Kegelapan Itu Bernama Zalim
Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha
عن جابر رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
((اتقوا الظلم فإن الظلم ظلمات يوم القيامة…))
Nabi tidak mengatakan zalim itu dosa biasa. Nabi menyebutnya kegelapan. Bukan satu kegelapan, tapi banyak.Jamak. Ini memberi pesan bahwa setiap bentuk kezaliman akan melahirkan lapisan kegelapan baru dalam hidup manusia.
Kita sering membayangkan kiamat sebagai peristiwa besar. Padahal, kiamat juga bisa dibaca sebagai puncak dari akumulasi tindakan kita sendiri. Apa yang kita tanam di dunia, itu yang kita panen di sana.
Al-Qur’an bertanya:
هَلْ تَسْتَوِى ٱلظُّلُمَـٰتُ وَٱلنُّورُ
_Apakah sama kegelapan dan cahaya?_
Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya menentukan arah hidup. Jika kita memilih kezaliman, kita sedang memilih kegelapan. Jika kita memilih keadilan, kita sedang menuju cahaya.
Masalahnya, kezaliman sering terasa ringan. Kadang kita menunda hak orang. Kadang kita memotong antrean. Kadang kita mengambil keuntungan dari posisi. Semua itu tampak kecil, tapi dalam pandangan Allah, tidak ada yang kecil jika itu menyangkut hak manusia.
Nabi juga mengingatkan tentang syuhh, sifat kikir. Ini bukan sekadar tidak mau memberi. Ini soal mentalitas takut kehilangan. Orang yang dikuasai syuhh akan melakukan apa saja untuk mempertahankan miliknya.
Sejarah membuktikan.
حَمَلَهُمْ عَلَى أنْ سَفَكُوا دِمَاءهُمْ
“Mendorong mereka menumpahkan darah.”
Ini bukan hiperbola. Ini realitas. Banyak konflik besar lahir dari sifat kecil yang tidak dikendalikan.
Saya sering melihat dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang awalnya hanya ingin sedikit lebih, akhirnya mengambil banyak. Orang yang awalnya hanya ingin aman, akhirnya menindas orang lain. Semua berawal dari hati yang tidak dijaga.

Dalam hadis qudsi Allah berfirman:
“Janganlah kalian saling menzalimi.”
Kalimat ini langsung. Tidak ada ruang tafsir yang rumit. Tidak ada pengecualian.
Zalim itu bisa terjadi di rumah. Orang tua yang tidak adil pada anak. Suami yang tidak menjaga amanah. Istri yang mengabaikan kepercayaan.
Zalim juga terjadi di kantor. Atasan yang sewenang-wenang. Bawahan yang tidak jujur. Rekan kerja yang menjatuhkan.
Zalim bahkan bisa terjadi dalam ibadah. Ketika kita merasa paling benar dan merendahkan orang lain.
Al-Qur’an memberi gambaran yang menggetarkan:
مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ
“Orang zalim tidak punya teman setia.” (QS Ghafir: 18)
Artinya, semua hubungan sosial yang dibangun di atas kezaliman akan runtuh. Tidak ada yang benar-benar setia dalam kegelapan.
Kita hidup di zaman yang kompleks. Banyak sistem, banyak kepentingan. Tapi pesan Nabi tetap sederhana. Jangan zalim.
Mulai dari hal kecil.
Jaga ucapan.
Jaga keputusan.
Jaga niat.
Karena setiap tindakan akan membentuk cahaya atau kegelapan dalam diri kita.
Saya percaya, orang yang berusaha adil mungkin tidak selalu menang di dunia. Tapi ia tidak akan tersesat. Ia tahu arah. Ia tahu batas.
Dan itu sudah cukup untuk menjaga hidup tetap terang.




