Opini

Jangan Menjadi Budak Intelektual : Seruan Untuk Mengamalkan Ilmu

Oleh : H. Rizal Yusup Ramdhan
Wakil Katib Syuriyah PCNU Kota Sukabumi Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Kota Sukabumi

Kita hidup di era yang luar biasa, zaman di mana kecerdasan buatan (AI) hadir sebagai solusi cepat untuk menyelesaikan berbagai tantangan, termasuk dalam hal keilmuan. AI telah mengambil alih sebagian besar peran dalam mendukung pencapaian kesuksesan intelektual.

Kini, seseorang dapat mengetahui banyak hal tanpa harus menempuh proses pendidikan secara formal. Lalu apa makna pendidikan jika semua bisa diketahui dengan mudah?

Sesungguhnya pendidikan baik formal, non-formal, maupun informal, saat ini tidak harus di posisikan sekadar menjadi ruang untuk mentransfer ilmu pengetahuan saja.

Penyelenggaraan Pendidikan harus difokuskan pada pembentukan karakter, kecerdasan emosional, dan akhlak.

Ruang Pendidikan harus lebih diposisikan sebagai ruang praktek dan laboratorium dalam menjalani dan memenuhi kebutuhan hidup yang penuh dengan kebermanfaatan baik untuk peserta didik atau untuk orang di lingkungan sekitar.

Karena Ilmu yang tidak diamalkan bisa jadi hanya akan menjadi beban, hanya menjadikan peserta didik tinggi hati, hanya menjadikan peserta didik menjadi komentator, ketimbang menjadi eksekutor dari berbagai problematika kehidupan yang tengah terjadi di masyarakat. Jauh dari hidayah, dan dekat dengan kehancuran.

Ilmu seharusnya tidak hanya disampaikan, tetapi diamalkan. Banyak orang membutuhkan manfaat dari ilmu, bukan hanya penjelasan dari ilmu. Amal-lah yang dibutuhkan masyarakat dari mereka yang berilmu.

Al Qur’an sebagai Wahyu yang di turunkan hanya dalam masa 23 tahun, terbukti nyata dapat merubah tatanan kehidupan peradaban yang penuh dengan diskriminatifl menjadi kehidupan yang ramah damai dan produktif, karena pada saat itu Al quran bukan hanya sekedar di ketahui, dibaca dan dihafal oleh Rosulullah Muhammad Saw, dan para sahabat namun di amalkan dan di laksanakan seiring turunya wahyu secara bertahap sehingga Al Qur’an tepancar dalam prilaku Rosullah,
Sehingga Syadiah Aisyah pun mengatakan ‘Kana khuluhu Al Qur’an”

Maka, marilah kita menjadi insan ‘āmil—orang yang mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al Ghozali dalam kitab bidayatul hidayah pernah mengingatkan:

Man zada ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallahi illa bu`dan

“Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah hidayahnya, maka ia tidak bertambah kecuali dalam keterperukan.” Jauh dari Rahmat Allah SWT.

Semoga kita tidak menjadi budak intelektual, tetapi menjadi hamba yang berusaha dan beristiqomah dalam beramal shalih.

Mari kita luruskan niat dalam mencari ilmu, agar ilmu itu membawa manfaat, keberkahan, dan menjadi jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button