Ketika Allah Mengundang Kita di Jam yang Tidak Populer
Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada satu undangan yang sebenarnya sangat istimewa, tetapi anehnya sering kita abaikan. Undangan itu datang bukan melalui WhatsApp, bukan melalui surat resmi, bukan pula melalui ajudan. Ia datang setiap malam, kira-kira pada saat sebagian besar manusia sedang bergelut dengan bantal dan selimut. Tidak ada suara notifikasi. Tidak ada tulisan urgent. Tetapi bagi orang yang mau mendengarnya, undangan itu sangat jelas: “Bangunlah. Mari berbicara sebentar dengan Tuhanmu.”
Inilah salah satu rahasia shalat malam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ
“Dari Abu Umamah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat malam adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat kepada Allah Swt. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa.’”
(HR. Tirmizi, lihat Al-Irwa’ no. 452. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.)
Kalau direnungkan, hadits ini cukup menarik. Rasulullah tidak mengatakan bahwa orang yang rajin shalat malam pasti menjadi orang yang paling kaya, paling terkenal, paling banyak pengikutnya, atau paling cepat mendapatkan jabatan. Yang disebut justru sesuatu yang jauh lebih mendasar: dekat dengan Allah, menghapus kesalahan, dan mencegah dosa.
Ini penting pada zaman ketika banyak orang ingin dekat dengan kekuasaan, tetapi lupa mendekat kepada Tuhan.
Kita sering melihat orang rela bangun pukul tiga pagi karena takut kehilangan peluang bisnis. Ada pula yang sanggup begadang sampai menjelang subuh karena pertandingan sepak bola. Bahkan untuk melihat unggahan terbaru seseorang di media sosial, mata yang katanya sudah mengantuk tiba-tiba menjadi sangat sehat. Tetapi ketika alarm berbunyi untuk tahajud, tangan kita mendadak memiliki kemampuan luar biasa: mematikan alarm tanpa membuka mata.
Barangkali inilah salah satu ironi manusia modern. Kita sanggup terjaga untuk banyak hal, tetapi sulit terjaga untuk Tuhan.
Padahal Al-Qur’an menggambarkan orang-orang saleh dengan cara yang sangat indah:
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.”
(QS. Adz Dzariyat : 17)
Ayat ini tentu bukan ajakan untuk menjadi manusia kurang tidur sepanjang hidup. Islam tidak memusuhi tidur. Tubuh juga memiliki hak. Tetapi ayat tersebut menunjukkan bahwa bagi orang-orang tertentu, malam bukan sekadar tempat untuk beristirahat. Malam adalah ruang untuk berbicara dengan Allah ketika dunia sedang sunyi.
Pada siang hari kita berbicara kepada banyak orang. Malam hari memberi kesempatan kepada kita untuk berbicara kepada Allah.
Siang hari kita sibuk menjelaskan diri kepada manusia. Malam hari kita dapat berhenti sejenak dan membiarkan Allah mengetahui siapa sebenarnya kita.
Karena itu Allah berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا
“Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.”
(QS. Al Insan : 26)
Shalat malam juga mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana: kesalehan tidak selalu membutuhkan penonton.
Di zaman media sosial, hampir semua hal ingin dipertontonkan. Sedekah difoto. Perjalanan diposting. Makanan diabadikan. Bahkan terkadang ibadah pun ingin diketahui orang lain. Padahal tahajud justru menawarkan pengalaman yang berbeda. Ia dilakukan ketika hampir tidak ada manusia yang melihat.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada komentar.
Tidak ada tombol like.
Hanya seorang hamba dan Tuhannya.
Mungkin justru di situlah kejujuran ibadah diuji.
Allah kemudian bertanya:
أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آَنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآَخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu- waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya ? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
(QS. Az Zumar : 9)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa ilmu tanpa kesadaran batin bisa menjadi sekadar koleksi informasi. Orang boleh mengetahui banyak hal tentang agama, tetapi belum tentu agamanya telah membuat dirinya menjadi lebih lembut, lebih jujur, dan lebih takut berbuat zalim.
Sebab itu shalat malam disebut sebagai mukaffirah lis-sayyi’at—sarana penghapus kesalahan—dan manhāh ‘anil itsm—penghalang dari perbuatan dosa.
Orang yang setiap malam berhadapan dengan Allah semestinya menjadi malu untuk berbuat seenaknya pada manusia.
Ia tahu bahwa jabatan akan berakhir.
Uang akan berpindah tangan.
Popularitas akan hilang.
Tetapi Allah tidak pernah pergi.
Al-Qur’an bahkan menggambarkan orang bertakwa:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.”
(QS. Adz Dzariyat : 15-18)

Maka mungkin kita tidak perlu terlalu banyak bertanya, “Apa manfaat tahajud bagi saya?”
Pertanyaan yang lebih baik adalah: “Mengapa saya masih belum mau memenuhi undangan Allah, padahal setiap malam saya diberi kesempatan untuk datang?”
Tahajud tidak menjadikan kita manusia tanpa masalah. Ia tidak selalu membuat hidup menjadi mudah. Tetapi ia dapat membuat hati lebih kuat menghadapi hidup yang tidak mudah.
Dan mungkin, pada akhirnya, kita akan mengerti: di tengah dunia yang begitu ramai, Allah justru menyediakan waktu paling sunyi agar kita dapat menemukan diri sendiri.
Malam tidak populer. Tetapi justru di situlah kadang-kadang pertolongan Allah terasa paling dekat.
Wallahu ‘alamu




