Dunia itu Manis, Tetapi Jangan Sampai Kita Kehilangan Rasa
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ada satu kenyataan yang sering luput kita sadari. Kita sering menganggap ujian hidup selalu berbentuk kesulitan, kemiskinan, penyakit, atau kehilangan. Padahal, tidak sedikit orang justru jatuh ketika hidup sedang dipenuhi kemudahan. Ketika rezeki mengalir, jabatan datang, penghormatan berdatangan, dan segala sesuatu terasa begitu menyenangkan, di situlah manusia sering lupa bahwa dunia sesungguhnya bukan hadiah terakhir. Ia hanyalah ruang ujian.
Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dengan sangat indah:
«عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ. خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء»
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.”
(HR. Muslim)
Hadis ini sering dipahami secara sempit, seolah-olah hanya berbicara tentang perempuan. Padahal, pesan pertama Nabi justru tentang dunia. Dunia disebut lebih dahulu karena memang ia adalah panggung tempat seluruh godaan itu dimainkan. Kekayaan, popularitas, kekuasaan, bahkan ilmu pengetahuan sekalipun dapat berubah menjadi fitnah ketika manusia kehilangan orientasi kepada Allah.
Di zaman sekarang, dunia tidak lagi hanya hadir dalam bentuk emas atau sawah yang luas. Dunia hadir di layar telepon genggam. Dunia hadir dalam angka-angka pengikut media sosial. Dunia hadir dalam keinginan agar selalu dipuji. Kadang kita merasa sedang berdakwah, padahal diam-diam yang kita cari hanyalah tepuk tangan. Kadang kita merasa sedang bekerja untuk umat, padahal yang sedang kita bangun sesungguhnya adalah monumen bagi ego sendiri. Ini yang sering tidak kita sadri.
Karena itu Al-Qur’an mengingatkan:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imrân/3:185)
Perdayaan dunia bukan karena dunia itu jahat. Dunia hanyalah alat. Yang menentukan arah adalah hati manusia. Pisau dapat dipakai memasak untuk keluarga, tetapi dapat pula melukai sesama. Begitu pula dunia. Ia bisa menjadi kendaraan menuju surga atau justru menjadi jalan panjang menuju penyesalan.

Lalu bagaimana memahami bagian hadis yang berbicara tentang perempuan? Saya kira, membacanya memerlukan kebijaksanaan. Rasulullah ﷺ tidak sedang menghakimi kaum perempuan. Beliau sedang mengingatkan laki-laki agar mampu mengendalikan dirinya sendiri. Sebab yang menjadi sumber persoalan sering kali bukan keberadaan perempuan, melainkan ketidakmampuan manusia mengelola hawa nafsunya. Karena itu, hadis ini sesungguhnya adalah pendidikan tentang tanggung jawab moral, bukan alasan untuk menyalahkan jenis kelamin tertentu.
Al-Qur’an pun menyebutkan:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita.”
(QS. Ali Imran: 14)
Ayat tersebut berbicara tentang kecenderungan manusia, bukan tentang kesalahan perempuan. Sebagaimana harta juga disebutkan setelahnya, demikian pula anak-anak, kendaraan, dan berbagai kenikmatan dunia. Semua adalah ujian. Tidak ada yang salah dengan memiliki. Yang salah adalah ketika dimiliki berubah menjadi diperbudak oleh apa yang dimiliki.
Begitu pula firman Allah:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ، أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Hûd/11:15–16)
Barangkali persoalan terbesar manusia modern bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kekurangan keheningan. Kita tahu banyak hal, tetapi lupa mengenal diri sendiri. Kita begitu sibuk mengejar dunia hingga tidak sempat bertanya, “Untuk apa semua ini?” Padahal, pertanyaan itu jauh lebih penting daripada jawaban tentang berapa banyak yang telah berhasil kita kumpulkan.
Seorang mukmin tidak diminta meninggalkan dunia. Ia justru diminta mengelolanya dengan amanah. Menjadi dosen yang baik, pedagang yang jujur, pejabat yang bersih, pengusaha yang dermawan, orang tua yang penuh kasih, semuanya adalah bentuk ibadah ketika orientasinya benar. Dunia tidak perlu dimusuhi. Dunia cukup ditempatkan di tangan, jangan dipindahkan ke dalam hati.
Akhirnya, hadis ini mengajarkan keseimbangan. Menikmati dunia boleh, tetapi jangan mabuk olehnya. Mengagumi keindahan boleh, tetapi jangan kehilangan kendali. Mencintai seseorang juga boleh, tetapi jangan sampai cinta itu membuat kita lupa kepada Sang Pemberi Cinta.
Barangkali ukuran keberhasilan seorang Muslim bukanlah seberapa banyak dunia yang berhasil ia kumpulkan, melainkan seberapa sedikit dunia berhasil menguasai hatinya. Ketika dunia datang, ia bersyukur. Ketika dunia pergi, ia tetap tenang. Sebab yang menjadi tujuan hidupnya bukanlah dunia, melainkan ridha Allah Swt.
Semoga kita menjadi manusia yang mampu menikmati nikmat tanpa diperbudak nikmat, memegang amanah tanpa tergoda kesombongan, dan mencintai dunia sekadarnya sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih kekal.
_Wallahu ‘alamu_




