Jangan Menjadi Tangan Yang Merobohkan Rumah Orang
Mulyawan Safwandy Nugraha

Ada orang yang merasa dirinya sedang menolong, padahal sesungguhnya sedang merobohkan. Ada yang mengira dirinya sedang membela, padahal diam-diam sedang mengobarkan api yang bahkan tidak sanggup ia padamkan sendiri.
Begitulah manusia. Kita sering salah mengenali posisi kita. Ketika melihat rumah tangga orang lain berguncang, kita tergoda menjadi hakim. Padahal, boleh jadi kita bahkan belum selesai mengadili diri sendiri.
Rasulullah ﷺ memberi peringatan yang sangat keras.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا، أَوْ عَبْدًا عَلَى سَيِّدِهِ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang merusak hubungan seorang istri dengan suaminya, atau seorang hamba dengan tuannya.”
(HR. Sunan Abu Dawud dan Musnad Ahmad).
Mengapa Rasulullah tidak sekadar mengatakan “itu dosa”? Mengapa sampai menggunakan kalimat “bukan termasuk golongan kami”?
Sebab yang dirusak bukan sekadar hubungan dua manusia. Yang dirobohkan adalah sebuah amanah. Rumah tangga bukan hanya atap dan dinding. Ia adalah tempat seseorang belajar sabar, belajar memaafkan, belajar menahan ego, dan belajar menjadi manusia.
Maka, ketika ada orang datang membawa hasutan, membawa bisikan, membawa rayuan yang membuat seorang istri membenci suaminya atau seorang suami memandang rendah istrinya, sesungguhnya ia sedang mencabut satu demi satu paku yang menyangga sebuah rumah. Ia mungkin tidak memegang palu. Ia hanya mengucapkan beberapa kalimat. Tetapi kadang-kadang satu kalimat lebih kuat daripada seratus ayunan palu.
Al-Qur’an menyebut kerusakan sebagai sesuatu yang dibenci Allah.
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Apabila ia berpaling (dari engkau), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, serta merusak tanam-tanaman dan keturunan. Allah Swt tidak menyukai kerusakan.”
(QS. Al-Baqarah: 205)
Kerusakan tidak selalu terdengar gaduh. Ada kerusakan yang datang dengan suara lembut. Dengan senyum. Dengan perhatian yang berlebihan. Dengan kalimat, “Saya hanya ingin kamu bahagia.”
Padahal, kebahagiaan yang dibangun di atas robohnya rumah orang lain adalah kebahagiaan yang kehilangan keberkahan sejak langkah pertamanya.




