Adil Ditengah Perbedaan
Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha

Ada satu nilai yang sering hilang ketika ‘ashabiyyah menguasai hati. Nilai itu adalah keadilan. Padahal keadilan adalah inti ajaran Islam.
Ketika seseorang sudah terjebak dalam fanatisme, ia tidak lagi melihat manusia sebagai individu. Ia melihat label. Ia melihat kelompok. Ia melihat identitas.
Akibatnya, penilaian menjadi tidak adil.
Al-Qur’an memberi peringatan yang sangat kuat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ
“Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian sebagai pemimpin jika mereka lebih memilih kekafiran daripada keimanan.” (QS. At-Taubah: 23)
Ayat ini tegas. Bahkan terhadap keluarga sendiri, Islam memberi batas. Jika mereka berada di jalan yang salah, kita tidak boleh mengikuti atau membenarkan.
Ini bukan ajakan untuk memutus hubungan. Tetapi ajakan untuk menjaga prinsip.
Sering kali kita keliru memahami loyalitas. Kita kira setia berarti selalu membela. Padahal dalam Islam, setia berarti tetap bersama kebenaran.
Dalam kehidupan sosial, ini menjadi ujian yang berat. Kita hidup dalam banyak identitas. Keluarga, organisasi, bangsa. Semua itu penting. Tetapi tidak boleh mengalahkan nilai.
Salah satu bentuk ‘ashabiyyah yang sering muncul adalah membela kelompok hanya karena kesamaan identitas. Tanpa melihat apakah mereka benar atau salah.
Kita lihat dalam banyak kasus. Ketika ada konflik antar kelompok, fakta sering diabaikan. Yang penting siapa lawan siapa.
Padahal Al-Qur’an menuntut sesuatu yang lebih tinggi. Keadilan, bahkan kepada orang yang berbeda.
Allah berfirman:
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
“Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Maidah: 8)
Keadilan dalam Islam tidak selektif. Ia tidak tergantung pada kedekatan. Tidak tergantung pada identitas. Ia berdiri di atas kebenaran.
Saya pernah merenung. Mengapa keadilan begitu sulit ditegakkan. Jawabannya sederhana. Karena ia sering bertentangan dengan kepentingan.
Dan ‘ashabiyyah adalah bentuk kepentingan yang paling kuat. Ia menyatu dengan identitas. Ia menyentuh emosi. Ia membuat orang merasa sedang membela sesuatu yang penting.
Padahal yang dibela belum tentu benar.
Di sinilah pentingnya kejernihan hati. Kita perlu melatih diri untuk melihat sesuatu apa adanya. Bukan berdasarkan siapa yang mengatakan, tetapi apa yang dikatakan.
Ini bukan sikap dingin. Ini sikap dewasa.
Karena masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang bebas konflik. Tetapi masyarakat yang mampu menjaga keadilan di tengah perbedaan.
Dan itu hanya mungkin jika kita mampu keluar dari jebakan ‘ashabiyyah.
Bukan berarti kita tidak boleh mencintai kelompok. Kita boleh. Tetapi cinta itu harus ditempatkan dengan benar. Ia tidak boleh mengalahkan kebenaran.
Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukan identitas. Tetapi kejujuran kita dalam berdiri di atas nilai.
Wallahu ‘alamu




