Ramadhan: Saat Langit Terbuka dan Jiwa Kembali Pulang
Ramadhan datang bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah, tetapi sebagai undangan langit kepada manusia untuk kembali mengenali dirinya: hamba yang lemah namun selalu diberi kesempatan untuk bangkit. Pada bulan inilah rahmat Allah ditumpahkan seperti hujan yang tidak pernah memilih tanah, dan ampunan dibentangkan selebar cakrawala bagi siapa saja yang bersedia menengadahkan tangan.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Hadis ini bukan sekadar kabar gembira, tetapi juga isyarat bahwa Ramadhan adalah musim kemudahan untuk berbuat baik. Nafsu yang biasanya liar menjadi lebih mudah dikendalikan, godaan yang biasanya kuat menjadi lebih lemah, dan hati yang biasanya keras menjadi lebih mudah basah oleh tangisan taubat. Seakan-akan Allah sendiri menurunkan pertolongan-Nya agar manusia lebih ringan melangkah menuju kebaikan.
Betapa besarnya rahmat itu, sehingga kehadiran Ramadhan sendiri sudah menjadi karunia yang tidak ternilai. Tidak semua manusia diberi umur untuk menemuinya, tidak semua yang bertemu dengannya mampu merasakan keberkahannya, dan tidak semua yang menjalani hari-harinya mampu memetik ampunan yang dijanjikan. Maka orang yang masih diberi kesempatan menyaksikan bulan suci ini sesungguhnya sedang menerima panggilan kasih sayang yang sangat agung dari Tuhannya.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
“Sungguh merugi seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.”
(HR. Tirmidzi)
Kalimat ini menggugah hati: bagaimana mungkin seseorang melewati musim ampunan yang begitu luas, tetapi pulang tanpa membawa pengampunan? Bagaimana mungkin seseorang berjalan di ladang pahala yang terbentang luas, tetapi kembali dengan tangan kosong? Kerugian terbesar bukanlah kehilangan harta, melainkan kehilangan kesempatan ketika pintu langit sedang terbuka.
Ramadhan sesungguhnya adalah madrasah jiwa. Ia mengajarkan bahwa lapar dapat melembutkan hati, bahwa menahan diri dapat meninggikan derajat, dan bahwa doa yang dipanjatkan di waktu sahur serta senja berbuka memiliki rasa yang berbeda—lebih dekat, lebih hangat, dan lebih didengar.
Karena itu, kedatangan Ramadhan bukan hanya peristiwa waktu, tetapi peristiwa rahmat. Ia adalah hadiah Allah kepada orang-orang beriman, kesempatan tahunan untuk membersihkan dosa, memperbaiki niat, dan menata kembali perjalanan hidup. Siapa yang menyambutnya dengan iman dan harapan, ia akan keluar darinya seperti bayi yang baru dilahirkan: ringan tanpa beban dosa.
Maka ketika bulan suci ini tiba, sambutlah ia dengan hati yang bersyukur, dengan amal yang semakin hidup, dan dengan doa yang tidak pernah lelah memohon ampunan. Sebab mungkin saja Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan yang menentukan—apakah kita termasuk hamba yang diampuni, atau justru termasuk mereka yang menyia-nyiakan musim rahmat yang hanya datang sekali dalam setahun.
KH. Rizal Yusup Ramdhan, Wakil Katib Syuriyah PCNU Kota Sukabumi




