Kolom

Bagian Iman yang terlupakan : Malu

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Khatib Jumat di Masjid Jami’ Bahrul Ulum Smansa Kota Sukabumi, Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI), Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Saya sering mengingat satu sabda Nabi yang terdengar sederhana. Malu itu bagian dari iman. Dulu saya menghafalnya tanpa banyak pikir. Saya anggap sebagai kalimat nasihat biasa. Namun, setelah melewati berbagai fase hidup, saya baru merasakan dalamnya makna kalimat itu.

Rasa malu bukan sekadar reaksi wajah yang memerah atau tangan yang tiba-tiba gelisah. Rasa malu adalah kemampuan untuk berhenti. Kemampuan untuk menahan diri. Kemampuan untuk berkata pada diri sendiri bahwa ada batas yang tidak boleh dilewati. Rasa malu seperti pintu kecil di dalam hati yang selalu mengingatkan manusia agar tetap menjadi manusia.

Saya melihat perubahan yang pelan tapi jelas dalam kehidupan kita. Orang banyak memuji keberanian. Orang memuja kebebasan berbicara. Orang mendorong untuk tampil sekuat mungkin. Namun, tidak banyak yang berbicara tentang malu. Padahal, tanpa malu manusia mudah kehilangan arah. Saya pernah merasakannya sendiri. Ada masa dalam hidup ketika saya ingin melakukan sesuatu yang saya tahu salah. Keinginan itu muncul begitu saja.

Namun, ada rasa aneh yang tiba-tiba menahan langkah saya. Rasa itu bukan ketakutan. Bukan pula rasa grogi. Rasa itu adalah malu. Malu karena saya tahu Allah melihat. Malu karena saya tidak ingin merusak diri saya sendiri. Malu karena saya tidak ingin mengecewakan orang yang saya cintai.

Saya pernah bertemu seseorang yang hidupnya terlihat rapi dari luar. Namun, wajahnya selalu gelisah. Ia sering bercerita tentang pilihan yang ia sesali. Ia banyak membuat keputusan tanpa memikirkan dampaknya. Ia mengaku pernah mengambil hak orang lain. Ia pernah mengabaikan tanggung jawab. Ia bilang bahwa pada masa itu ia merasa tidak ada yang memperhatikan. Tidak ada yang mengawasi. Tidak ada yang akan peduli. Ia merasa bebas.

Namun, kebebasan itu akhirnya berubah menjadi penyesalan yang panjang. Ketika saya bertanya apa yang membuatnya akhirnya berhenti, ia menjawab singkat. Saya malu. Jawabannya sederhana, tetapi saya tahu jawabannya bukan jawaban yang ringan.

Rasa malu memang bekerja seperti itu. Diam tetapi kuat. Tidak terlihat tetapi mampu menghentikan langkah yang salah. Saya pernah bekerja dengan seseorang yang terkenal disiplin. Ia tidak banyak bicara. Ia tidak suka memarahi orang. Namun, ia punya satu kalimat yang sering saya dengar.

Saya malu kalau tidak jujur. Saya malu kalau tidak bertanggung jawab. Saya malu kalau orang lain tidak bisa percaya pada saya. Kalimat itu sederhana. Namun, dari kalimat itu saya tahu bahwa rasa malu yang sehat mampu membangun karakter seseorang lebih dari banyak aturan.

Dalam keluarga, rasa malu punya tempat yang sangat lembut. Saya masih ingat bagaimana ayah saya mendidik kami. Ia jarang marah. Ia lebih sering mengingatkan dengan kalimat yang halus. Ia berkata bahwa seorang anak harus tahu batas. Ia berkata bahwa perbuatan kecil yang salah bisa tumbuh menjadi kebiasaan. Ia berkata bahwa seseorang yang kehilangan rasa malu akan kesulitan menemukan dirinya kembali.

Ketika saya masih kecil, saya tidak sepenuhnya memahami maksudnya. Namun, setelah dewasa, saya melihat kebenaran kata-katanya. Orang yang kehilangan malu mudah kehilangan arah. Orang seperti itu mudah terjebak dalam tindakan yang merusak dirinya tanpa sadar.

Di ruang publik, rasa malu juga menjadi penanda karakter. Saya sering memperhatikan bagaimana orang antre. Ada yang sabar. Ada juga yang tiba-tiba menyerobot. Saya selalu percaya bahwa perilaku seperti itu bukan hanya soal sopan santun. Itu soal rasa malu.

