Opini

Belajar dari Procopius, Raksasa Persia Bukanlah Lawan yang Dapat Diremehkan

Oleh Kang Warsa

Membaca catatan sejarah Procopius sejarawan Romawi abad ke-6 Masehi tentang Perang Romawi-Persia bagaikan melihat cermin geopolitik Timur Tengah hari ini. Melalui lembaran-lembaran History of the Wars, penulis merasakan mendapatkan hidangan dan sajian yang penuh epik tentang benturan dua kerajaan adidaya yaitu Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan Kekaisaran Persia Sassanid. Di bawah kepemimpinan Raja Chosroes I, Persia menunjukkan diri sebagai kekuatan imperium yang memiliki kedalaman strategis, ketahanan militer, dan kecerdikan diplomasi yang luar biasa.

Saat ini, ketika ketegangan memuncak antara Iran (pewaris peradaban Persia) melawan Amerika Serikat dan Israel, sejarah kuno ini menawarkan sebuah peringatan keras. Jika kita meletakkan konflik modern ini di atas lini masa sejarah yang panjang, Amerika Serikat dan Israel mungkin perlu merenung dan mengkalkulasi ulang strategi mereka sebelum memutuskan untuk terlibat dalam perang terbuka yang lebih masif.

Dalam catatan Procopius, Persia bukanlah kerajaan yang bisa ditundukkan dengan mudah, bahkan oleh Kekaisaran Romawi yang saat itu berada di puncak kejayaannya di bawah Kaisar Justinianus dan Jenderal legendaris Belisarius.

Ketika Romawi sibuk berekspansi ke Barat (Italia dan Afrika), Chosroes I dengan cerdik memanfaatkan kelengahan itu untuk menyerbu wilayah Timur. Persia menaklukkan kota terbesar Romawi di Timur, Antiokhia, membumihanguskannya, dan memaksa kekaisaran raksasa tersebut membayar upeti tahunan ribuan pon emas. Strategi Persia tidak hanya mengandalkan kekuatan militer (brute force), tetapi juga perang proksi (melalui suku Saracen/Arab Lakhmids), manipulasi logistik (seperti di Lazica/Kaukasus), dan perang urat saraf.

Ketahanan adalah DNA peradaban Iran. Mereka telah selamat dari invasi Romawi, invasi Arab, hingga invasi Mongol, dan terus bangkit kembali sebagai kekuatan hegemonik di kawasan tersebut.

Jika kita melihat kembali ke abad ke-6, wilayah Levant, termasuk tanah leluhur yang kini dicaplok Israel, sama sekali bukan kekuatan yang signifikan. Pada masa itu, wilayah tersebut hanyalah provinsi bawahan dari Kekaisaran Bizantium (Provinsi Palaestina Prima dan Secunda).

Kawasan itu hanyalah “papan catur” tempat imperium-imperium raksasa (Romawi dan Persia) saling bertarung. Procopius mencatat bahwa pada invasi ketiganya (542 M), target utama Chosroes I adalah Yerusalem dan Palestina, semata-mata karena kawasan itu kaya dan tidak memiliki pertahanan militer yang berarti dibandingkan benteng-benteng raksasa di Mesopotamia. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa tanpa perlindungan dari imperium besar (dulu Romawi, kini Amerika Serikat), entitas politik di kawasan Levant sangat rentan terhadap kedalaman kekuatan strategis peradaban dari Timur.

Amerika dan Israel, Aktor Baru dalam Sejarah Panjang Timur Tengah

Dalam kacamata sejarah ribuan tahun, Amerika Serikat, yang baru berusia kurang dari tiga abad, dan Israel modern, yang didirikan pada tahun 1948, adalah “aktor baru” di kawasan tersebut.

Tentu saja, saat ini AS memiliki hegemoni militer global dan Israel memiliki keunggulan teknologi. Namun, sejarah mengajarkan bahwa teknologi dan kekuatan finansial sering kali tidak cukup untuk menundukkan peradaban kuno yang memiliki ketahanan ideologis dan geografis yang mengakar. Romawi memiliki teknologi militer dan kekayaan (centenaria emas) yang tak terbatas pada masanya, namun mereka gagal menundukkan Persia, dan pada akhirnya perang berlarut-larut itu hanya membuat kedua imperium tersebut kehabisan darah.

Strategi Iran modern saat ini sangat mirip dengan taktik Kekaisaran Sassanid yang dicatat Procopius, meliputi:

• Perang Asimetris & Proksi. Sama seperti Chosroes yang menggunakan suku Saracen di bawah Alamoundaras untuk melecehkan batas-batas Romawi, Iran saat ini menggunakan “Poros Perlawanan” (Hizbullah, Houthi, milisi di Irak dan Suriah) untuk menguras energi musuh tanpa harus selalu berhadapan secara langsung.

• Kesabaran Strategis. Chosroes tahu kapan harus menyerang, kapan harus mundur dan meminta tebusan, serta kapan harus menekan secara psikologis. Diplomasi Iran hari ini masih mencerminkan negosiasi alot dan kalkulasi dingin ala Persia kuno.

Mengobarkan perang masif melawan pewaris takhta Sassanid adalah sebuah pertaruhan yang sangat berbahaya. Jika Kekaisaran Romawi dengan jenderal sekaliber Belisarius saja harus puas dengan hasil seri yang menguras kas negara dan berujung pada kehancuran bersama, apa yang membuat AS dan Israel yakin bahwa mereka bisa meraih kemenangan cepat dan absolut atas Iran?

Sejarah panjang Persia adalah pengingat bahwa rezim dan kaisar bisa berganti, tetapi peradaban dan kedalaman geografis Iran akan tetap di sana. Daripada terseret ke dalam perang parit modern yang akan menghancurkan stabilitas global, Amerika Serikat dan Israel sebaiknya mengurungkan niat untuk memicu eskalasi masif. Mengabaikan pelajaran dari Procopius sama saja dengan mengulangi kesalahan Romawi yakni masuk ke dalam rawa konflik tak berujung melawan raksasa Timur yang tak pernah benar-benar bisa ditaklukkan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button