Opini

Dibalik Jurang Yang Menganga : Suara Islam Dan Negara Menjawab

Oleh: H. Rizal Yusup Ramdhan
Kepala Seksi PD Pontren Kemenag Kota Sukabumi
Wakil Katib Syuriyah PCNU Kota Sukabumi

Ada jerit sunyi yang menggema dari lorong-lorong sempit perkotaan,
ada ratap yang tak terdengar dari ladang-ladang kering di ujung negeri.
Mereka bukan tak bersuara—suara mereka ditelan hiruk-pikuk kapital dan kuasa.
Inilah kesenjangan: luka kolektif yang menganga di tubuh umat dan bangsa.

Saat satu meja makan melimpah sajian,
meja yang lain bahkan tak cukup kayu untuk menampung harap.
Ketika jari-jari mengusap layar ponsel jutaan, ada tangan renta yang bahkan tak sanggup mengangkat sepiring nasi.

Kesenjangan bukan hanya tentang angka dan grafik, ia adalah pilu yang menjelma nyata dalam air mata anak yang tak sekolah, dalam lelah pekerja yang tak digaji layak, dalam sepi petani yang ditelan pasar global.

Islam bukan agama langit yang membisu atas derita bumi. Ia turun — bukan hanya membawa shalat, tapi juga keadilan;
bukan hanya berbicara tentang surga, tapi juga tentang roti di meja.

“Agar harta tidak berputar hanya di kalangan orang-orang kaya…” (Al-Hasyr: 7)

Zakat adalah syair solidaritas yang ditulis dengan angka, infaq adalah senyum yang dititipkan lewat tangan, wakaf adalah warisan cinta yang tak lekang zaman.

Nabi Muhammad SAW  bukan hanya pendiri masjid, beliau juga pemimpin yang menjamin perut lapar dan telanjang tertutup kain.
Beliau merobohkan menara kesombongan sosial, dan menanam pohon persaudaraan di atas tanah Madinah.

Negara bukan hanya bangunan birokrasi,
ia adalah khalifah—penjaga keseimbangan antara langit dan bumi.
Ia wajib menanam keadilan di ladang ekonomi, dan memanen kesejahteraan di lumbung rakyat.

Pajak yang adil, seperti zakat, adalah ikrar kehadiran negara bagi si lemah.
Pendidikan gratis adalah jembatan yang menghubungkan anak tukang becak dan anak pejabat pada bangku peradaban.
Kesehatan universal adalah jaminan bahwa tubuh yang lemah tidak akan mati hanya karena miskin.

Negara mesti hadir—tidak hanya dalam pidato dan poster— tapi di desa yang terpencil, di kampung yang tertinggal,
di tubuh rakyat yang penat bekerja tapi tetap miskin.

Kesenjangan sosial bukan kodrat,
ia adalah dosa kolektif yang terjadi jika kita membiarkan kemewahan melampaui kepedulian.

Islam telah menulis risalah cinta untuk kaum tertindas, dan negara diberi pena untuk menuliskannya dalam kebijakan dan pelayanan.

Maka mari kita perbaiki dunia ini,
bukan dengan teriak kosong, tapi dengan tangan yang memberi, dengan kebijakan yang adil, dan dengan cinta yang nyata.

“Tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya lapar.”
(HR. Bukhari)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button