Tiga Hari Setelah Kurban, Jangan Ikut-Ikutan Hilang

Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha
Setelah Idul Adha, biasanya yang hilang itu bukan cuma kambing. Makna juga ikut lenyap pelan-pelan. Kita kembali sibuk. Kembali serius. Seolah-olah hidup ini hanya soal kerja dan cicilan. Padahal ada tiga hari yang disiapkan. Namanya hari tasyrik. Tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Tiga hari ini sering dianggap sisa. Padahal justru di situlah pelajaran dimulai. Agama ini kadang kita jalani seperti acara seremonial. Datang, ramai, lalu bubar tanpa bekas.
Rasulullah ﷺ menyebut hari tasyrik sebagai hari makan, minum, dan berdzikir. Kalau dibaca cepat, ini seperti libur panjang. Makan saja. Minum saja. Tapi jangan salah. Justru di situ ujiannya. Kita ini kalau makan, sering lupa diri. Kalau kenyang, ingat Tuhan belakangan. Maka hari tasyrik seperti sindiran halus. Silakan makan. Tapi jangan lupa siapa yang kasih makan. Silakan minum. Tapi jangan merasa hidup ini hasil usaha sendiri.
Masalah kita sederhana. Kita ini kuat menahan lapar, tapi lemah menahan lupa. Puasa bisa. Tapi ingat Allah saat kenyang, itu yang sering gagal. Maka hari tasyrik itu latihan. Bukan latihan menahan, tapi latihan menyadari. Setiap suap itu ada Tuhan. Setiap nikmat itu ada sumbernya. Kalau ini berhasil, hidup jadi lebih waras.
Di sela makan itu, kita bertakbir. Allahu Akbar. Ini kalimat pendek. Tapi kalau serius, bisa meruntuhkan kesombongan. Kita ini sering merasa besar. Punya jabatan sedikit, gaya sudah seperti pemilik dunia. Punya uang sedikit, lupa daratan. Maka takbir itu pengingat. Yang besar itu bukan kita. Kita ini kecil. Cuma sering tidak mau mengaku.
Dulu para sahabat bertakbir di mana-mana. Di jalan. Di pasar. Di rumah. Bukan karena ingin didengar. Tapi karena ingin saling mengingatkan. Sekarang kita kadang malu. Takut dibilang kuno. Padahal yang kuno itu justru lupa diri. Ingat Tuhan itu tidak pernah ketinggalan zaman.
Hari tasyrik juga soal berbagi. Daging kurban itu tidak untuk dipamerkan di status. Tapi untuk dibagikan. Ada rumah yang jarang masak daging. Ada anak yang mungkin setahun sekali merasakannya. Di situ kurban bekerja. Bukan sekadar memotong hewan. Tapi memotong jarak sosial.
Yang menarik, yang memberi dan yang menerima sama-sama diuji. Yang memberi diuji, apakah ikhlas atau ingin dipuji. Yang menerima diuji, apakah tetap punya harga diri atau merasa rendah. Kalau dua-duanya lulus, di situlah masyarakat sehat mulai terbentuk.
Kita ini sering bicara keadilan sosial. Seminar di mana-mana. Diskusi panjang. Tapi kadang lupa, Islam sudah punya cara sederhana. Kurban. Dibagi. Selesai. Tidak perlu teori rumit. Tinggal mau atau tidak.
Rasulullah ﷺ malah melarang puasa di hari tasyrik. Ini menarik. Biasanya kita merasa makin susah, makin tinggi nilainya. Tapi di sini tidak. Kita diminta menikmati. Artinya jelas. Menjadi saleh itu tidak harus selalu kelihatan menderita. Menikmati nikmat dengan sadar juga ibadah.
Bagi yang haji, ada lempar jumrah. Melempar setan. Tapi jangan salah paham. Setan yang dilempar itu bukan yang di Mina saja. Yang di kepala kita ini lebih bandel. Ego. Serakah. Merasa paling benar. Itu yang seharusnya kita lempar tiap hari.
Akhirnya, hari tasyrik itu seperti pesan penutup. Setelah kurban, jangan langsung lupa. Jangan biarkan agama berhenti di seremoni. Hidupkan dalam keseharian. Dalam cara makan. Dalam cara berbagi. Dalam cara berpikir.
Kalau tiga hari ini kita jalani dengan sadar, mungkin kita tidak akan mudah merasa paling hebat. Dan kalau itu terjadi, hidup jadi lebih ringan. Orang lain tidak kita injak. Diri sendiri tidak kita tipu. Dan Tuhan, mudah-mudahan, tidak kita lupakan.




