Kolom

Bagaimana Pemimpin NPD Menghancurkan Budaya Kerja Sehat?

Seri ke-15

Bagaimana Pemimpin NPD Menghancurkan Budaya Kerja Sehat?

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, Peneliti, Pengabdi juga sebagai Dosen Tetap UIN SGD Bandung pada S2 Manajemen Pendidikan Islam Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi dan Dosen Luar Biasa, dan juga pengamat pendidikan.
=====000=====

Dalam perjalanan hidup ini, kita seringkali menemui berbagai figur yang memimpin, mengarahkan, dan memberi teladan kepada orang lain. Bertemu dengan Pemimpin yang memiliki “penyakit” NPD menjadi pengalaman tersendiri. Apa mau dikata, yang diharapkan pemimpin yang bijak, malah dapat yang galak. Yang diharapkan punya pengertian, malah inginnya diberi pengertian. Inginnya pemimpin itu mengayomi malah membasmi. Harapannya pemimpin itu tidak haus pujian, malah dapat yang sukanya minta validasi. Nasib…nasib..

Tetapi, apa yang terjadi ketika figur pemimpin tersebut, bukannya menjadi pilar penyangga yang kokoh, justru merusak dasar-dasar yang selama ini kita harapkan bisa menopang kebersamaan dalam bekerja? Pemimpin dengan gangguan kepribadian narsistik (NPD) adalah salah satu contoh figur yang seringkali menghancurkan tatanan yang seharusnya menguatkan budaya kerja yang sehat.

NPD, atau Narcissistic Personality Disorder, merupakan kondisi yang tidak hanya sekadar membawa individu untuk mencintai diri sendiri lebih dari yang lain, tapi juga memperlakukan orang lain sebagai alat untuk memenuhi kepuasan pribadi. Fenomena ini lebih dari sekadar kecenderungan untuk ingin diperhatikan. Ia melibatkan pola perilaku yang cenderung mendominasi, menekan, dan menginjak martabat orang lain demi kepentingan ego pribadi. Di tempat kerja, ini bukan hanya merugikan individu yang ada di sekitarnya, tapi juga menghancurkan budaya kerja yang sehat.

Saat seorang pemimpin NPD memimpin, mereka bukan hanya menjadi pusat perhatian, tetapi mereka juga berusaha mengendalikan setiap aspek lingkungan sekitarnya. Mereka menggunakan jabatan mereka untuk menciptakan ketergantungan yang tidak sehat pada diri mereka. Di mata pemimpin NPD, karyawan bukan lagi rekan dalam bekerja, tetapi sekadar pion-pion yang bisa diperalat. Ketika hal ini terjadi, budaya kerja yang penuh semangat kolaborasi dan saling menghargai mulai tergerus. Bukannya tim yang saling mendukung, yang tercipta justru atmosfer persaingan yang tidak sehat dan hubungan yang dipenuhi kecemasan.

Lantas, bagaimana cara seorang pemimpin NPD menghancurkan budaya kerja sehat? Salah satunya adalah melalui cara mereka memandang keberhasilan dan kegagalan. Pemimpin NPD tidak akan pernah mengakui kontribusi orang lain. Keberhasilan tim atau organisasi akan selalu diklaim sebagai pencapaian pribadinya, sementara kegagalan selalu dilimpahkan kepada orang lain.

Dalam lingkup yang lebih kecil, misalnya di dalam rapat atau pertemuan, suara orang lain tak akan pernah cukup untuk mengalahkan ego mereka. Pemimpin NPD hanya akan mendengarkan yang menguatkan narasi mereka sendiri. Dan mereka akan menyudutkan siapa saja yang berusaha berbicara lebih dari yang mereka inginkan.
Namun, dampak terburuknya bukan hanya pada individu-individu yang terperangkap dalam ketidakadilan itu. Pemimpin NPD mengacaukan nilai-nilai yang selama ini kita yakini dalam bekerja.

