Warta

Wakil Katib Syuriyah PCNU Kota Sukabumi, KH. Rizal Yusup Ramdhan, S.Ag., M.Pd., Mengecam Keras Penghinaan Trans7 terhadap Santri dan Kiai

Wakil Katib Syuriyah PCNU Kota Sukabumi, KH. Rizal Yusup Ramdhan, S.Ag., M.Pd., Mengecam Keras Penghinaan Trans7 terhadap Santri dan Kiai

Wakil Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Sukabumi, KH. Rizal Yusup Ramdhan, S.Ag., M.Pd., menyampaikan kecaman keras terhadap tayangan Trans7 yang dinilai telah menghina dan merendahkan martabat santri serta para kiai.

Menurut KH. Rizal, tindakan Trans7 bukan sekadar kelalaian, tetapi sudah termasuk penghinaan terhadap tradisi keilmuan dan kehormatan pesantren.

“Santri dan kiai adalah pilar moral bangsa, bukan bahan lelucon murahan di layar kaca. Mereka memiliki kehasan dan kemandirian dalam menyelenggarakan pendidikan, menanamkan nilai-nilai akhlak dan kebangsaan, serta menjaga keutuhan iman umat. Mengolok santri berarti menodai akar moral bangsa itu sendiri,” tegasnya.

Beliau menambahkan, pesantren berdiri dengan kehormatan dan kemandiriannya jauh sebelum republik ini berdiri.

“Kiai dan santri tidak pernah mengusik budaya siapa pun. Kami menghormati cara dan keyakinan orang lain. Tapi mengapa kalian justru berani mengusik budaya dan cara kami? Dengan itu kalian telah menghina kemerdekaan pesantren dan menodai perjuangan para ulama yang telah menumpahkan darah demi kemerdekaan negeri ini!”

KH. Rizal menilai bahwa Trans7 telah melukai hati jutaan santri dan kiai di seluruh Indonesia.

“Kalian tidak hanya menyinggung pesantren, tetapi juga melecehkan sejarah dan perjuangan bangsa. Jangan bermain-main dengan kehormatan ulama! Jangan jadikan layar televisi sebagai panggung penghinaan terhadap lembaga yang telah melahirkan para pahlawan dan pejuang kemerdekaan,” ujarnya dengan nada tegas.

Beliau menyerukan agar Trans7 segera meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat pesantren, Nahdliyyin, dan seluruh umat Islam Indonesia.

“Jika Trans7 masih punya nurani, tunjukkan dengan sikap ksatria. Akui kesalahan kalian dan minta maaf secara terbuka. Jangan sembunyikan kesalahan di balik alasan hiburan dan kebebasan media. Kebebasan tidak berarti bebas menghina!”

Di akhir pernyataannya, KH. Rizal menegaskan, “Santri bukan tontonan. Kiai bukan bahan ejekan. Kami berdiri dengan ilmu dan kehormatan. Dan siapa pun yang mencoba merendahkan marwah pesantren, akan berhadapan dengan suara jutaan santri yang siap membela harga diri dan kehormatannya.”

 

LTN PCNU Kota Sukabumi

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button