Opini

112 Tahun Kota Sukabumi: Tidak hanya Tumbuh lebih Besar, tapi Juga Tumbuh lebih Bijak

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Warga Kota Sukabumi, tinggal di Jalan Samsi Cisarua Kecamatan Cikole.

Ada momen tertentu yang terasa lebih dari sekadar seremoni. Peringatan hari jadi kota sering dianggap rutinitas tahunan. Namun jika dibaca lebih dalam, pidato dan narasi yang disampaikan oleh Bapak Walikota Sukabumi, H. Ayep Zaki, justru menyimpan arah, bahkan kegelisahan.

Saya membaca peringatan 112 tahun Kota Sukabumi bukan hanya sebagai selebrasi, tapi sebagai cermin: sejauh mana kota ini sudah bergerak, dan sejauh mana ia sedang mencari dirinya.

Saya lahir dan besar di kota ini. Saya mengenal Sukabumi bukan dari data statistik, tapi dari gang sempit, warung kopi kecil, sekolah, dan wajah-wajah yang perlahan berubah seiring waktu. Maka ketika narasi “kolaborasi” dan “reformasi birokrasi” disampaikan, saya mencoba memaknainya secara lebih konkret. Apa arti kolaborasi bagi warga biasa? Apa dampak reformasi itu terasa di kehidupan sehari-hari?

Satu hal yang patut dicatat adalah keberanian untuk menunjukkan capaian konkret, seperti penguatan layanan kesehatan di RSUD R. Syamsudin, S.H. Ini bukan sekadar simbol. Dalam perspektif pembangunan kota, sektor kesehatan adalah indikator penting kualitas hidup. Ketika layanan seperti terapi stem cell, penanganan kanker, dan rehabilitasi jantung tersedia di kota sendiri, itu berarti ada upaya mengurangi ketimpangan akses. Warga tidak harus selalu bergantung pada kota besar.

Namun pembangunan kota tidak bisa berhenti pada fasilitas. Kota yang sehat tidak hanya diukur dari rumah sakitnya, tapi dari pola hidup warganya. Dari udara yang dihirup. Dari ruang publik yang tersedia. Dari interaksi sosial yang hidup. Di sini saya melihat tantangan Sukabumi ke depan.

Kota ini sedang berada di persimpangan. Di satu sisi ingin maju, modern, dan kompetitif. Di sisi lain harus menjaga identitas sebagai kota yang ramah, tenang, dan manusiawi. Banyak kota gagal di titik ini. Mereka tumbuh cepat, tapi kehilangan jiwa. Sukabumi tidak boleh jatuh pada jebakan itu.

Kolaborasi yang disebutkan dalam pidato seharusnya tidak berhenti pada level elit. Ia harus turun menjadi praktik sosial. Misalnya, bagaimana pemerintah membuka ruang partisipasi warga dalam perencanaan kota. Bagaimana komunitas lokal dilibatkan dalam menjaga lingkungan. Bagaimana kampus, sekolah, dan pesantren menjadi bagian dari ekosistem solusi, bukan sekadar penonton.

Secara ilmiah, konsep ini dikenal sebagai collaborative governance. Kota yang berhasil bukan yang pemerintahnya kuat sendiri, tapi yang mampu membangun jaringan kerja lintas aktor. Data menunjukkan, kota dengan tingkat partisipasi publik tinggi cenderung memiliki kebijakan yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Sukabumi punya modal sosial untuk itu. Warganya masih punya rasa memiliki yang kuat terhadap kotanya.

Saya juga melihat pentingnya memperhatikan dimensi psikologis kota. Ini sering luput. Kita bicara infrastruktur, ekonomi, layanan. Tapi jarang bicara tentang rasa aman, kenyamanan, dan kebanggaan warga. Padahal ini menentukan kualitas hidup secara nyata. Kota yang baik adalah kota yang membuat warganya betah, bukan hanya bertahan.

Di titik ini, narasi “Sukabumi Bercahaya” menarik untuk ditafsir ulang. Cahaya bukan hanya soal kemajuan fisik. Ia bisa dimaknai sebagai transparansi, keadilan, dan harapan. Cahaya adalah ketika warga merasa didengar. Ketika pelayanan publik tidak rumit. Ketika anak muda punya ruang untuk tumbuh tanpa harus pergi.

Tantangan ke depan memang kompleks. Digitalisasi, urbanisasi, tekanan ekonomi, hingga perubahan sosial akan terus datang. Tapi kota tidak perlu menjadi sempurna. Ia hanya perlu terus belajar. Belajar dari kesalahan, belajar dari warga, dan belajar dari perubahan zaman.

Saya percaya, kekuatan Sukabumi bukan pada besarnya anggaran atau megahnya bangunan. Tapi pada kesederhanaan yang jujur. Pada hubungan sosial yang masih hangat. Pada ruang-ruang kecil yang menyimpan cerita. Jika ini bisa dijaga sambil terus berinovasi, Sukabumi tidak hanya akan berkembang. Ia akan menjadi kota yang matang.

Sebagai warga, harapan saya sederhana. Pemerintah tetap terbuka. Kebijakannya tetap berpihak pada kepentingan rakyat, bukan elit. Dan pembangunan tidak melupakan manusia sebagai pusatnya. Karena pada akhirnya, kota bukan soal gedung atau program. Kota adalah tentang kita yang hidup di dalamnya.

Dan saya ingin melihat Kota Sukabumi tidak hanya tumbuh lebih besar, tapi juga tumbuh lebih bijak.

 

Amiiin. Semoga.

Dirgahayu Kota Sukabumi ke-112 !!!

Merdeka

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button