kebaikan dalam kalian jika kalian tidak mau berkata benar kepada kami, dan tidak ada kebaikan dalam kami jika kami tidak mau mendengar kebenaran dari kalian.”
Pemimpin sejati tidak takut dikritik. Ia justru takut jika semua orang hanya memujinya.
Kang Jalal pernah menulis, “Cinta kepada kekuasaan bisa membuat orang buta terhadap kebenaran.”
Saat pemimpin lebih mencintai wibawanya daripada misi lembaga, ia perlahan menjauh dari nilai Islam itu sendiri.
—
Kekuasaan yang Menular ke Bawah
Pemimpin narsistik menularkan kebiasaannya ke bawah.
Guru yang hidup di bawah tekanan akan meniru gaya yang sama kepada murid. Ia jadi mudah marah, defensif, dan ingin selalu dihormati.
Staf administrasi belajar bahwa yang penting bukan bekerja baik, tapi menyenangkan atasan.
Lama-lama lembaga pendidikan berubah menjadi sistem tanpa nurani. Dari pimpinan sampai siswa, semua sibuk menjaga muka. Tidak ada dialog yang jujur, tidak ada evaluasi yang sehat. Maka jangan heran bila ada lembaga yang tampak religius tapi rapuh. Seperti rumah megah dengan pondasi retak.
—
Mengganti Takut dengan Rasa Aman
Dalam psikologi modern, Amy Edmondson menyebut istilah psychological safety, rasa aman psikologis dalam bekerja. Orang akan berani berinovasi, berpendapat, dan memperbaiki kesalahan jika merasa aman.
Dalam Islam, konsep ini sejalan dengan amanah dan rahmah.
Pemimpin yang berjiwa rahmah menciptakan ruang aman bagi bawahannya untuk tumbuh. Ia menegur dengan kasih, bukan amarah. Ia memberi kesempatan untuk belajar dari kesalahan, bukan mempermalukan.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kepemimpinan yang berlandaskan kasih sayang adalah obat bagi budaya takut.
Guru yang merasa aman akan bersemangat mengajar. Mahasiswa yang dihargai akan berani berpikir kritis. Dan lembaga yang hidup dalam kasih sayang akan tumbuh lebih cepat daripada lembaga yang hidup dalam ketakutan.

—
Membongkar Mekanisme Ketakutan
Untuk mengubah budaya takut, langkah pertama adalah mengakuinya. Banyak lembaga gagal berubah karena menolak mengakui bahwa ketakutan sudah menjadi bagian dari budayanya.
Mulailah dengan dialog terbuka. Pemimpin perlu mendengar suara bawahannya tanpa defensif.
Kang Jalal pernah menulis, “Kadang kita terlalu sibuk menjaga nama baik organisasi sampai lupa memperbaiki lukanya.”
Kritik bukan ancaman. Kritik adalah tanda cinta. Orang yang diam justru mungkin sudah menyerah.
Pemimpin perlu melakukan muhasabah diri. Dalam tasawuf, muhasabah adalah cermin untuk melihat diri sendiri tanpa topeng.
Apakah selama ini saya lebih senang dipuji daripada mendengar masukan?
Apakah saya lebih fokus pada wibawa pribadi daripada kemajuan lembaga?
Apakah saya pernah menakut-nakuti orang lain dengan jabatan saya?
Pertanyaan seperti ini memang sulit, tapi di situlah awal perubahan.
—
Kembali pada Jiwa Pelayanan
Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Pemimpin yang baik adalah yang paling banyak menanggung beban orang lain, bukan yang paling banyak dibebani kehormatan.”
Pemimpin yang memahami makna ini tidak akan memaksa orang lain untuk takut. Ia sadar, tugasnya bukan menegakkan wibawa, tapi menegakkan kebenaran. Ia tidak memerintah dengan ancaman, tapi memberi teladan. Ia tidak menciptakan jarak, tapi membangun kedekatan.
Kang Jalal sering menegaskan bahwa Islam adalah agama kasih, bukan ketakutan.
Bila lembaga pendidikan Islam dikelola dengan semangat kasih, ia akan melahirkan guru yang bahagia, siswa yang merdeka, dan budaya yang sehat. Tapi bila dikuasai oleh ego narsistik, lembaga itu hanya akan menjadi mesin penghormatan palsu.
—
Menumbuhkan Keberanian Bersama
Untuk keluar dari budaya takut, dibutuhkan keberanian bersama.
Guru berani berbicara dengan santun. Staf berani menyampaikan usul. Pemimpin berani mendengar tanpa marah.
Setiap orang berperan membangun budaya baru, di mana kebenaran tidak dikorbankan demi kenyamanan, dan kritik tidak dianggap sebagai penghinaan.
Allah berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 104).
Ayat ini bukan hanya perintah dakwah, tapi juga panggilan untuk menciptakan lingkungan yang saling menasihati dalam kebaikan.
Ketika budaya saling menasihati hidup, budaya takut akan mati dengan sendirinya.
—
Penutup
Pemimpin narsistik di lembaga pendidikan Islam bisa menciptakan ketertiban semu, tapi tidak akan menumbuhkan keberkahan.
Ketertiban yang lahir dari ketakutan hanya melahirkan kepatuhan palsu.
Keberkahan lahir dari keikhlasan, dari hati yang tenang, dan dari keberanian moral untuk berkata benar.
Rasulullah SAW pernah ditanya, “Siapakah pemimpin terbaik?”
Beliau menjawab, “Yang kalian mencintainya dan ia mencintai kalian. Kalian mendoakannya dan ia mendoakan kalian.” (HR. Muslim).
Cinta, bukan takut, adalah fondasi kepemimpinan sejati.
Ketika cinta menjadi dasar hubungan di lembaga pendidikan Islam, semua pihak akan merasa aman untuk tumbuh. Guru, siswa, dan pemimpin sama-sama belajar menjadi manusia yang merdeka.
Dan hanya di tempat yang bebas dari ketakutanlah, ilmu bisa benar-benar hidup.
—-