Mereka membuat orang merasa tak dihargai, menumbuhkan ketakutan akan kritik yang tidak konstruktif, dan akhirnya menumbuhkan rasa apatisme terhadap pekerjaan itu sendiri. Budaya kerja sehat yang menumbuhkan rasa saling percaya dan penghargaan berubah menjadi budaya kerja yang terpolarisasi, penuh dengan kecemasan, dan berakhir dengan kelelahan psikologis.

Pemimpin seperti ini tidak mampu memelihara semangat gotong royong. Mereka lebih memilih memupuk ketergantungan individu pada mereka. Ketika pemimpin NPD ada di puncak, yang mereka tuntut hanyalah pengakuan dan pujian tanpa memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang. Mereka menciptakan sistem yang memojokkan orang-orang di bawahnya untuk merasa bahwa mereka tidak bisa bergerak tanpa persetujuan sang pemimpin. Inilah bentuk keegoisan yang memanifestasi dirinya dalam organisasi, mengikis budaya kerja sehat yang seharusnya dibangun atas dasar kepercayaan dan saling menghargai.

Di tengah suasana seperti ini, bagaimana mungkin seseorang bisa berkembang? Bagaimana mungkin kreativitas dan inovasi bisa tumbuh subur ketika setiap ide yang muncul dari bawah dihantui oleh ketakutan akan penolakan atau pengabaian? Seorang pemimpin NPD tidak akan pernah membiarkan tim mereka berkembang lebih dari mereka. Ketika mereka merasa terancam oleh kemampuan orang lain, mereka akan berusaha menjatuhkan bahkan sebelum orang tersebut berpeluang untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Inilah yang menghambat kemajuan sejati dalam sebuah organisasi.

Pemimpin NPD memaksakan agenda mereka tanpa memperhatikan kekuatan kolektif yang ada. Mereka membungkam suara-suara yang berusaha menyuarakan pendapat atau kritik yang membangun. Semua ini demi mempertahankan posisi dan kekuasaan mereka. Inilah yang membuat budaya kerja yang sehat sulit untuk ditemukan dalam lingkungan yang dipimpin oleh pemimpin dengan NPD. Di dalam organisasi, mereka tidak membangun kolaborasi, mereka memanfaatkan individu untuk mencapai tujuan mereka sendiri.

Namun, di balik segala destruksi yang mereka ciptakan, ada pelajaran yang bisa kita ambil. Menghargai diri sendiri memang penting, tetapi tidak boleh sampai mengorbankan orang lain untuk memuaskan diri. Kepemimpinan sejati bukan tentang menjadi pusat perhatian, tetapi tentang bagaimana membantu orang lain untuk berkembang, saling menghargai, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Di sinilah kita harus kembali merenung. Apakah kita ingin menjadi bagian dari budaya kerja yang mencerahkan, atau kita terjebak dalam lingkaran kekuasaan yang hanya menguntungkan satu pihak?

Jika kita ingin membangun budaya kerja yang sehat, kita harus mampu melihat tanda-tanda pemimpin yang berpotensi merusak hal tersebut. Kepemimpinan yang berbasis pada ego pribadi, yang mengabaikan kesejahteraan tim dan menganggap orang lain sebagai alat semata, adalah jenis kepemimpinan yang harus dihindari. Sebagai pemimpin, kita seharusnya lebih dari sekadar menjabat posisi tinggi. Kita harus bisa membimbing, memotivasi, dan membangun tim yang saling mendukung. Budaya kerja sehat adalah tentang saling memberi dan menerima, bukan tentang siapa yang paling banyak mendapat pujian.

Menghancurkan budaya kerja sehat bukanlah hal yang sulit bagi pemimpin dengan NPD. Mereka tahu persis bagaimana memanipulasi situasi, menggunakan kata-kata manis yang tidak bermakna, dan meraih kendali dengan cara yang tidak terlihat. Namun, jika kita ingin menciptakan perubahan yang nyata, kita harus mulai dari diri kita sendiri. Kita harus menuntut kepemimpinan yang lebih manusiawi, yang bukan hanya mengutamakan hasil, tetapi juga memperhatikan bagaimana kita mencapainya, dengan cara yang sehat dan mendukung satu sama lain.

_Wallahu a’lamu._

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button