Opini

Krisis Adab Generasi Z dan Salah Paham tentang Solidaritas

Krisis Adab Generasi Z dan Salah Paham tentang Solidaritas

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Beberapa waktu terakhir, publik kembali dikejutkan oleh perilaku siswa yang membela teman yang salah dengan dalih solidaritas. Mereka melakukan aksi mogok dan menentang guru yang menegakkan disiplin. Fenomena ini bukan hanya tentang pelanggaran aturan sekolah, tapi cerminan melemahnya pendidikan adab di ruang kelas dan di rumah.

Anak-anak hari ini hidup di dunia yang serba cepat. Mereka tumbuh di tengah gempuran informasi dan hiburan, tapi sering kehilangan ruang untuk belajar diam, merenung, dan menghormati. Banyak yang mahir menggunakan gawai, tapi kesulitan mengendalikan emosi. Banyak yang fasih berbicara tentang hak, tapi lupa akan kewajiban.

Dalam pandangan Islam, adab menempati posisi tertinggi dalam pendidikan. Imam Malik berkata, “Pelajarilah adab sebelum ilmu.” Ini bukan nasihat biasa. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejati dimulai dari pengendalian diri dan penghormatan terhadap orang lain. Guru bukan hanya pengajar, tetapi pendidik yang membentuk kepribadian.

Sayangnya, posisi guru kini sering terancam oleh penilaian yang terburu-buru. Ketika guru menegur siswa, kadang dianggap kasar. Padahal teguran adalah bagian dari kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam dunia pendidikan, kemampuan menahan diri, baik bagi guru maupun siswa, adalah tanda kedewasaan moral.

Prof. Ahmad Tafsir, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sering mengingatkan bahwa pendidikan Islam harus melahirkan manusia yang beriman, berilmu, dan beramal saleh. Guru berperan sebagai murabbi, pendidik jiwa, bukan hanya penyampai materi. Ia membimbing dengan hati, memberi teladan dengan tindakan. Maka ketika otoritas guru diruntuhkan oleh emosi, yang hilang bukan hanya wibawa sekolah, tapi arah pendidikan itu sendiri.

Orang tua juga memegang peran penting. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Cara orang tua berbicara, marah, atau menegur akan menjadi contoh langsung bagi anak. Jika anak tumbuh dalam suasana keras, ia akan belajar bahwa kekerasan adalah cara menyelesaikan masalah. Jika anak tumbuh dalam kasih, maka kasih yang akan ia bawa ke dunia.

Adab seharusnya menjadi ruh sekolah, bukan sekadar tulisan di spanduk atau papan visi. Ia perlu hidup dalam kebiasaan kecil: cara menyapa guru, cara meminta izin, cara berdiskusi, dan cara berbeda pendapat. Di situlah pendidikan karakter sesungguhnya bekerja.

Generasi Z bukan generasi yang gagal. Mereka hanya kehilangan arah panutan. Di tengah lautan opini dan konten digital, mereka butuh keteladanan nyata. Bukan hanya dari buku, tapi dari perilaku orang dewasa di sekitarnya. Mereka butuh melihat bahwa kebaikan itu tidak perlu selalu keras, dan disiplin tidak harus diartikan sebagai kekerasan.

Adab bukan hanya sopan santun. Ia adalah kesadaran batin untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Orang yang beradab tahu kapan harus berbicara, kapan diam, kapan membela, dan kapan menegur. Itulah kunci keseimbangan moral.

Solidaritas sejati lahir dari kasih sayang, bukan dari kemarahan. Membela teman tidak berarti menutup mata atas kesalahannya. Rasulullah SAW bersabda, “Tolonglah saudaramu yang zalim maupun yang dizalimi.” Ketika sahabat bertanya bagaimana menolong yang zalim, beliau menjawab, “Engkau menahannya dari kezalimannya.” (HR. Bukhari). Hadis ini seharusnya menjadi pedoman kita dalam memahami makna solidaritas.

Pendidikan adab harus kembali menjadi prioritas nasional. Sekolah harus menanamkan nilai moral lebih kuat dari sekadar mengejar nilai akademik. Orang tua harus lebih bangga pada anak yang sopan daripada sekadar cerdas. Media sosial dan masyarakat pun harus berhenti menilai guru dengan kacamata sensasional.

Selama pendidikan kita berpijak pada nilai iman, ilmu, dan amal saleh sebagaimana ditekankan Prof. Ahmad Tafsir, kita akan tetap memiliki harapan. Karena bangsa yang beradab akan melahirkan peradaban. Adab adalah akar dari ilmu, dan tanpa akar itu, pohon pendidikan hanya akan tumbuh rapuh dan kering di tengah angin zaman.

 

Tentang Penulis:

Mulyawan Safwandy Nugraha adalah praktisi pendidikan, pegiat literasi, dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan ini bagian dari refleksi pendidikan Islam dan kepemimpinan di era digital.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button