Saat Hidup Tidak Selalu Mudah, Tapi Selalu Baik
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada satu hal yang sering kita kejar sepanjang hidup: rasa berhasil. Kita ukur dari jabatan, penghasilan, pengakuan, atau mungkin ketenangan yang belum tentu datang. Tapi ada satu definisi keberhasilan yang diam-diam diajarkan Nabi, sederhana tapi dalam. Bukan soal hasil luar, tapi cara hati merespons setiap keadaan.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.”
(Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).
Hadits ini terasa sederhana, tapi kalau direnungkan, seperti membalik cara kita melihat hidup. Biasanya kita bilang hidup itu baik kalau semua berjalan lancar. Tapi Nabi justru bilang, hidup seorang mukmin itu selalu baik. Bukan karena keadaannya selalu enak, tapi karena sikapnya selalu tepat.
Saya sering menemukan ini dalam hal-hal kecil. Ada hari ketika pekerjaan terasa ringan, semua rencana berjalan sesuai harapan. Kita mudah sekali mengucap syukur. Tapi ada juga hari ketika hal-hal kecil saja terasa berat. Rencana berubah, harapan tidak sesuai kenyataan. Di situ biasanya kita mulai goyah.
Padahal dua kondisi itu sebenarnya satu paket. Al-Qur’an sudah lebih dulu menjelaskan bahwa hidup memang tidak akan datar.
وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shaleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).
[QS. Al-Araf : 168]Ayat ini seperti mengingatkan kita bahwa hidup memang akan bergerak antara lapang dan sempit. Kadang di atas, kadang di bawah. Tidak ada yang stabil selamanya. Yang sering jadi masalah bukan pada perubahan itu, tapi pada kesiapan hati kita menerimanya.
Syukur sering kita pahami sebatas ucapan. Padahal syukur itu soal penerimaan. Ada orang yang penghasilannya sederhana, tapi hatinya tenang. Ada juga yang punya banyak, tapi selalu merasa kurang. Bedanya bukan di angka, tapi di ridha.
Al-Qur’an memberi jaminan yang sangat jelas tentang ini.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
[QS. Ibrahim : 7]
Menariknya, tambahan nikmat itu tidak selalu dalam bentuk yang kita bayangkan. Kadang bukan harta yang bertambah, tapi ketenangan. Bukan jabatan yang naik, tapi hati yang lebih lapang. Itu sering luput kita sadari.
Di sisi lain, sabar juga sering disalahpahami. Sabar dianggap pasrah tanpa usaha. Padahal sabar itu aktif. Sabar itu tetap berjalan, meski pelan. Tetap berusaha, meski hasil belum terlihat. Tetap percaya, meski keadaan belum berubah.
Dan sabar tidak akan kuat tanpa keyakinan. Kalau kita yakin bahwa semua ini bagian dari takdir Allah, maka beban terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya kecil, tapi karena kita tidak memikulnya sendirian.
Al-Qur’an memberi gambaran yang sangat kuat tentang balasan bagi orang yang sabar.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
[QS. Az-Zumar : 10]Tanpa batas. Kalimat ini seharusnya cukup membuat kita berpikir ulang setiap kali ingin menyerah. Ada sesuatu yang sedang disiapkan, tapi kita belum melihatnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membandingkan diri dengan orang lain. Melihat orang lain lebih berhasil, lebih mapan, lebih di depan. Tanpa sadar kita lupa bahwa setiap orang punya ujian yang berbeda. Yang terlihat enak belum tentu ringan. Yang terlihat sulit belum tentu buruk.
Hadits ini mengajak kita kembali ke diri sendiri. Bahwa ukuran keberhasilan bukan pada apa yang kita miliki, tapi bagaimana kita menyikapi apa yang kita alami.
Kalau sedang lapang, kita belajar bersyukur. Kalau sedang sempit, kita belajar bersabar. Dua-duanya proses. Dua-duanya butuh latihan. Dan dua-duanya tidak instan.
Saya pribadi merasa, bagian tersulit bukan saat diuji dengan kesulitan, tapi saat diuji dengan kemudahan. Karena dalam kemudahan, kita sering lupa. Lupa bahwa semua ini titipan. Lupa bahwa semuanya bisa berubah kapan saja.
Mungkin di situlah letak keindahan menjadi mukmin. Hidupnya tidak selalu mudah, tapi selalu bermakna. Tidak selalu sesuai rencana, tapi selalu ada arah. Tidak selalu nyaman, tapi selalu ada pelajaran.
Dan mungkin itu juga yang dimaksud Nabi sebagai sesuatu yang menakjubkan. Bukan karena hidupnya bebas masalah, tapi karena dalam kondisi apa pun, ia tetap menemukan kebaikan.
Bukan di luar sana. Tapi di dalam cara ia memandang hidupnya sendiri.
_Wallahu a’lamu_




