Topeng yang Retak: Psikologi Kebohongan pada Seorang NPD
Topeng yang Retak: Psikologi Kebohongan pada Seorang NPD

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Akademisi dengan fokus kajian pada Kepemimpinan di Lembaga Pendidikan Islam. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi.
—-
Bohong selalu tampak sederhana di permukaan. Seseorang mengatakan sesuatu yang tidak sesuai fakta, entah untuk melindungi diri, menyenangkan orang lain, atau sekadar menghindar dari rasa malu. Tapi di balik kebohongan, ada dunia batin yang gelap dan berlapis. Di sana, manusia berjuang antara keinginan untuk diterima dan ketakutan untuk ditolak.
Pada sebagian orang, kebohongan muncul sesekali. Namun bagi individu dengan _Narcissistic Personality Disorder (NPD)_, bohong bisa menjadi bagian dari cara hidup. Ia bukan lagi tindakan sesaat, tapi sistem pertahanan diri yang terus bekerja, bahkan tanpa disadari.
Berikut adalah hal-hal yang bisa dibahas terkait persoalan tersebut. Pembahasan berikut adalah bagaimana menggambarkan seorang NPD dengan perilaku dan kebiasaan bohong.
—
1. Bohong sebagai Pelindung Diri
Dalam psikologi, kebohongan sering muncul sebagai mekanisme pertahanan ego. Tujuannya bukan semata untuk menipu orang lain, tapi untuk melindungi citra diri. Pada orang dengan kepribadian narsistik (NPD), citra diri adalah segalanya. Ia hidup dari kekaguman orang lain.
Misalnya, seorang pejabat yang ingin terlihat hebat di mata publik bisa saja mengklaim keberhasilan program yang sebenarnya belum selesai. Ia memerintahkan stafnya untuk “mempoles” laporan, mengganti angka, atau memotong informasi. Di ruang konferensi, ia tersenyum, menunjukkan grafik indah yang jauh dari kenyataan. Ia tahu itu tidak benar, tapi kebohongan itu membuatnya terasa aman. Ia takut terlihat gagal.
Begitulah cara kerja narsisisme: menciptakan dunia semu agar ego tetap hidup. Seperti seseorang yang terus memperbaiki topengnya setiap kali retak. Lama-lama ia sendiri lupa bagaimana wajah aslinya.
—
2. Bohong dalam Hubungan Sosial
Kebohongan seorang NPD tidak hanya terjadi di ruang publik, tapi juga dalam hubungan pribadi. Ia bisa berkata, “Saya tidak pernah marah,” padahal baru saja memaki. Atau, “Saya tidak salah,” meski jelas-jelas menyakiti orang lain. Semua ini bukan karena ia tidak tahu, tapi karena pengakuan akan kesalahan berarti akan merusak citra dirinya.
Banyak pasangan atau rekan kerja orang narsistik yang mengeluhkan hal ini. Setiap kali ada masalah, mereka menghadapi tembok. Narsistik tidak mau disalahkan. Ia bisa mengubah cerita, membelokkan fakta, bahkan memutar logika agar dirinya selalu benar.
Contohnya sederhana. Seorang kepala sekolah narsistik bisa menyalahkan guru atas kegagalan akreditasi, padahal keputusan strategis semua diambil olehnya. Ia menulis laporan bahwa “guru belum siap”, sementara data yang ia kirim sudah dimanipulasi. Dalam rapat yayasan, ia berpidato panjang, menampilkan diri sebagai pemimpin tangguh yang berjuang sendirian. Semua demi satu hal: mempertahankan citra.
—
3. Kebohongan yang Lama-lama Menjadi “Kebenaran”
Dalam psikologi kepribadian, ada istilah confabulation: kebiasaan menciptakan kisah palsu yang akhirnya diyakini sebagai kebenaran. Ini sering terjadi pada orang narsistik. Karena begitu sering memutar fakta, mereka benar-benar percaya bahwa versi mereka adalah yang paling benar.
Misalnya, seorang dosen yang ingin dikenal berprestasi mengatakan kepada mahasiswa bahwa ia baru saja diundang menjadi pembicara internasional. Padahal ia hanya mengikuti webinar sebagai peserta. Lama-lama, karena cerita itu terus diulang, ia benar-benar percaya bahwa ia pembicara. Ia bahkan menulisnya di CV.
Kebohongan seperti ini tidak tampak jahat. Tapi efeknya besar. Ia menanamkan budaya ketidakjujuran di sekitarnya. Mahasiswa yang melihatnya akan berpikir, “Kalau dosen saya saja bisa begitu, kenapa saya tidak?” Maka kebohongan menjalar. Dari ruang pribadi menjadi kebiasaan sosial.
—
4. Ketika Kebenaran Menjadi Ancaman
Orang narsistik punya hubungan yang rumit dengan kebenaran. Ia tahu bahwa kebenaran penting, tapi juga menakutkan. Kebenaran bisa merobohkan citra yang ia bangun bertahun-tahun. Karena itu, ia akan menolak, menghindar, atau menyerang siapa pun yang mengungkap fakta.
