Kolom

Ketika Identitas Mengalahkan Kebenaran

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

 

Ada satu penyakit lama yang terus hidup dalam wajah baru. Namanya ‘ashabiyyah. Ia tidak selalu tampil kasar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang tampak wajar. Loyalitas kelompok. Kebanggaan identitas. Solidaritas tanpa batas. Tetapi di titik tertentu, ia berubah menjadi buta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dengan sangat tegas:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

Dari Jubair bin Muth’im, Rasulullah bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada ashabiyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah.”

(HR. Abu Dawud No. 4456)

Kalimat “bukan termasuk golongan kami” bukan sekadar teguran. Itu peringatan keras. Seolah Nabi ingin mengatakan, ada garis yang tidak boleh dilanggar. Ketika seseorang membela kelompoknya meski jelas salah, ia sedang menjauh dari nilai yang dibawa Rasulullah.

Saya sering bertanya pada diri sendiri. Mengapa manusia mudah sekali terseret pada ‘ashabiyyah. Jawabannya sederhana. Karena ia memberi rasa aman. Kita merasa kuat saat berada dalam kelompok. Kita merasa benar karena bersama banyak orang. Padahal kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai.”

(QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini sering dibaca saat kita bicara persatuan. Tapi jarang kita renungkan lebih dalam. Persatuan yang dimaksud bukan persatuan kosong. Bukan sekadar berkumpul. Tetapi persatuan yang bertumpu pada “tali Allah”. Artinya, kebenaran menjadi dasar. Bukan kepentingan kelompok.

Di sinilah ‘ashabiyyah menjadi berbahaya. Ia menciptakan persatuan semu. Orang berkumpul, tetapi bukan karena kebenaran. Mereka berkumpul karena identitas. Karena kesamaan suku. Karena satu organisasi. Karena satu kepentingan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat bentuk kecilnya. Seorang pemimpin salah, tetapi pengikutnya tetap membela. Seorang tokoh melakukan kekeliruan, tetapi para pendukungnya menutup mata. Bahkan mencari pembenaran.

Lebih jauh lagi, ‘ashabiyyah membuat seseorang kehilangan kejujuran moral. Ia tidak lagi bertanya, “Ini benar atau salah?” Ia hanya bertanya, “Ini dari kelompok saya atau bukan?”

Padahal Islam membangun kesetiaan pada sesuatu yang lebih tinggi. Aqidah. Nilai. Kebenaran. Bukan sekadar identitas sosial.

Menariknya, Rasulullah tidak hanya melarang mengajak kepada ‘ashabiyyah. Beliau juga melarang berjuang karenanya. Bahkan mati karenanya. Ini menunjukkan bahwa penyakit ini bisa merasuki seluruh aspek kehidupan. Dari ucapan, tindakan, sampai pengorbanan.

Saya teringat satu realitas yang sering kita saksikan. Konflik antar kelompok yang awalnya kecil, kemudian membesar. Bukan karena masalahnya besar, tetapi karena ego kelompok ikut bermain. Setiap pihak ingin menang. Bukan ingin benar.

Di titik itu, kebenaran menjadi korban pertama.

Padahal Islam mengajarkan keberanian untuk berdiri di atas kebenaran, meski itu merugikan kelompok sendiri. Ini tidak mudah. Butuh kejujuran hati. Butuh keberanian moral.

Karena itu, melawan ‘ashabiyyah bukan sekadar urusan sosial. Ini urusan spiritual. Ini tentang kejernihan hati. Tentang kemampuan melihat kebenaran tanpa bias kepentingan.

Barangkali kita perlu bertanya dengan jujur. Ketika kita membela sesuatu, apakah karena itu benar. Atau karena itu milik kita.

Di situlah ujian sebenarnya.

Wallahu ‘alamu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button