Kolom

Shalat Subuh : Ketika Allah Mengundang, Tetapi Kita Masih Sibuk Dengan Bantal

Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada sesuatu yang menarik dari shalat Isya dan Subuh. Keduanya sama-sama berada di wilayah yang tidak terlalu disukai manusia modern. Isya datang ketika badan sudah lelah, sementara Subuh datang ketika badan sedang merasa bahwa dunia belum perlu dimulai. Isya mengganggu kenyamanan kasur, Subuh bahkan lebih berani lagi: ia meminta kita meninggalkan mimpi ketika mimpi sedang berada pada episode paling menarik.

Karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus kepada dua shalat ini. Bukan karena shalat-shalat yang lain kurang penting, tentu saja tidak. Tetapi karena Isya dan Subuh memiliki semacam “ujian kejujuran”. Pada siang hari, orang mudah terlihat saleh. Masjid ramai, pakaian rapi, wajah segar, dan kadang-kadang foto kegiatan keagamaan juga siap diunggah.

Tetapi Isya dan Subuh berbeda.

Pada waktu Isya, manusia sudah mulai berdamai dengan rasa malas. Pada waktu Subuh, manusia sedang bernegosiasi dengan bantal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُول اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( مَنْ صَلَّى العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ في جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ )) رواه مُسْلِمٌ .

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat separuh malam. Dan barang siapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh.”

(HR. Muslim no. 656)

Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan:

(( مَنْ شَهِدَ العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفَ لَيلَةٍ ، وَمَنْ صَلَّى العِشَاءَ وَالفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ ، كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ ))

“Siapa yang menghadiri shalat Isya berjamaah, maka baginya shalat separuh malam. Dan barang siapa yang melaksanakan shalat Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya seperti shalat semalaman.”

(HR. Tirmidzi no. 221; dinyatakan hasan shahih)

Hadis ini sebenarnya sederhana. Tetapi kalau kita renungkan, ia mempunyai pesan sosial yang cukup dalam. Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang berhubungan dengan Allah, tetapi juga bagaimana seseorang keluar dari dirinya sendiri untuk bertemu dengan orang lain.

Shalat berjamaah adalah latihan untuk meninggalkan ego.

Kita datang ke masjid dengan status sosial masing-masing. Ada pejabat, dosen, pedagang, guru, petani, mahasiswa, buruh, pengusaha, orang kaya, orang biasa. Tetapi ketika berdiri dalam satu saf, semuanya menjadi manusia yang sama-sama menghadap Allah.

Yang menarik, kadang-kadang manusia justru sulit menerima persamaan itu di luar masjid.

Di dalam saf, kita rela berdiri berdampingan dengan siapa saja. Tetapi setelah salam, kita kembali kepada dunia yang penuh sekat. Ada yang merasa lebih tinggi karena jabatan. Ada yang merasa lebih penting karena gelar. Ada yang merasa lebih benar karena kelompoknya. Ada pula yang merasa lebih suci karena jumlah pengikut media sosialnya lebih banyak.

Padahal baru beberapa menit sebelumnya kita berdiri dalam satu barisan.

Barangkali inilah salah satu ironi kehidupan beragama kita. Kita rajin menyusun saf, tetapi sering lupa menyusun hubungan kemanusiaan.

Kita sangat teliti memastikan tumit sejajar, tetapi kurang teliti memastikan hati tidak saling menyakiti.

Kita sibuk memperdebatkan posisi tangan ketika berdiri, tetapi lupa bahwa tangan kita sendiri jangan sampai digunakan untuk menunjuk-nunjuk kehormatan orang lain.

Dan kita sering bertengkar mengenai siapa yang paling benar dalam urusan agama, sementara Subuh berjamaah di masjid justru semakin sepi.

Rasulullah ﷺ bahkan memberikan perhatian khusus kepada Subuh. Al-Qur’an menyebut:

إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

(QS. Al-Isra: 78)

Ada keindahan yang sangat sederhana di sini. Ketika sebagian manusia masih tertidur, ada orang-orang yang sudah bangun untuk memenuhi panggilan Allah. Tidak ada kamera yang harus merekam. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penghargaan. Bahkan sebagian besar manusia mungkin tidak tahu bahwa kita sudah berada di masjid.

Justru di situlah nilai keikhlasannya.

Kita hidup pada zaman ketika hampir segala sesuatu ingin diketahui orang lain. Makan difoto. Jalan-jalan difoto. Sedekah kadang difoto. Bahkan kegiatan yang seharusnya menjadi rahasia antara manusia dan Tuhan pun kadang ingin mendapatkan penonton.

Maka Subuh berjamaah mengajarkan sesuatu yang sederhana: berbuatlah baik meskipun tidak ada yang melihat.

Sebab kalau kita hanya rajin berbuat baik ketika ada yang melihat, mungkin yang kita cari bukan Allah, tetapi penonton.

Ada pula pelajaran lain yang tidak kalah penting. Menjaga Isya dan Subuh berjamaah berarti menjaga ritme kehidupan. Orang yang mampu mengatur malamnya untuk Isya dan mengatur tidurnya agar bisa bangun Subuh, sesungguhnya sedang belajar mengendalikan dirinya.

Ini bukan perkara kecil.

Banyak persoalan kehidupan lahir karena manusia gagal mengendalikan dirinya. Gagal mengendalikan kemarahan, gagal mengendalikan keinginan, gagal mengendalikan ambisi, bahkan gagal mengendalikan jempol ketika membaca berita politik di media sosial.

Baru membaca satu judul berita, langsung marah.

Baru melihat perbedaan pilihan, langsung memutus silaturahmi.

Baru menemukan orang yang berbeda pendapat, langsung diberi label macam-macam.

Mungkin kita perlu lebih sering ke masjid. Bukan supaya kita merasa paling suci, tetapi supaya kita ingat bahwa di hadapan Allah, kesombongan kita sebenarnya tidak ada gunanya.

Shalat berjamaah pada akhirnya bukan sekadar persoalan datang ke masjid. Ia adalah latihan untuk menjadi manusia yang lebih tertib, lebih rendah hati, lebih disiplin, dan lebih mampu hidup bersama.

Kalau seseorang rajin Subuh berjamaah tetapi setelah itu masih gemar menghina manusia lain, barangkali ia perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya sedang ia bawa pulang dari masjid?

Sebab shalat yang baik semestinya tidak berhenti di sajadah.

Ia harus berjalan ke pasar.

Ia harus masuk ke kantor.

Ia harus hadir di ruang kelas.

Ia harus sampai ke rumah.

Ia harus memengaruhi cara kita memperlakukan pasangan, anak, tetangga, mahasiswa, bawahan, atasan, bahkan orang yang berbeda pilihan politik dengan kita.

Jadi, mari kita jaga Isya dan Subuh berjamaah. Bukan semata-mata karena pahala yang besar, meskipun pahala itu tentu sangat kita harapkan. Tetapi juga karena dua shalat ini mengajarkan keberanian untuk mengalahkan diri sendiri.

Mengalahkan rasa malas.

Mengalahkan kenyamanan.

Mengalahkan ego.

Dan yang paling sulit: mengalahkan perasaan bahwa diri kita selalu paling benar.

Sebab mungkin, sesungguhnya, kemenangan terbesar seorang manusia bukan ketika ia berhasil mengalahkan orang lain, melainkan ketika ia berhasil mengalahkan dirinya sendiri untuk memenuhi panggilan Allah.

Termasuk mengalahkan bantal pada pukul empat pagi.

Dan itu, ternyata, bukan perkara sepele.

 

Wallahu ‘alamu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button