Opini

Umat Rukun Itu Kerja Sunyi, Bukan Sekadar Tema : Refleksi HAB Kemenag 2026

Umat Rukun Itu Kerja Sunyi, Bukan Sekadar Tema : Refleksi HAB Kemenag 2026

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” yang diusung dalam peringatan Hari Amal Bakti ke-80 tanggal 3 Januari tahun 2026 terdengar indah. Ia resmi. Ia rapi. Ia lahir dari Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia. Tapi bagi saya, tema ini bukan soal slogan tahunan. Ia adalah pekerjaan panjang. Kerja sunyi. Kerja yang sering tidak terlihat kamera.

Saya ingin memulai dari pengalaman sederhana. Di banyak daerah, kerukunan umat beragama justru tumbuh bukan dari pidato pejabat. Ia tumbuh dari warga biasa. Dari guru madrasah yang sabar. Dari penyuluh agama yang mau duduk lama mendengar keluhan. Dari tokoh lintas iman yang memilih dialog ketimbang debat. Di sanalah makna rukun hidup. Tidak heboh. Tidak viral.

Kerukunan umat itu rapuh. Ia tidak runtuh karena perbedaan. Ia runtuh karena ketidakadilan. Ketika satu kelompok merasa diurus, yang lain merasa diabaikan. Ketika layanan negara terasa lambat di satu tempat, tapi cepat di tempat lain. Tema HAB 2026 ini seharusnya mengingatkan kita pada akar masalah itu. Rukun tidak bisa dipaksa. Ia lahir dari rasa diperlakukan setara.

Kementerian Agama punya peran strategis di titik ini. Ia bukan hanya pengelola urusan ibadah. Ia penjaga ruang sosial. Dari pencatatan nikah sampai pendidikan keagamaan. Dari urusan haji sampai kerukunan umat beragama. Jika satu layanan saja pincang, dampaknya bisa panjang. Rasa kecewa mudah berubah jadi prasangka.

Kata sinergi dalam tema ini juga sering disalahpahami. Sinergi bukan sekadar foto bersama lintas lembaga. Sinergi itu kerja bareng yang kadang melelahkan. Koordinasi yang berantakan. Ego sektoral yang harus diturunkan. Tapi tanpa itu, damai hanya tinggal kata. Indonesia tidak maju karena satu kementerian bekerja sendiri.

Saya sering bertemu pengelola madrasah kecil. Mereka bekerja dengan keterbatasan. Gaji guru minim. Fasilitas seadanya. Tapi mereka tetap mengajarkan toleransi dan akhlak. Di situlah saya belajar. Kerukunan tidak selalu lahir dari program besar. Ia lahir dari keteladanan kecil yang konsisten. Sayangnya, kerja-kerja seperti ini jarang masuk laporan prestasi.

Tema Indonesia damai dan maju juga patut dibaca dengan jujur. Damai tanpa keadilan adalah damai semu. Maju tanpa etika hanya mempercepat ketimpangan. Di sinilah agama seharusnya hadir sebagai sumber nilai publik. Bukan alat pembenaran. Bukan sekadar identitas politik. Tapi panduan moral dalam mengelola kekuasaan.

Peringatan Hari Amal Bakti sering terjebak pada seremoni. Upacara. Spanduk. Lomba. Semua itu sah. Tapi tidak cukup. Tema tahun ini seharusnya mendorong evaluasi. Apakah kebijakan kita sudah memperkuat kerukunan. Atau justru menambah jarak antar umat. Pertanyaan ini tidak nyaman. Tapi perlu.

Saya percaya, umat rukun tidak berarti umat selalu sepakat. Perbedaan itu keniscayaan. Yang penting adalah cara kita mengelola beda. Di sinilah peran pendidikan keagamaan jadi kunci. Kurikulum yang mendorong nalar kritis. Guru yang tidak alergi diskusi. Ruang dialog yang aman. Tanpa itu, sinergi hanya jadi jargon.

Sinergi juga menuntut keberanian mendengar kritik. Kementerian Agama sering berada di posisi sulit. Dikritik dari berbagai arah. Tapi kritik publik bukan musuh. Ia alarm dini. Jika alarm dimatikan, masalah justru membesar. HAB 2026 bisa menjadi momentum untuk membuka ruang dengar yang lebih jujur.

Indonesia damai dan maju bukan hadiah. Ia hasil dari kerja panjang lintas generasi. Dari kebijakan yang adil. Dari aparatur yang bersih. Dari umat yang dewasa. Tema ini mengingatkan kita bahwa agama, jika dikelola dengan bijak, adalah kekuatan pemersatu. Jika dikelola serampangan, ia bisa jadi sumber luka.

Pada akhirnya, Hari Amal Bakti ke-80 tahun ,2026 ini adalah ajakan bercermin. Apakah kita masih setia pada tujuan awal. Merawat kerukunan. Menguatkan sinergi. Menghadirkan negara yang menenangkan. Bukan negara yang membuat umat saling curiga. Tema sudah ada. Tantangannya jelas. Tinggal satu soal. Mau dikerjakan sungguh-sungguh atau tidak.

Semoga.
——–
Mulyawan Safwandy Nugraha adalah Akademisi dengan fokus kajian pada Kepemimpinan, adminstrasi dan manajemen Pendidikan. Lulus program Doktor dari UPI Bandung 2013. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi. Saat ini, diamanahi sebagai Wakil ketua Tanfidziah PCNU Kota Sukabumi. Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI) dan beberapa pengabdian di beberapa organisasi. Menyenangi dunia penelitian,, pengabdian, publikasi dan pengelolaan jurnal ilmiah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button