Hikmah

Ketika Kurban Menjadi Cermin Kejujuran Kita

Mulyawan Safwandy Nugraha

Saya pernah duduk di sudut masjid, selepas Idul Adha. Orang-orang pulang dengan wajah lega. Sebagian membawa kantong daging. Sebagian lain hanya membawa cerita. Di titik itu, saya merasa kurban bukan sekadar ibadah. Ia seperti cermin. Ia memantulkan kejujuran kita tentang apa yang kita anggap penting dalam hidup.

Kita sering berkata, “Belum mampu.” Kalimat itu terdengar wajar. Bahkan terasa aman. Tapi diam-diam saya bertanya, belum mampu atau belum mau mengatur? Kita mampu mencicil banyak hal. Kendaraan, gawai, gaya hidup. Kita disiplin membayar itu setiap bulan. Tidak pernah lupa. Tidak pernah menunda. Tapi saat bicara kurban, kita menunggu sisa. Padahal sisa itu hampir selalu habis.

Barangkali masalahnya bukan pada rezeki. Tapi pada prioritas.

Kurban mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi berat. Melepaskan. Bukan dari yang kita tidak punya. Tapi dari yang kita genggam erat. Nabi Ibrahim diuji bukan dengan sesuatu yang asing. Ia diuji dengan yang paling ia cintai. Di situlah iman menemukan bentuknya.

Hari ini, kita tidak diminta mengorbankan anak. Kita hanya diminta menyisihkan sebagian harta. Namun anehnya, itu terasa jauh lebih sulit.

Saya melihat ironi yang pelan. Di satu sisi, ada orang yang setiap tahun berkurban dengan mudah. Di sisi lain, ada yang bahkan tidak pernah mencoba. Kesenjangan ini bukan hanya soal ekonomi. Ini soal keberanian untuk memulai.

Bayangkan jika di satu kampung, sebagian besar warganya berkurban. Apa yang terjadi? Bukan hanya daging yang tersebar. Tapi rasa keadilan ikut hidup. Anak-anak yang jarang makan protein, hari itu bisa merasakannya. Peternak lokal tersenyum karena dagangannya laku. Warga berkumpul, bekerja bersama, tertawa, dan saling menyapa. Kurban menjahit kembali relasi sosial yang mulai renggang.

Tapi semua itu tidak terjadi jika kita terus menunda.

Kurban sebenarnya bisa direncanakan. Sederhana. Menyisihkan sedikit demi sedikit. Bukan menunggu banyak. Sepuluh ribu sehari cukup untuk mengubah alasan menjadi kenyataan. Yang dibutuhkan bukan jumlah besar di akhir, tapi komitmen kecil yang konsisten sejak awal.

Di sinilah kurban berubah makna. Ia bukan lagi beban tahunan. Ia menjadi latihan hidup. Latihan jujur pada diri sendiri. Apakah kita benar ingin mendekat kepada Allah, atau hanya ingin merasa cukup dengan alasan.

Mungkin kita tidak perlu menunggu mampu sepenuhnya. Kita hanya perlu mulai. Karena sering kali, jalan terbuka setelah langkah pertama diambil.

Dan saat hari itu tiba, ketika kita benar-benar berkurban, yang paling terasa bukan kehilangan. Tapi kelegaan. Seolah ada yang luruh dari dalam diri. Mungkin itu ego. Mungkin itu keterikatan yang selama ini kita pelihara tanpa sadar.

Kurban, pada akhirnya, bukan tentang hewan yang disembelih. Tapi tentang diri yang dibebaskan. Maukah kita termasuk orang yang terbebaskan?
Maka, berkurbanlah.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button