Coba perhatikan dunia kerja kita. Ada pimpinan yang tidak suka dikritik. Setiap laporan yang menunjukkan kelemahan dianggap “tidak loyal”. Ia lebih suka mendengar kabar baik yang palsu daripada kabar buruk yang benar. Dalam situasi seperti ini, kebohongan menjadi sistem. Orang-orang di bawahnya belajar untuk tidak jujur. Mereka belajar memoles laporan, menutupi data, menyenangkan atasan.
Inilah yang disebut Cak Nur sebagai “penyakit struktural moral”. Ketika kebohongan pribadi berubah menjadi budaya lembaga. Dan lembaga yang hidup dari kebohongan cepat atau lambat akan runtuh.
—
5. Bohong dan Ketakutan Dihina
Ada alasan emosional di balik kebohongan seorang NPD. Ia sering membawa luka lama yang dalam. Di masa kecilnya mungkin sering diremehkan, diabaikan, atau dibandingkan. Maka ketika dewasa, ia membangun benteng untuk melindungi diri. Setiap pujian membuatnya merasa berharga, setiap kritik terasa seperti serangan.
Bohong menjadi senjata untuk mempertahankan martabat yang rapuh. Ia berkata “semua baik-baik saja” padahal hatinya kacau. Ia tertawa di depan orang banyak, tapi menangis sendiri di kamar. Ia menutupi luka dengan cerita kemenangan.
Seorang guru yang narsistik bisa mengatakan, “Saya paling disukai murid,” padahal murid-muridnya sudah mulai menjauh. Ia menolak kenyataan itu karena terlalu menyakitkan. Ia tidak siap menghadapi fakta bahwa orang lain bisa tidak menyukainya.
—
6. Bohong dan Kekuasaan
Dalam konteks sosial, kebohongan sering menjadi alat kontrol. Seorang pemimpin narsistik tidak hanya berbohong untuk melindungi dirinya, tapi juga untuk mengendalikan orang lain. Ia menyebarkan informasi yang tidak benar agar orang tetap bergantung padanya.
Misalnya, seorang pengurus lembaga menyatakan bahwa bantuan dari pemerintah sudah cair padahal belum, agar tetap terlihat mampu mengurus. Ia memanipulasi informasi ke staf agar dianggap “paling tahu”. Semua data harus melewati dirinya. Ia memegang kebenaran seperti senjata.
Dalam jangka panjang, sistem seperti ini melahirkan masyarakat yang tidak berani berpikir. Mereka menunggu informasi dari “atas”, bukan dari fakta. Padahal kebenaran seharusnya dibuka, bukan disembunyikan.
—
7. Akibat Sosial: Hilangnya Kepercayaan
Kebohongan, sekecil apa pun, merusak jaringan kepercayaan. Begitu seseorang berbohong, orang lain akan mulai ragu terhadap semua ucapannya. Dalam organisasi, ini sangat fatal. Tidak ada tim yang bisa solid tanpa kejujuran.
Kita bisa lihat contohnya dalam lembaga pendidikan, organisasi sosial, bahkan masjid. Ketika pengurus mulai memberi laporan yang tidak sesuai fakta, misalnya jumlah dana, program, atau hasil kegiatan, maka rasa percaya jamaah menurun. Orang tidak lagi berinfak dengan ikhlas. Hubungan spiritual berubah menjadi hubungan transaksional.
Cak Nur pernah mengatakan, “Kepercayaan adalah fondasi kehidupan sosial.” Artinya, kebohongan bukan hanya dosa pribadi, tapi ancaman bagi peradaban. Sekali kepercayaan hilang, masyarakat akan hidup dalam kecurigaan.
—
8. Bohong dan Ilusi Keberhasilan
Ada satu paradoks menarik pada orang narsistik. Ia sering merasa sukses padahal hidupnya penuh ilusi. Ia meyakinkan orang lain bahwa dirinya luar biasa, sampai-sampai ia sendiri percaya. Tapi keberhasilan yang dibangun di atas kebohongan rapuh.
Contohnya banyak. Seorang kepala lembaga menampilkan laporan keuangan yang “bersih” padahal ada pos-pos yang disembunyikan. Ia menerima pujian, mendapat penghargaan, tapi ketika audit datang, semuanya terbongkar. Ia panik, merasa dikhianati, padahal yang mengkhianatinya adalah kebohongannya sendiri.
Kebenaran memang kadang datang terlambat, tapi pasti datang. Dan ketika datang, ia tidak hanya membongkar fakta, tapi juga menghancurkan rasa percaya. Itulah sebabnya Nabi bersabda, “Kebenaran membawa keselamatan, dan kebohongan membawa kebinasaan.” (HR. Ahmad).
