Kolom

Sya’ban. Bulan Sunyi yang Menentukan Arah Iman

Sya’ban. Bulan Sunyi yang Menentukan Arah Iman

Mulyawan Safwandy Nugraha

Dalam Islam, waktu bukan sekadar angka di kalender. Jam, hari, bulan, bahkan tahun punya makna ibadah. Banyak amal sah atau tidak sah karena waktu. Ada waktu yang biasa. Ada yang istimewa. Salah satunya Bulan Sya’ban.

Sya’ban sering lewat tanpa perhatian. Padahal para ulama sejak dulu menulis banyak kitab khusus tentang keutamaannya. Ini tanda bahwa Sya’ban bukan bulan biasa.

Beberapa hikmah penting Bulan Sya’ban yang perlu Kamu tahu.

Pertama. Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan. Rasulullah sendiri menyebut Sya’ban sebagai bulan yang diabaikan manusia. Letaknya di antara Rajab dan Ramadhan. Banyak orang fokus ke Rajab dan menunggu Ramadhan. Sya’ban terlewat begitu saja.

Kedua. Rasulullah banyak berpuasa di Sya’ban. Aisyah meriwayatkan, hampir sebulan penuh Rasulullah berpuasa di Sya’ban. Ini bukan kebiasaan tanpa alasan. Ini teladan.

Ketiga. Catatan amal tahunan diangkat pada bulan ini. Dalam hadis riwayat Tirmidzi dan Nasa’i, Rasulullah menjelaskan bahwa amal manusia diangkat kepada Allah pada bulan Sya’ban. Beliau ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa. Pesannya jelas. Perbaiki amal sebelum diangkat.

Keempat. Perubahan arah kiblat terjadi di bulan Sya’ban. Keinginan Rasulullah untuk menghadap Ka’bah akhirnya dikabulkan Allah di bulan ini. Setelah sekitar 16 atau 17 bulan menghadap Baitul Maqdis, turun perintah berpindah kiblat ke Masjidil Haram. Ini bukan hanya perubahan arah shalat. Ini penegasan identitas umat Islam.

Kelima. Perintah puasa Ramadhan ditetapkan di Sya’ban. Puasa Ramadhan diwajibkan pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijriyah. Ramadhan pertama umat Islam dimulai setelah itu. Artinya, Sya’ban adalah pintu masuk menuju kewajiban besar umat ini.

Keenam. Malam Nisfu Sya’ban penuh ampunan. Dalam banyak riwayat disebutkan, Allah melimpahkan ampunan pada malam pertengahan Sya’ban. Semua diampuni, kecuali orang musyrik dan orang yang menyimpan kebencian dan dendam. Karena itu para ulama salaf menghidupkan malam ini dengan doa dan ibadah, baik sendiri maupun berjamaah.

Ketujuh. Ada batasan puasa di paruh kedua Sya’ban. Islam mengajarkan keseimbangan. Bagi yang sejak awal tidak berpuasa sunnah Sya’ban, maka tidak dianjurkan memulai puasa setelah tanggal 15. Kecuali jika puasa rutin seperti Senin Kamis atau puasa nazar. Ini agar Ramadhan tidak disambut dengan tubuh yang lelah dan niat yang keliru.

Sya’ban mengajarkan satu hal penting. Persiapan lebih berharga daripada kejar-kejaran di garis akhir.

Sebelum Ramadhan datang, Allah memberi kita satu bulan untuk berbenah. Membersihkan niat. Memperbaiki amal. Menghapus dendam. Menguatkan arah hidup.

Sya’ban bukan bulan pembuka acara. Sya’ban adalah ruang sunyi untuk memperbaiki diri.

Semoga Kita tidak melewatinya dengan lalai. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan siap, bukan sekadar berharap.

 

Wallahu a’lamu

MSN

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button