NUPedia

Catatan Singkat: Sejarah Pendidikan Al-Qur’an dan Tradisi Keilmuan Pesantren di Sukabumi

Catatan Singkat: Sejarah Pendidikan Al-Qur’an dan Tradisi Keilmuan Pesantren di Sukabumi

Sebuah catatan menarik dari KH. Rodlibillah baru saja ditemukan. Dalam selembar kertas, beliau menuliskan gambaran singkat tentang sejarah pendidikan Al-Qur’an di wilayah Sukabumi.

Catatan tersebut mengingatkan kita bahwa sejak dahulu hingga sekarang, pesantren di Jawa Barat, khususnya Sukabumi, memiliki ciri khas yang membedakannya dari wilayah lain.
Pesantren-pesantren di tatar Sunda dikenal memiliki keahlian khusus dalam satu fan (bidang ilmu). Walaupun seluruh disiplin ilmu syariah dan alat tetap diajarkan di dalamnya, namun setiap pesantren biasanya memilih satu bidang tertentu sebagai kekuatan utamanya. Fan tersebut kemudian menjadi icon, identitas, sekaligus magnet bagi para santri dari berbagai daerah.

Karena itu, tidak mengherankan apabila dalam keseharian, bahkan dalam pengajian pasaran, kitab-kitab yang berkaitan dengan fan tersebut menjadi inti dari pelajaran.
Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun, diwariskan dari guru kepada murid, dan turut membentuk peta keilmuan klasik di Jawa Barat.

Beberapa contoh pesantren yang menonjol dengan spesialisasi fan masing-masing antara lain:
– Pesantren Cibeunteur, Banjar, yang masyhur dengan pengajian Fathul Mu’īn.
– Pesantren Sukaraja dan Sadang, Garut, terkenal dengan pengajaran Alfiyyah ibn Mālik.
– Pesantren Cikalama, Sumedang, dengan Nahwu Shorof-nya.
– Pesantren Kubang, Cianjur, dengan ilmu Falak.
– Pesantren Benjot, Gasol Wetan, Cianjur, juga terkenal dengan Alfiyyah-nya.
– Pesantren Warudoyong dan Cibereum, Sukabumi, dikenal kuat dalam Balāghah dan Manṭiq.
– Pesantren Jengjing, Sukabumi, yang menonjol dalam pengajaran ilmu alat.
– Pesantren Salajambu, Sukabumi, terkenal dengan pengajian pasaran Jam‘ul Jawāmi‘.
– Pesantren Cikaroya, Sukabumi, masyhur dalam bidang Tafsir.
– Pesantren Panjalu, Sukabumi dalam Fiqih,
dan masih banyak lagi pesantren lainnya yang turut memperkaya khazanah keilmuan tatar Sunda.

Sedangkan pondok pesantren di Sukabumi yang pertama kali memusatkan perhatian pada pengajaran Al-Qur’an adalah Pesantren Pabuaran, sebagaimana tercatat dalam tulisan KH. Rodlibillah.
Dalam tulisannya beliau menyebutkan

فسنترين فرتاما القرآن ؛ معارف القرآن فبواران، تعليم القرآن بالقراءة بالمشافهة

Pesantren pertama Al-Qur’an (di Sukabumi) yaitu Pesantren Ma’ariful Qur’an, mengajarkan Al-Qur’an dengan cara membaca secara musyāfahah, (tatap muka langsung) yakni membaca Al-Qur’an di hadapan guru, lalu guru mendengarkan, mengoreksi, dan membimbing secara lisan.

Pesantren Ma’ariful Qur’an didirikan oleh KH. Abdullah bin Husein, yang terkenal dengan guru-nya para kiai Sukabumi.
Cara pengajaran KH. Abdullah ini diteruskan oleh santri-santrinya, dan didukung para ulama Sukabumi saat itu.

يڠ مندوكوڠ فپباران قراءة القران بالتجويد
١. فسنترين بباكان ماكڠ بباكان بندوڠ
٢. فسنترين لمفيڠ
٣. فسنترين بنداڠ چفرياڠن
٤. فسنترين چفتير
٥. فسنترين تفار
٦. فسنترين كبون كاوڠ
diantaranya;
– KH. Mahfudz, pesantren Babakan Mageung, Babakan Bandung,
– KH. Syafi’i, pesantren Lamping,
– KH. Hariri, pesantren Cipriangan,
– KH. Idris Zainuddin, pesantren Cipetir,
– KH. Masthuro, pesantren Tipar,
– KH. Ibrohim, pesantren Kebon Kawung.

KH. Abdullah Pabuaran juga menulis kitab yang membahas Tajwid dan Qiroat, dan di sebutkan dalam catatan tersebut

كراڠن كتابنا ؛
١. مفتاح المريد لباب التجويد
٢. جامع الإشارات في بيان القراءات

Disebutkan pula bahwa di antara murid KH. Abdullah yang mengembangkan dan mengajarkan Al-Qur’an beserta qirā’at-nya adalah Jang Aden Shoma. Beliau membuka pengajian tersebut pada tahun 1956 di Cimahi, Cisaat, dan turut mengajarkan tafsir dari kitab yang ditulis oleh KH. Ahmad Sanusi Gunung Puyuh.

Enden Ahmad Muhibuddin, LTN PCNU Kota Sukabumi
Sukabumi, 12 Desember 2025

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button