Orang yang masih punya rasa malu tidak akan tega merugikan orang lain. Ia tidak akan mengambil hak orang lain hanya karena punya kesempatan. Ia menghargai diri sendiri dengan cara menghargai orang lain. Ketika saya melihat masyarakat yang tertib, saya melihat masyarakat yang masih punya rasa malu.

Di media sosial, rasa malu hampir selalu diuji. Dunia digital membuat orang berani berkata apa saja. Saya pernah melihat perdebatan kecil berubah menjadi ejekan. Saya pernah melihat kabar yang belum jelas kebenarannya disebarkan seperti tidak ada besok. Semua itu terjadi karena orang merasa tidak sedang berhadapan langsung.

Namun, di balik layar, tulisan itu tetap melukai. Jejaknya tetap tertinggal. Saya percaya jika seseorang punya rasa malu yang sehat, ia akan berhenti sejenak sebelum menekan tombol kirim. Ia bertanya pada dirinya. Apakah ini pantas. Apakah ini baik. Apakah ini akan menyakiti orang lain. Rasa malu membantu seseorang menjaga batas bahkan ketika ia sendirian.

Saya juga pernah melihat sisi lain dari rasa malu. Ada orang yang malu mengakui kesalahannya. Ada yang malu tampil apa adanya. Namun, itu bukan malu yang saya maksud. Itu minder. Minder membuat seseorang mengecilkan dirinya. Minder membuat seseorang takut tumbuh. Rasa malu yang benar tidak membuat seseorang mundur dari hidup. Rasa malu justru membuat seseorang melangkah dengan hati-hati. Ia tetap berani. Ia tetap maju. Ia hanya tidak ingin menyesal. Ia memilih yang lebih baik. Ia menjaga martabatnya.

Saya percaya rasa malu adalah satu dari sedikit alat yang bisa menjaga manusia tetap manusia. Ia membuat kita mengakui keterbatasan. Ia membuat kita sadar bahwa hidup tidak berputar pada diri sendiri. Ia membuat kita mengingat bahwa setiap tindakan membawa dampak.

Rasa malu juga mengajar kita tentang pentingnya kerendahan hati. Orang yang punya rasa malu tidak merasa paling benar. Ia tidak menganggap dirinya lebih suci dari orang lain. Ia tahu dirinya juga bisa salah. Kesadaran ini membuatnya lebih mudah memahami orang lain.

Dalam perjalanan hidup, saya melihat banyak orang yang kehilangan rasa malu. Saya melihat bagaimana mereka membuat keputusan tanpa berpikir panjang. Saya melihat bagaimana mereka menegakkan diri sendiri sambil meremehkan orang lain. Saya melihat bagaimana mereka bangga pada tindakan yang sebenarnya merusak diri mereka. Namun, saya juga melihat orang yang menemukan kembali rasa malunya. Orang yang akhirnya berhenti. Orang yang akhirnya sadar. Orang yang memilih memperbaiki diri. Dan proses itu selalu dimulai dari satu hal. Rasa malu yang muncul dari hati.

Saya sering merenung tentang masa depan. Saya membayangkan anak-anak kita tumbuh dalam dunia yang lebih keras dibanding generasi sebelumnya. Mereka melihat banyak hal yang tidak seharusnya mereka lihat. Mereka mendengar banyak hal yang tidak seharusnya mereka dengar.

Tantangan ini besar. Namun, saya percaya bahwa jika rasa malu ditanam sejak awal, mereka akan punya kompas moral yang kuat. Mereka mungkin tersesat sesekali. Namun, mereka tidak akan jauh dari jalan yang benar. Rasa malu di dalam diri mereka akan memanggil. Rasa malu itu akan menuntun.

Pada akhirnya saya melihat rasa malu sebagai cahaya kecil dalam diri manusia. Cahaya yang tidak selalu terang. Namun, selalu ada. Cahaya itu mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang kita inginkan. Hidup juga tentang apa yang pantas.

Hidup juga tentang menjaga diri. Hidup juga tentang menghargai orang lain. Dan selama cahaya itu tetap menyala, meski kecil, manusia masih punya peluang untuk kembali menemukan dirinya. Rasa malu itu sebagian dari iman. Dan iman itu memberi manusia arah ketika dunia mulai gelap.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button