Kolom

Pemimpin Narsistik Dan Sindrom Selalu Ingin Dikagumi

Seri ke-13

Pemimpin Narsistik dan Sindrom Ingin Selalu Dikagumi

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Penulis merupakan Praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, Peneliti, Pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi dan pengamat pendidikan.

1.
Seorang sahabat pernah datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Ya Rasulullah, aku ingin dikenal orang sebagai orang baik.” Rasul tersenyum dan menjawab, “Barang siapa mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah murka padanya, dan Dia akan menjadikan manusia pun murka padanya.” (HR. Tirmidzi)

2.
Ada penyakit hati yang sering tidak kita sadari: haus akan pujian. Dan ketika penyakit ini menjangkiti seorang pemimpin, jadilah kepemimpinan itu bukan amanah, tapi panggung pertunjukan. Ia ingin disanjung, dikagumi, dihormati terus-menerus. Bukan karena tugasnya, tapi karena egonya.

3.
Kang Jalal pernah mengingatkan, “Banyak pemimpin terlihat tangguh di luar, tapi rapuh di dalam. Mereka hidup bukan untuk melayani, tapi untuk terus dikagumi.” Lalu beliau bercerita tentang pemimpin yang marah ketika tidak disebut namanya dalam laporan, atau merasa terluka jika fotonya dipotong di poster kegiatan.

4.
Padahal, kata Imam Al-Ghazali, “Kecintaan terhadap pujian adalah awal dari kehancuran amal.” Seorang pemimpin yang tulus akan lebih sibuk memperbaiki kerja daripada memoles citra. Tapi pemimpin narsistik akan mengukur keberhasilannya dari jumlah tepuk tangan, bukan dari jumlah masalah yang terselesaikan.

5.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan tentang kaum munafik yang hanya ingin dilihat: “Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (pamer) di hadapan manusia, dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)
Pemimpin yang hanya ingin dikagumi tak jauh berbeda: bekerja agar dipuji, bukan agar diridhoi.

6.
Dalam organisasi, pemimpin narsistik seringkali membentuk lingkungan yang kaku. Semua harus satu suara. Kritik dianggap ancaman. Keberanian dianggap pembangkangan. Kang Jalal menyebutnya sebagai “budaya takut di balik selimut pujian.” Organisasi seperti ini bisa ramai di luar, tapi sepi makna di dalam.

7.
Suatu hari, seorang murid bertanya pada gurunya, “Apakah salah jika seorang pemimpin ingin dihormati?” Gurunya menjawab, “Tidak salah. Tapi jika itu menjadi tujuan, bukan akibat dari amal dan akhlak, maka yang lahir adalah pencitraan, bukan keteladanan.”
Hormat itu datang karena wibawa jiwa, bukan karena dekorasi luar.

8.
Rasulullah ﷺ adalah pemimpin terbesar, tapi beliau tidak pernah memaksa orang mengaguminya. Bahkan ketika beliau berjalan di pasar, orang-orang tidak tahu kalau beliau seorang nabi. Beliau menolak orang berdiri untuk menyambutnya. Beliau duduk di lantai, makan bersama rakyat biasa. Dan justru di situlah letak keagungan beliau.

9.
Kita hidup di zaman ketika simbol sering mengalahkan substansi. Banyak pemimpin lebih sibuk mengatur pencitraan daripada mendengar keluhan timnya. Kang Jalal bilang, “Kalau seorang pemimpin lebih gelisah wajahnya di media sosial daripada angka kemiskinan di daerahnya, berarti kita salah pilih panutan.”

10.
Pemimpin yang terus ingin dikagumi akan menjadikan organisasinya sebagai kaca cermin, bukan jendela. Ia hanya ingin melihat dirinya sendiri, bukan melihat dunia luar yang harus diperbaiki. Ia terobsesi dengan bayangannya, bukan dengan realita yang harus ditata.

11.
Kita butuh pemimpin yang rela bekerja dalam diam, yang tidak takut kehilangan sorotan, dan yang mengerti bahwa kehormatan sejati datang dari ketulusan. “Kebesaran seorang pemimpin,” kata Sayyidina Ali kw., “diukur dari kemampuannya menanggung luka kritik, bukan dari seberapa banyak ia dihormati dalam diam.”

12.
Mari kita jaga organisasi dan bangsa ini dari kepemimpinan yang hanya haus pujian. Karena pemimpin yang terlalu sibuk memburu kekaguman, akan lupa jalan pulang ke hatinya sendiri. Dan kepemimpinan, sejatinya, adalah jalan pulang ke nurani, bukan ke podium.

Wallahu a’lamu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button