Kolom

Ketika Tangan Penuh, Hati Kosong

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

قالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: “قالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ:

يا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبادَتِي، أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ،

وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ، مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ.”

“Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku akan menutup kefakiranmu…”

(HR. Ahmad, Tirmidzi)

Ada fenomena yang sering kita lihat. Orang punya banyak hal, tapi tetap merasa kurang. Sudah naik level, masih ingin lebih. Sudah tercapai target, muncul target baru. Seperti tidak ada titik selesai.

Hadits ini menjelaskan dengan sangat jernih. Allah tidak mengatakan akan mengurangi kesibukan kita. Tapi Allah bisa mengisi kesibukan itu dengan makna atau mengosongkannya dari makna.

Kalimat “Aku akan memenuhi tanganmu dengan kesibukan” itu menarik. Artinya, kita tetap bergerak. Tetap aktif. Tapi tanpa arah yang menenangkan.

Saya pernah merasakan hari yang sangat padat. Banyak pekerjaan selesai. Banyak hal tercapai. Tapi malamnya, ada rasa hampa. Tidak ada rasa syukur yang muncul. Tidak ada ketenangan.

Lalu saya bandingkan dengan hari lain. Pekerjaan biasa saja. Tidak terlalu banyak capaian. Tapi ada waktu duduk sebentar setelah shalat. Ada dzikir yang pelan. Anehnya, hari itu terasa lebih “utuh”.

Di sini kita mulai melihat perbedaannya. Bukan pada jumlah aktivitas. Tapi pada kualitas keterhubungan dengan Allah.

Al-Qur’an sudah memberi peringatan yang halus tapi tegas:

“وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةًۭ ضَنكًۭا…”

Kehidupan sempit itu bisa terjadi saat kita tidak punya ruang untuk Allah di dalam hati.

Kita sering berpikir, nanti kalau sudah selesai semua urusan, baru fokus ibadah. Padahal urusan itu tidak pernah selesai. Selalu ada lanjutan.

Hadits ini seperti mengajak kita membalik cara berpikir. Bukan menunggu waktu luang untuk ibadah. Tapi meluangkan waktu agar hidup kita tidak kosong.

Saya belajar bahwa ibadah itu bukan tambahan. Ibadah itu fondasi. Kalau fondasinya lemah, bangunan sebesar apapun tetap rapuh.

Kita boleh punya mimpi besar. Boleh bekerja keras. Tapi jangan sampai kita kehilangan pusat. Karena tanpa pusat, kita hanya berputar.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan jadwal. Tapi prioritas.

Karena yang membuat hidup terasa penuh bukan banyaknya isi. Tapi hadirnya Allah di dalamnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button