Persaudaraan Yang Tidak Buta
Oleh : Mulyawan Safwandy Nugraha

Islam berbicara tentang persaudaraan dengan bahasa yang indah. Tetapi juga dengan batas yang jelas. Persaudaraan bukan berarti membenarkan segala hal. Persaudaraan bukan berarti kehilangan keadilan.
Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini sederhana. Tapi dalam. Ia tidak menyebut semua manusia sebagai saudara dalam konteks ini. Ia menyebut orang beriman. Artinya, persaudaraan dalam Islam dibangun di atas iman. Di atas nilai yang sama. Di atas komitmen pada kebenaran.
Namun di lapangan, kita sering melihat hal yang berbeda. Persaudaraan berubah menjadi pembelaan tanpa batas. Ketika satu pihak salah, pihak lain tetap membela dengan alasan “saudara”.
Di sinilah ‘ashabiyyah masuk secara halus.
Rasulullah mengingatkan dalam hadits lain:
عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
“Barang siapa terbunuh di bawah bendera fanatisme, yang menyeru kepada ashabiyyah atau membelanya, maka matinya seperti mati jahiliyah.”
(HR. Muslim No. 3440)
Perhatikan kata “bendera”. Ia simbol. Simbol identitas. Simbol kelompok. Simbol yang bisa membuat orang rela berkorban. Bahkan kehilangan nyawa.
Tetapi Nabi memberi batas. Jika pengorbanan itu didorong oleh fanatisme buta, maka ia tidak bernilai di sisi Allah.
Saya sering melihat fenomena ini dalam skala kecil. Dalam organisasi. Dalam komunitas. Dalam lingkungan kerja. Ketika konflik terjadi, orang tidak lagi melihat substansi masalah. Mereka melihat siapa yang berada di kubu mana.
Akhirnya, kebenaran menjadi relatif. Tergantung posisi.
Padahal Islam mengajarkan sikap yang lebih matang. Tetap bersaudara, tetapi tidak kehilangan keadilan. Tetap dekat, tetapi tidak menutup mata.
Al-Qur’an memberi panduan yang sangat tegas:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا
“Wahai orang-orang beriman, jadilah kalian penegak keadilan karena Allah. Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum membuat kalian tidak adil.”
(QS. Al-Maidah: 8)
Ayat ini menarik. Ia tidak hanya melarang ketidakadilan kepada kelompok yang kita benci. Secara implisit, ia juga menegur ketidakadilan kepada kelompok yang kita cintai.
Karena cinta juga bisa membutakan.
Dalam hubungan sosial, kita sering diuji oleh dua hal. Kebencian dan kecintaan. Keduanya bisa membuat kita tidak objektif. ‘Ashabiyyah tumbuh di antara keduanya.
Maka, persaudaraan dalam Islam bukan persaudaraan yang memanjakan. Ia persaudaraan yang menguatkan. Jika saudara kita salah, kita luruskan. Jika kita salah, kita siap diluruskan.
Ini memang tidak nyaman. Tetapi inilah bentuk cinta yang jujur.
Saya teringat satu prinsip sederhana. Membela orang yang benar itu mudah. Membela kebenaran ketika orang yang kita cintai salah, itu sulit. Tapi di situlah nilai kita diuji.

Karena pada akhirnya, yang dipertanyakan bukan seberapa kuat kita membela kelompok. Tetapi seberapa jujur kita berdiri di atas kebenaran.
_Wallahu ‘alamu_




