Kolom

Idul Fitri: Antara Kembali Suci dan Kebiasaan Tahunan

Mulyawan Safwandy Nugraha

Setiap menjelang Idul Fitri, saya selalu merasakan dua suasana yang berbeda. Di satu sisi, ada kegembiraan. Jalanan ramai, orang-orang pulang kampung, keluarga bersiap menyambut hari besar. Di sisi lain, ada kegelisahan kecil yang sulit diabaikan.

Saya sering bertanya dalam hati, apakah saya benar-benar berubah setelah Ramadan, atau hanya ikut larut dalam rutinitas tahunan?

Ramadan yang baru saja berlalu terasa begitu cepat. Saya ingat bagaimana di awal bulan, saya berusaha lebih disiplin. Menjaga lisan, menahan emosi, mengurangi hal-hal yang tidak perlu. Ada kesadaran yang tumbuh pelan-pelan. Bahwa hidup tidak hanya soal memenuhi keinginan, tetapi juga soal mengendalikan diri.

Namun menjelang lebaran, ritme itu berubah. Saya ikut sibuk memikirkan hal-hal yang sifatnya lahiriah. Baju apa yang akan dipakai. Apa saja yang harus disiapkan di rumah. Kadang tanpa sadar, saya lebih fokus pada apa yang terlihat orang lain daripada apa yang terjadi dalam diri sendiri.

Saya tidak mengatakan itu salah. Wajar jika kita ingin merayakan hari besar dengan baik. Tapi di titik tertentu, saya merasa ada yang bergeser. Ramadan yang seharusnya melatih kesederhanaan, justru diakhiri dengan kecenderungan berlebih. Seolah-olah satu bulan menahan diri harus “dibalas” dengan pelampiasan.

Saya juga sering merenungkan tradisi saling memaafkan. Setiap tahun, saya mengucapkan “mohon maaf lahir batin” kepada banyak orang. Mereka pun melakukan hal yang sama. Hangat, menyenangkan. Tapi setelah itu, saya bertanya lagi. Apakah saya benar-benar sudah memperbaiki diri? Atau hanya mengulang kebiasaan yang sama setiap tahun?

Ada momen-momen di mana saya menyadari bahwa memaafkan itu tidak sederhana. Tidak cukup dengan kata-kata. Ia butuh keberanian untuk mengakui kesalahan. Butuh kesungguhan untuk berubah. Dan itu tidak selalu mudah.

Pengalaman mudik juga memberi saya banyak pelajaran. Bertemu keluarga besar, bercengkerama, mengenang masa lalu. Namun di sela-sela itu, saya juga melihat hal lain. Ada perbandingan yang halus. Tentang pekerjaan, penghasilan, dan pencapaian. Tidak selalu diucapkan secara terang, tetapi terasa.

Di situ saya kembali berpikir. Apakah silaturahmi kita benar-benar dilandasi kehangatan, atau terselip penilaian sosial yang membuat sebagian orang justru tidak nyaman?

Media sosial menambah lapisan baru. Saya pun tidak sepenuhnya lepas dari itu. Mengabadikan momen, membagikan kebahagiaan. Tapi kadang saya bertanya, apakah yang saya tampilkan itu jujur? Atau sudah menjadi bagian dari kebutuhan untuk terlihat baik di mata orang lain?

Semua pertanyaan itu tidak selalu nyaman. Tapi justru di situlah letak maknanya. Idul Fitri, bagi saya, bukan sekadar hari raya. Ia seperti cermin. Memantulkan apa yang benar-benar terjadi dalam diri setelah satu bulan berlatih.

Saya mulai menyadari bahwa kembali suci bukan peristiwa instan. Ia bukan sesuatu yang otomatis terjadi karena Ramadan telah selesai. Ia adalah proses yang harus dijaga. Hari demi hari.

Saya mencoba melihat hal-hal sederhana. Apakah saya lebih sabar dibandingkan sebelum Ramadan. Apakah saya lebih mampu menahan emosi. Apakah saya lebih peduli pada orang lain. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kecil itu terasa lebih jujur daripada sekadar merasa “sudah selesai” beribadah.

Saya juga mulai memaknai ulang lebaran. Tidak harus selalu identik dengan hal baru. Yang lebih penting justru apa yang diperbarui dalam diri. Sikap, cara berpikir, dan cara memperlakukan orang lain.

Memaafkan pun saya coba jalani lebih sungguh-sungguh. Tidak hanya mengucapkan, tetapi juga mengingat.

Kesalahan apa yang pernah saya lakukan.

Siapa yang mungkin pernah saya sakiti. Lalu berusaha tidak mengulanginya.

Tidak sempurna. Masih sering gagal. Tapi setidaknya ada kesadaran untuk tidak berhenti pada seremoni.

Bagi saya, Idul Fitri adalah kesempatan untuk memulai lagi. Bukan dari nol, tetapi dari titik yang sedikit lebih baik. Jika Ramadan berhasil meninggalkan jejak, maka jejak itu seharusnya terlihat setelahnya.

Saya percaya, kemenangan tidak diukur dari seberapa meriah kita merayakan lebaran. Tetapi dari seberapa jauh kita berubah setelahnya.

Taqabballahu Minna wa minkum

Wallahu a’lamu

 

*) Penulis adalah Direktur Research and Literacy Institute (RLI), Dosen UIN SGD Bandung, Dosen luar biasa pada Institut KH. Ahmad Sanusi Sukabumii, Institut Al-Masthuriyah Sukabumi dan STAI Kharisma Sukabumi, serta saat ini diamanahi sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi, Wakil Ketua PCNU Kota Sukabumi, dan Ketua Forum Ukhuwah Warga Ciaul Kota Sukabumi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button