Hikmah

Jejak Langkah di Tanah Para Wali

Ismatullah MA , MWC Lembursitu

Sebuah Perjalanan Ziarah, Menyusuri Warisan Ulama dan Menemukan Makna Kehidupan.

 

Ada perjalanan yang hanya memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain.

Namun ada pula perjalanan yang perlahan memindahkan hati—dari lalai menuju ingat, dari gelisah menuju tenang, dari merasa memiliki ilmu menuju kesadaran bahwa kita hanyalah bagian kecil dari panjangnya mata rantai perjuangan para ulama.

Perjalanan itu dimulai dengan niat sederhana:

Berziarah kepada para wali dan ulama, mengenang perjuangan mereka, serta mencari hikmah yang mungkin selama ini luput dari kehidupan.

Langkah pertama membawa kami menuju makam Sunan Gunung Jati. Di Cirebon, suasana terasa berbeda. Di tempat itu, sejarah, dakwah, dan doa seakan bertemu dalam satu ruang.

Mengenang Sunan Gunung Jati mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu dilakukan dengan suara yang keras. Kadang ia hadir melalui keteladanan, kebijaksanaan, budaya, dan kemampuan merangkul manusia.

Di hadapan pusara beliau, hati seperti diajak bertanya:

Sudahkah ilmu yang kita miliki membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin lembut kepada manusia?

Perjalanan kemudian berlanjut menuju makam Sunan Kalijaga.

Nama beliau mengingatkan kita bahwa Islam pernah tumbuh dan berkembang melalui pendekatan yang bijaksana.

Sunan Kalijaga menunjukkan bagaimana nilai-nilai agama dapat disampaikan dengan memahami keadaan masyarakat, tanpa kehilangan prinsip.

Dari sana kami belajar bahwa menjadi baik tidak harus selalu tampil paling keras. Kadang yang paling kuat justru adalah mereka yang mampu menyampaikan kebenaran dengan kelembutan.

Langkah berikutnya membawa kami kepada makam KH. Hasyim Asy’ari, seorang ulama besar dan pendiri Nahdlatul Ulama.

Di sana, perjalanan terasa semakin dalam.

KH. Hasyim Asy’ari bukan hanya meninggalkan ilmu, tetapi juga meninggalkan semangat perjuangan.

Dari beliau kita belajar bahwa ilmu tanpa perjuangan akan mudah berhenti sebagai pengetahuan, sementara perjuangan tanpa ilmu dapat kehilangan arah.

Terbayang betapa panjang jalan yang ditempuh para ulama terdahulu.

Mereka tidak mewariskan kemewahan.

Mereka mewariskan ilmu, akhlak, pesantren, persatuan, dan perjuangan.

Kemudian kami Sekaligus berziarah kepada Gus Dur.

Di pusara beliau, saya kembali memahami satu hal: seorang manusia mungkin telah meninggalkan dunia, tetapi gagasan dan kebaikannya dapat terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakan manfaatnya.

Gus Dur mengajarkan pentingnya kemanusiaan, persaudaraan, keberanian berpikir, dan kemampuan melihat manusia bukan dari perbedaan yang melekat padanya, tetapi dari martabatnya sebagai sesama ciptaan Allah.

Di sana saya belajar bahwa menjadi NU bukan sekadar memiliki identitas.

Menjadi bagian dari tradisi ulama berarti belajar menjaga agama, kemanusiaan, persaudaraan, dan kedamaian.

Perjalanan kemudian membawa kami ke Bangkalan, Madura, menuju makam Syaikhona Kholil Bangkalan.

Ada perasaan haru ketika mengingat begitu banyak ulama besar Nusantara yang memiliki hubungan keilmuan dengan beliau.

Syaikhona Kholil mengajarkan bahwa ilmu tidak berhenti pada siapa yang mempelajarinya.

Ilmu harus diteruskan.

Seorang guru mungkin telah tiada, tetapi murid-muridnya membawa cahaya ilmu itu ke berbagai penjuru negeri.

Maka ilmu sebenarnya adalah sebuah amanah.

Dan setiap orang yang menerimanya memiliki tanggung jawab untuk menjaganya dengan akhlak dan amal.

Perjalanan belum selesai.

Kami kemudian menuju Surabaya, ke makam Sunan Ampel.

Di tempat ini, saya kembali merasakan bahwa perjalanan para wali dahulu bukanlah perjalanan yang mudah. Mereka menanamkan nilai agama dengan kesabaran, keteladanan, pendidikan, dan kedekatan dengan masyarakat.

Sunan Ampel mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana:

mendidik satu manusia, memperbaiki satu keluarga, membangun satu lingkungan.

Dari sanalah perubahan perlahan tumbuh.

Dan perjalanan ini akhirnya membawa kami bukan hanya ke makam-makam para wali dan ulama, tetapi juga ke sebuah tempat di mana para ulama dan kader NU dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul dalam Muktamar NU ke-35.

Di tengah keramaian itu, saya melihat sesuatu yang berbeda.

Ada ribuan manusia.

Berbeda daerah, berbeda bahasa, berbeda latar belakang.

Namun mereka datang membawa satu semangat:

Menjaga warisan para ulama dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Saat berdiri di tengah arena berkumpulnya para alim ulama, tiba-tiba perjalanan ziarah yang sebelumnya terasa sebagai perjalanan pribadi berubah menjadi sebuah renungan besar.

Ternyata ziarah bukan hanya tentang melihat masa lalu.

Ziarah adalah cara untuk memahami masa depan.

Kami mendatangi makam para wali untuk mengingat bagaimana mereka dahulu berjuang.

Kami mendatangi makam para ulama untuk mengingat bagaimana ilmu diwariskan.

Dan kami hadir di tengah para ulama hari ini untuk menyadari bahwa perjuangan itu belum selesai.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button