Antara Percaya Diri Dan Pemimpin Narsis : Apa Bedanya ?
ke-3
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Suatu hari seorang pemuda datang kepada gurunya. Ia berkata, “Guru, aku ingin jadi pemimpin. Aku punya keyakinan, aku mampu.” Sang guru tersenyum, lalu bertanya, “Apakah kau ingin memimpin karena merasa layak… atau karena ingin diakui orang lain sebagai pemimpin?” Pemuda itu terdiam. Di sanalah perbedaan pertama antara percaya diri dan narsisme dimulai.
Percaya diri adalah tahu batas dan kemampuan diri. Ia lahir dari kesadaran, bukan khayalan. Sedangkan narsisme, adalah ketika seseorang merasa lebih hebat dari kenyataannya. Ia tak hanya yakin pada dirinya, tapi yakin bahwa orang lain tak sepenting dirinya. Orang percaya diri bersyukur saat berhasil. Tapi orang narsis menuntut pengakuan berlebih atas keberhasilannya.
Rasulullah ﷺ adalah contoh paling indah dari kepercayaan diri sejati. Beliau diutus membawa risalah besar, menghadapi penentangan, dan tetap tenang. Tapi tak sekali pun beliau meninggikan diri. Bahkan saat Fathu Makkah, ketika semua tunduk di hadapannya, beliau menundukkan kepalanya dalam-dalam, penuh syukur dan rendah hati. Itulah kepercayaan diri yang bersumber dari iman.
Imam Al-Ghazali menjelaskan, “Percaya diri adalah buah dari tawakal. Sedangkan narsisme lahir dari kekosongan hati dan cinta berlebihan pada dunia.” Pemimpin yang percaya diri tahu bahwa kemampuannya berasal dari Allah. Ia bertugas menjalankan amanah, bukan mengejar pujian. Sementara pemimpin narsis justru menjadikan jabatan sebagai cermin untuk membesarkan egonya.
Saya pernah bertemu dua tipe pemimpin. Yang satu, tenang, tak banyak bicara soal dirinya. Tapi keputusannya terarah, ucapannya menguatkan, dan timnya tumbuh bersamanya. Yang satu lagi, penuh drama. Setiap keberhasilan diumumkan dengan megah. Ia senang disebut sebagai “visioner”, “inspiratif”, atau “revolusioner.” Padahal timnya lelah. Diam-diam banyak yang ingin keluar.
Perhatikan perbedaan bahasanya. Pemimpin yang percaya diri lebih sering berkata: “Bagaimana pendapat kalian?”, “Saya mungkin keliru.” Sedangkan pemimpin narsis suka berkata: “Tanpa saya ini tak jalan!”, “Saya sudah bilang dari awal!” Kalimatnya penuh “saya”, nyaris tak ada “kita”.
Dalam Al-Qur’an, ada kisah Qarun yang ketika dipuji karena kekayaannya, ia berkata:
“Sesungguhnya aku diberi semua itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)
Inilah ucapan khas narsistik: semua karena dirinya. Tak ada rasa syukur, tak ada kesadaran akan kontribusi orang lain. Maka Allah hukum dia, dan hartanya ditelan bumi.
Sebaliknya, Nabi Yusuf ketika dipercaya sebagai pengelola logistik negara, ia berkata dengan tenang:
“Jadikan aku bendahara negeri ini. Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)
Pernyataannya ringkas, jelas, dan realistis. Itulah kepercayaan diri. Ia menyebut kapasitas, bukan kehebatan pribadi.
Di dunia modern, narsisme bisa tampak cemerlang di awal. Ia tampil percaya diri, menguasai forum, meyakinkan. Tapi perlahan, yang tampak hanyalah dirinya sendiri. Organisasi hanya jadi panggung. Orang lain tak diberi ruang. Maka organisasi yang sehat harus belajar membedakan: mana pemimpin yang memang siap, dan mana yang hanya ingin tampil.
Kita pun, sebagai masyarakat, sering tertipu. Kita terkagum pada gaya bicara, bukan isi kepala. Kita mencari pemimpin yang membuat kita merasa “wow”, bukan yang membuat kita merasa aman dan tumbuh. Maka jangan heran jika yang terpilih kadang adalah yang paling keras bersuara, bukan yang paling dalam pikirannya.

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mengingatkan: “Siapa yang mengenal dirinya, akan tahu kelemahannya. Dan siapa yang tahu kelemahannya, ia tak akan sombong.” Pemimpin yang percaya diri sejati justru makin sadar akan batas dirinya. Ia membuka ruang untuk dibantu, bukan menutup ruang karena takut disaingi.
Mari kita dukung lahirnya pemimpin yang percaya diri dengan rendah hati. Pemimpin yang siap dikritik, dan tak silau pada pujian. Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan soal siapa yang paling sering disebut, tapi siapa yang paling besar pengaruh baiknya. Seperti bumi: diam, tapi menjadi tempat tumbuhnya kehidupan
@@@@@@@@@@@@@
*) Penulis adalah Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang melakukan pengabdian sebagai:
– Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia
– Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi
– Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi
– Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi
– Ketua Komisi Bidang Pendidikan ICMI Kota Sukabumi
– Anggota Litbang, Perpustakaan, Kajian dan Kurikulum DKM Masjid Agung Kota Sukabumi
– Ketua FU-Warci (Forum Ukhuwah Islamiyah Warga Ciaul) Kota Sukabumi



