Opini

Satu Abad Nahdlatul Ulama: Amanah Kekuasaan, Akhlak Kepemimpinan, dan Jejak Ulama Penjaga Negeri

Satu Abad Nahdlatul Ulama: Amanah Kekuasaan, Akhlak Kepemimpinan, dan Jejak Ulama Penjaga Negeri

 

Satu abad adalah usia yang cukup untuk menguji kejujuran sebuah perjuangan. Ia memisahkan mana yang berangkat dari amanah, dan mana yang lahir dari hasrat kuasa.

Dalam timbangan sejarah itulah Nahdlatul Ulama berdiri bukan sebagai penonton kekuasaan, melainkan penjaga moral bangsa.

Dalam pandangan Islam, kekuasaan bukanlah mahkota, melainkan beban yang kelak dipertanyakan. Ia bukan hak untuk dinikmati, tetapi amanah untuk ditunaikan.

Maka ketika kepala negara, gubernur, bupati, dan wali kota memulai kepemimpinannya dari sogokan, sesungguhnya ia telah tergelincir bahkan sebelum melangkah.

Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan yang melampaui ruang dan waktu: pemberi suap dan penerima suap sama-sama merusak tatanan.

Sebab suap bukan sekadar dosa individual, melainkan kezaliman sosial yang memindahkan hak orang banyak kepada kepentingan segelintir elite pemberi modal.

Dalam kepemimpinan Nabi, kekuasaan tunduk kepada akhlak, dan kebijakan lahir dari kejujuran.

Jejak kenabian itu tidak terputus. Ia diwariskan kepada para ulama yang memilih hidup sederhana agar kata-katanya tidak dibeli kekuasaan.

Di Nusantara, teladan itu bernama KH. Hasyim Asy’ari Hadratussyaikh, pendiri Nahdlatul Ulama.

Beliau bukan pemimpin yang tumbuh dari istana, tetapi dari pesantren: ruang sunyi tempat ilmu dimuliakan dan amanah ditempa.

Ketika kolonialisme berusaha membeli legitimasi agama, KH. Hasyim Asy’ari menolak menjadikan fatwa sebagai alat tawar-menawar.

Baginya, kepemimpinan ulama bukan pelengkap kekuasaan, melainkan penuntun arah bangsa.

Dalam mendirikan NU, beliau tidak sedang membangun kendaraan politik, tetapi merawat umat dan tradisi keilmuan.

NU lahir bukan untuk mengejar jabatan, melainkan menjaga agama, melindungi bangsa, dan menegakkan akhlak sosial.

Kepemimpinan beliau berdiri di atas wibawa ilmu dan ketulusan, bukan di atas sogokan atau ancaman.

Ketika kemerdekaan terancam, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad sebuah keputusan sejarah yang tidak lahir dari transaksi, tidak dibeli oleh kekuasaan, melainkan tumbuh dari iman dan keberanian.

Di sanalah dunia belajar: bahwa pemimpin yang bersih lebih dahsyat daripada senjata, dan amanah yang dijaga lebih kuat daripada propaganda. Islam tidak mengenal pemisahan antara moral dan politik.

Nabi ﷺ mencontohkan, dan KH. Hasyim Asy’ari menegaskan: jika akhlak pemimpin rusak, maka negara akan sakit.

Jika jabatan dibeli, kebijakan akan dijual.

Jika kekuasaan dijalankan tanpa rasa diawasi Allah, maka hukum akan pincang dan keadilan menjadi barang langka.

Sejarah dunia mencatat banyak negeri runtuh bukan karena miskin sumber daya, melainkan karena pemimpinnya menjual amanah demi keuntungan sesaat.

Namun sejarah NU mengajarkan sebaliknya: bahwa kesederhanaan ulama mampu menjaga martabat bangsa, dan keteguhan moral mampu menahan arus kehancuran.

Satu abad NU adalah saksi bahwa kepemimpinan tanpa transaksi bukan utopia.

Ia pernah hidup, pernah membimbing, dan pernah menyelamatkan negeri ini.

Tugas generasi hari ini bukan sekadar merayakan usia, melainkan meneladani sikap.

Sebab bangsa tidak runtuh ketika kekuasaan berpindah tangan, tetapi ketika amanah dikhianati.

Dan NU, sejak kelahirannya, hadir untuk mengingatkan: bahwa kekuasaan harus takut kepada Allah, lebih daripada takut kehilangan jabatan.

 

KH. Rizal Yusup Ramdhan

Wakil Katib Syuriyah PCNU Kota Sukabumi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button