Sukabumi dalam Ingatanku : Catur
Sukabumi dalam Ingatanku: Catur
Oleh Kang Warsa

Bulan Agustus selalu identik dengan berbagai perlombaan sebagai ekspresi kegembiraan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Perlombaan memang bukan inti dari menapaktilasi perjuangan para pahlawan, tetapi ia menjadi salah satu cara masyarakat merawat ingatan bersama tentang arti kebersamaan, sportivitas, kerja keras, dan semangat pantang menyerah.
Di kampung-kampung, perlombaan juga menjadi media pendidikan karakter. Anak-anak belajar menerima kekalahan, menghargai kemenangan, bersabar menunggu giliran, sekaligus menjalin persahabatan. Tidak semua nilai itu diajarkan di ruang kelas. Sebagian justru tumbuh di halaman rumah, lapangan desa, dan gardu ronda. Salah satu permainan yang memiliki nilai pendidikan tinggi, tetapi kini mulai terlupakan, adalah catur.
Pada era 1980–1990-an, catur menjadi salah satu cabang olahraga yang diperlombakan di kampung halaman saya, Balandongan. Saat itu catur termasuk permainan modern bagi masyarakat kampung, tetapi popularitasnya luar biasa. Hampir setiap anak mengenalnya. Anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar sudah memahami cara menjalankan pion, benteng, gajah, kuda, menteri, hingga raja. Bagi kami, catur bukan permainan yang sulit dipelajari, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Seingat saya, sembilan dari sepuluh anak di Balandongan mampu memainkan catur dengan baik. Setiap Ahad pagi mereka berkumpul secara bergiliran di rumah-rumah warga. Rumah Mang Aat, Pak Mualim Zaka, Kang Ae, Pak Odang, Bah Oman, Pak Tatang, hingga rumah saya menjadi tempat yang hampir tidak pernah sepi oleh suara bidak yang dipindahkan di atas papan. Dari pukul delapan pagi hingga menjelang zuhur, pertandingan berlangsung tanpa hadiah, tanpa wasit, tanpa trofi. Hadiahnya hanyalah kepuasan karena mampu melakukan skakmat kepada teman sendiri.
Yang menarik, tidak ada batasan usia. Anak-anak duduk berhadapan dengan orang dewasa tanpa rasa canggung. Jika kalah, mereka belajar. Jika menang, mereka tidak menjadi sombong karena pada pertandingan berikutnya bisa saja kembali dikalahkan. Di situlah catur mengajarkan kesetaraan. Yang dihormati bukan usia, melainkan kemampuan berpikir.
Saya sendiri telah mengenal catur bahkan sebelum duduk di bangku sekolah dasar. Mungkin karena hampir setiap hari melihat orang-orang dewasa bermain, akhirnya saya ikut memahami bagaimana setiap bidak bergerak. Lambat laun saya mulai mengerti bahwa permainan ini bukan hanya memindahkan buah catur, melainkan menyusun strategi, membaca kemungkinan, mengendalikan emosi, dan belajar berpikir beberapa langkah ke depan. Tanpa disadari, catur menjadi salah satu sekolah kehidupan yang kami jalani secara alami.
Kemampuan anak-anak saat itu tentu tidak muncul begitu saja. Orang-orang tua di Balandongan telah mengenal permainan catur sejak generasi sebelumnya, sekitar dekade 1950-an hingga 1970-an. Hampir setiap rumah yang penghuninya gemar bermain memiliki papan catur lengkap dengan bidaknya.
Keberadaan papan catur di ruang tamu sama lazimnya dengan keberadaan radio atau lemari buku sederhana. Dari sanalah proses regenerasi berlangsung secara alami. Tidak ada kursus, tidak ada pelatih, tidak ada modul pembelajaran. Anak-anak belajar hanya dengan mengamati, mencoba, kalah, lalu mencoba kembali.
Fenomena paling berkesan terjadi setiap bulan Ramadan. Ketika libur sekolah tiba, catur menjadi hiburan utama. Anak-anak bermain sejak pagi hingga menjelang Asar. Mereka hanya berhenti ketika waktu zuhur tiba, lalu kembali berkumpul hingga menjelang ngabuburit. Tidak terdengar keluhan bosan. Tidak ada telepon genggam yang mengalihkan perhatian. Waktu terasa berjalan lambat, tetapi justru itulah yang membuat kebersamaan benar-benar bermakna.
Hal lain yang mengesankan adalah wawasan para pemain catur di kampung. Meskipun tinggal jauh dari hiruk pikuk kota, mereka mengenal nama-nama besar seperti Mikhail Botvinnik, Mikhail Tal, Jose Raul Capablanca, Bobby Fischer, Boris Spassky, hingga Paul Morphy.
Ketika Utut Adianto mulai menorehkan prestasi internasional, namanya menjadi kebanggaan bersama. Saya sendiri mulai terbiasa membaca notasi catur di harian KOMPAS. Dari sanalah saya mengenal Garry Kasparov, Anatoly Karpov, Judit Polgar, dan berbagai pertandingan besar dunia. Rasanya luar biasa bahwa sebuah kampung kecil memiliki hubungan batin dengan dunia melalui papan catur.
Kini suasana itu perlahan menghilang. Sejak sekitar tahun 2005, popularitas catur di Balandongan terus menurun. Permainan digital mengambil alih ruang bermain anak-anak. Waktu yang dahulu dihabiskan untuk berkumpul kini lebih banyak dihabiskan di depan layar.
Anak-anak modern memang memiliki akses informasi yang jauh lebih luas, tetapi mereka kehilangan ruang interaksi yang dahulu begitu alami. Kita semakin jarang melihat anak-anak berkumpul mengelilingi papan catur, saling memberi semangat, tertawa ketika melakukan langkah keliru, atau bergantian duduk setelah salah seorang kalah.
Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa catur memiliki banyak manfaat. Permainan ini melatih konsentrasi, kemampuan memecahkan masalah, kesabaran, daya ingat, kreativitas, hingga kemampuan mengambil keputusan. Catur juga mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Satu langkah yang tergesa-gesa dapat mengubah seluruh jalannya permainan. Pelajaran semacam ini sesungguhnya sangat relevan bagi kehidupan.
Karena itu, rasanya tidak berlebihan jika catur kembali dihadirkan dalam perlombaan Agustusan, kegiatan karang taruna, atau aktivitas di sekolah dan balai desa. Kita tidak sedang bernostalgia semata, melainkan berusaha menghidupkan kembali sebuah budaya belajar yang pernah tumbuh di tengah masyarakat. Tidak semua permainan lama harus ditinggalkan hanya karena zaman berubah.
Bahkan, bila ingin membangkitkan rasa ingin tahu generasi muda, kita dapat mulai dengan menceritakan salah satu pertandingan paling legendaris sepanjang sejarah, Opera Game, yang dimainkan Paul Morphy di Paris pada abad ke-19. Pertandingan itu mengisahkan kemenangan seorang jenius, pelajaran tentang keberanian berkorban, keindahan strategi, dan kecerdasan berpikir.
Mungkin suatu hari nanti, di sebuah sore bulan Agustus, kita kembali melihat anak-anak berkerumun di serambi rumah atau gardu ronda, menunggu giliran memainkan bidak putih dan hitam. Jika hari itu benar-benar datang, barangkali bukan hanya permainan catur yang kembali hidup, melainkan juga kebersamaan yang pernah menjadi denyut nadi kampung kita.




