Tuhan Tidak Membutuhkan Centang Biru Kita
Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada satu hal yang menarik dari kehidupan beragama kita: sering kali kita begitu sibuk membuktikan bahwa kita beriman, sampai lupa kepada siapa iman itu sebenarnya ditujukan. Kita memasang ayat di dinding, mengutip hadis di media sosial, menghadiri pengajian, memakai istilah-istilah keislaman dengan sangat fasih, bahkan sesekali marah kepada orang lain karena dianggap kurang Islami. Tetapi ada pertanyaan sederhana yang kadang justru paling sulit dijawab: apakah dalam semua itu kita benar-benar sedang menyembah Allah, atau sedang menyembah citra diri kita sendiri sebagai orang saleh?
Pertanyaan semacam ini menjadi penting ketika kita membaca hadis Nabi Muhammad ﷺ tentang tauhid. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
«عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ، فَقَالَ: «يَا مُعَاذُ، هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟» قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا». فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ؟ قَالَ: «لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ»
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Aku pernah membonceng di belakang Rasulullah shalallahu alaihi wa salam di atas seekor keledai. Beliau bersabda: ‘Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya, dan apa hak hamba-hamba atas Allah?’ Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sedangkan hak hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.’ Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?’ Beliau menjawab, ‘Jangan engkau sampaikan kepada mereka, karena mereka nanti akan bersandar (hanya kepada kabar gembira itu) dan meninggalkan amal.'”
Hadis ini sederhana, tetapi akibat sosialnya bisa sangat panjang. Nabi tidak sekadar mengajarkan tauhid sebagai teori teologis. Beliau sedang mengingatkan bahwa manusia harus berhati-hati terhadap penyakit yang lebih halus daripada syirik kepada berhala: bersandar kepada sesuatu selain Allah.
Dahulu orang mungkin menyembah patung karena menganggap patung itu mempunyai kekuatan. Sekarang bentuknya bisa lebih canggih. Orang tidak lagi membawa patung ke mana-mana, tetapi membawa angka rekening, jabatan, popularitas, jumlah pengikut, koneksi politik, gelar akademik, bahkan jumlah “like” sebagai sumber rasa aman. Patungnya sudah berubah menjadi digital. Alamat penyembahannya pun berpindah dari kuil ke layar ponsel.
Tentu saja uang bukan dosa. Jabatan juga bukan dosa. Ilmu dan popularitas pun bukan dosa. Yang menjadi masalah adalah ketika semuanya diam-diam berubah menjadi “tuhan kecil” yang menentukan harga diri kita. Kita merasa berharga ketika dipuji, merasa hina ketika dikritik, merasa aman ketika memiliki jabatan, dan merasa tidak berarti ketika kehilangan pengaruh.
Padahal Al-Qur’an sudah sangat jelas:
«وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ»
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Persoalannya, beribadah kepada Allah bukan hanya perkara memperbanyak ritual. Shalat kita mungkin panjang, tetapi keserakahan kita juga panjang. Dzikir kita mungkin banyak, tetapi kesabaran kita pendek. Kita rajin berbicara tentang kejujuran, tetapi ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi, kejujuran mendadak menjadi barang mewah.
Di sinilah tauhid menjadi sangat politis dalam pengertian sosial—bukan karena tauhid harus dijadikan alat politik, tetapi karena tauhid membebaskan manusia dari menyembah manusia. Orang yang benar-benar bertauhid seharusnya tidak mudah menjadi budak penguasa, uang, kelompok, ataupun opini publik.
Al-Qur’an mengingatkan:
«وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ»
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kedzaliman yang besar.'”
(QS. Luqman: 13)
Menariknya, Nabi juga meminta Mu’adz agar tidak buru-buru menyampaikan kabar gembira itu. Mengapa? Karena manusia sering mengambil satu bagian agama yang menyenangkan lalu meninggalkan bagian yang menuntut tanggung jawab.

Ini penyakit lama. Kita senang mendengar Allah Maha Pengampun, tetapi kurang senang mendengar bahwa kita harus bertobat. Kita suka mendengar surga, tetapi tidak terlalu suka mendengar kewajiban. Kita senang mendengar rahmat, tetapi kurang nyaman mendengar amanah.
Allah berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ»
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisa: 48)
Karena itu, tauhid bukan tiket gratis untuk menjadi manusia semaunya. Tauhid justru merupakan undangan untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Allah juga berfirman:
«الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ»
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. Al-An’am: 82)
Dan bentuk tauhid yang benar adalah ketulusan:
«وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ»
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah Swt dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Maka barangkali persoalan terbesar kita bukan apakah kita sudah mengucapkan laa ilaaha illallah. Persoalannya adalah: berapa banyak “ilah” selain Allah yang masih kita pelihara dalam kehidupan sehari-hari?
Kita mungkin tidak sujud kepada jabatan, tetapi bisa jadi kita menjilatnya. Kita tidak menyembah uang, tetapi bisa jadi kita mengorbankan prinsip demi mendapatkannya. Kita tidak menyembah manusia, tetapi bisa jadi kita takut kehilangan tepuk tangannya.
Tauhid pada akhirnya adalah perjalanan panjang untuk membebaskan hati. Membebaskan diri dari ketakutan kepada selain Allah. Membebaskan pikiran dari fanatisme. Membebaskan amal dari pamer. Dan membebaskan agama dari sekadar menjadi aksesoris sosial.
Sebab Allah tidak membutuhkan pengakuan kita. Allah tidak membutuhkan branding kesalehan kita. Allah tidak membutuhkan centang biru dari manusia untuk membuktikan bahwa kita adalah orang baik.
Kitalah yang membutuhkan Allah.
Dan mungkin justru di situlah letak kejujuran tauhid: ketika tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, tidak ada pengikut, tidak ada pujian, dan tidak ada manusia yang tahu—kita masih tetap memilih untuk menjadi hamba-Nya.
Sebab pada akhirnya, tauhid bukan tentang seberapa keras kita mengatakan “Allah”, tetapi seberapa sedikit sesuatu selain Allah yang mampu mengendalikan hati kita.
Wallahu ‘alamu