—
9. Bohong dalam Dunia Digital
Zaman sekarang, kebohongan punya wajah baru. Ia tidak lagi diucapkan lewat mulut, tapi disebarkan lewat jari. Media sosial memberi ruang bagi siapa pun untuk menciptakan versi dirinya yang sempurna.
Lihatlah seseorang yang memotret makan malamnya lalu menulis, “Syukurlah, rezeki tidak pernah putus,” padahal sebenarnya ia sedang berutang. Atau influencer pendidikan yang mengaku mendapat undangan konferensi luar negeri, padahal hanya ikut lewat Zoom. Ini bukan sekadar ingin eksis. Ini cara halus untuk menutupi rasa kurang.
Orang dengan kecenderungan narsistik merasa lebih mudah berbohong di dunia digital, karena di sana tidak ada cermin realitas yang langsung. Tapi setiap kebohongan digital tetap meninggalkan jejak spiritual: rasa bersalah yang pelan-pelan menggerogoti ketenangan.

—
10. Dari Bohong Menuju Kebenaran: Jalan Pemulihan
Dalam pandangan Cak Nur, perubahan moral selalu berawal dari kesadaran diri. Manusia bisa salah, tapi tidak boleh berhenti di kesalahan. Termasuk kebohongan.
Bagi seseorang dengan NPD, langkah pertama menuju penyembuhan adalah mengakui bahwa kebohongan bukan solusi, melainkan sumber penderitaan. Ia harus belajar bahwa cinta dan penghargaan sejati datang bukan dari citra, tapi dari kejujuran.
Proses ini tentu tidak mudah. Orang narsistik harus menghadapi rasa takut yang ia sembunyikan selama ini. Ia harus berani berkata, “Saya salah.” Harus berani menunjukkan kelemahan tanpa merasa hina. Dalam bahasa agama, inilah taubat: keberanian untuk menatap cermin dan melihat diri apa adanya.
—
11. Pendidikan Moral di Era Ego
Kita hidup di zaman yang mendorong narsisisme: media sosial, kompetisi, pencitraan. Orang mudah tergoda untuk menunjukkan versi terbaik dari dirinya, meski palsu. Maka pendidikan moral harus menekankan satu hal: keberanian untuk jujur.
Di sekolah, anak-anak harus dibiasakan untuk berkata sesuai fakta. Jika nilainya turun, jangan disuruh menutupi. Jika gagal lomba, jangan disuruh berdalih. Guru dan orang tua perlu memberi teladan bahwa jujur lebih penting daripada terlihat hebat.
Cak Nur selalu menekankan pentingnya akhlak rasional: moral yang didasari pemahaman, bukan ketakutan. Artinya, anak harus mengerti mengapa berbohong itu salah, bukan sekadar karena takut dihukum, tapi karena kebohongan menghancurkan dirinya sendiri.
—
12. Dari Cermin Cak Nur: Menjadi Manusia Seutuhnya
Bagi Cak Nur, inti ajaran Islam adalah memanusiakan manusia. Dan manusia tidak bisa menjadi utuh tanpa kejujuran. Bohong memecah diri: antara yang tampak dan yang tersembunyi. Sedangkan jujur menyatukan keduanya.
Seorang NPD yang belajar jujur sedang belajar menjadi manusia seutuhnya. Ia mulai berdamai dengan ketidaksempurnaan. Ia tidak lagi perlu memalsukan prestasi, memoles citra, atau menutupi fakta. Ia bisa mengatakan, “Saya tidak tahu,” tanpa merasa rendah. Ia bisa berkata, “Saya gagal,” tanpa kehilangan harga diri.
Kejujuran semacam ini membebaskan. Ia tidak hanya menenangkan jiwa, tapi juga memperkuat hubungan sosial. Sebab orang akan lebih menghormati mereka yang berani mengakui kebenaran daripada yang pandai berpura-pura.
—
13. Menutup dengan Keheningan yang Jujur
Di akhir segala kebohongan, manusia selalu kembali pada keheningan. Tidak ada lagi pujian, tidak ada penonton, hanya diri dan Tuhan. Di situlah semua topeng runtuh.
Ketika itu terjadi, kebenaran yang dulu ditolak akan terasa seperti cahaya yang lembut. Menyakitkan, tapi menenangkan. Dan barangkali di titik itu seseorang baru benar-benar mengerti makna hadis Nabi: “Kebenaran membawa ketenangan, kebohongan membawa kegelisahan.”
Karena yang sejati memang tidak pernah butuh topeng. Yang benar tidak butuh dibenarkan. Dan yang jujur, meski tampak lemah, sesungguhnya paling kuat.
—
Begitulah kebohongan pada seorang NPD: ia bukan sekadar dosa, tapi juga jerat psikologis. Namun setiap jerat bisa dilepaskan, selama ada kesadaran dan keberanian untuk menatap kenyataan.
Dan barangkali, kebenaran sejati bukanlah yang diucapkan dengan mulut, tapi yang diakui dengan hati.
_Wallahu a’lamu_




