Kolom

Ketika Ketampanan Tidak Cukup Menyelamatkan Bangsa

Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Warga Nahdliyin

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال ،

كَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْمَلَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ النَّاسِ

Dari Anas Radhiyallahu anhu mengatakan:

“Beliau adalah orang yang paling dermawan, paling tampan dan paling pemberani.”

[HR al-Bukhâri & Muslim].

Hadits ini pendek. Sangat pendek. Tetapi kalau direnungkan, barangkali ia bisa membuat kita malu. Bukan malu karena kita tidak setampan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam—karena urusan itu memang sudah selesai sejak awal—melainkan karena manusia modern terlalu sibuk memperbaiki wajah, sementara lupa memperbaiki watak.

Anas bin Malik tidak hanya berkata bahwa Rasulullah itu tampan. Beliau mengatakan tiga hal sekaligus: paling dermawan, paling indah, dan paling berani. Artinya, keindahan Rasulullah bukan sekadar perkara hidung mancung, wajah bercahaya, bahu bidang, atau postur tubuh yang sedap dipandang. Ketampanan beliau punya saudara kandung bernama kedermawanan dan keberanian.

Sekarang kita hidup di zaman yang agak aneh. Orang bisa tampak sangat rapi di depan kamera, tetapi berantakan ketika memegang amanah. Wajahnya teduh di baliho, tetapi kalimatnya kasar di ruang rapat. Bajunya putih, pecinya putih, senyumnya putih, pokoknya semuanya putih, tetapi urusan anggaran entah mengapa selalu menjadi agak gelap.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam justru memperlihatkan satu kesatuan yang jarang kita temukan hari ini: fisiknya indah, akhlaknya indah, keberaniannya indah, dan kemurahan hatinya indah.

Allah Swt berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

[QS. Ali Imrân/3:159]

Ayat ini sebenarnya sangat relevan untuk para pemimpin, guru, pejabat, dai, ketua organisasi, bahkan ketua panitia tujuhbelasan. Orang sering mengira kepemimpinan itu soal suara yang keras. Padahal suara keras kadang hanya membuktikan bahwa mikrofon batinnya rusak.

Rasulullah memimpin bukan dengan membuat orang takut, melainkan membuat orang merasa aman. Beliau memiliki kewibawaan, tetapi bukan kewibawaan yang membuat orang gemetar kehilangan akal. Beliau berani, tetapi bukan pemberani yang senang mempermalukan orang kecil. Beliau tegas, tetapi ketegasannya tidak tumbuh dari kebencian.

Maka tidak aneh bila Allah menyebut beliau sebagai rahmat:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

[QS. al-Anbiyâ`/21:107]

Di sinilah kita perlu memahami bahwa mencintai Nabi bukan sekadar memperbanyak slogan cinta Nabi. Cinta itu tentu baik. Shalawat tentu mulia. Peringatan maulid tentu memiliki nilai jika membawa kita semakin dekat kepada akhlak beliau. Tetapi jangan sampai kita menangis ketika mendengar kisah Rasulullah, lalu setelah acara selesai kita kembali menyakiti orang di rumah.

Itu seperti orang menangis mendengar lagu tentang kejujuran, lalu pulang membawa pulpen kantor.

Anas bin Malik menggambarkan fisik Rasulullah dengan penuh kecintaan. Beliau tidak terlalu tinggi dan tidak pendek, fisiknya bagus, rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak lurus menjurai. Al-Barâ` bin ‘Azib bahkan berkata:

“Aku belum pernah melihat orang yang lebih tampan dari beliau.”

Kita boleh kagum kepada keindahan fisik Rasulullah. Itu bagian dari pengenalan dan kecintaan. Tetapi jangan berhenti di sana. Sebab manusia bisa mengagumi wajah Nabi, tetapi belum tentu mau meniru kesabaran Nabi. Kita bisa hafal ciri-ciri fisik beliau, tetapi belum tentu hafal bagaimana beliau memperlakukan orang yang pernah menyakitinya.

Padahal Allah sudah memberikan rumus yang sangat jelas:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”

[QS. al-Ahzâb/33:21]

Kata uswah hasanah itu berat. Sebab teladan berarti bukan hanya dikagumi, tetapi diikuti. Kalau hanya dikagumi, patung di taman kota juga bisa. Nabi bukan dikirim untuk menjadi pajangan sejarah. Beliau hadir agar manusia belajar menjadi manusia.

Dan puncaknya, Allah menegaskan:

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍوَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis… Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

[QS. al-Qalam/68:1-4]

Menariknya, ketika Allah memuji Rasulullah, pujian yang sangat tegas itu bukan tentang kekayaan, istana, pasukan, atau kekuasaan politik. Yang ditonjolkan adalah khuluqin ‘azhim, akhlak yang agung.

Mungkin karena pada akhirnya manusia tidak akan terlalu lama dikenang karena wajahnya. Wajah berubah. Tubuh menua. Foto bisa diedit. Bahkan sekarang, dengan teknologi, wajah orang bisa dibuat lebih tampan daripada dirinya sendiri. Tetapi akhlak tidak bisa memakai filter.

Karena itu, mencintai Rasulullah berarti berusaha menyatukan tiga hal yang disebut Anas: murah hati, indah dalam penampilan dan perilaku, serta berani membela kebenaran. Jangan sampai kita hanya mengambil satu: ingin tampak indah. Yang lain kita tinggalkan.

Dan barangkali inilah yang perlu kita renungkan di zaman ketika banyak orang sibuk membangun citra, tetapi malas membangun karakter.

Rasulullah tidak sibuk membangun branding. Beliau membangun manusia. Dan karena itu, nama beliau tetap hidup bukan karena algoritma, melainkan karena cinta yang bersemayam di hati umat.

Mengenal Rasulullah seharusnya membuat iman kita bertambah. Allah bahkan berfirman:

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ

“Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?”

[QS. al-Mukminûn/23:69]

Maka mari mengenal beliau lebih dekat. Bukan sekadar agar kita bisa menjelaskan bagaimana rupa beliau, tetapi agar sedikit demi sedikit ada rupa beliau dalam perilaku kita: kelembutannya, keberaniannya, kemurahan hatinya, dan kesediaannya memaafkan.

Kalau suatu hari kita benar-benar merindukan beliau, mungkin kerinduan itu tidak cukup diucapkan. Ia harus dibuktikan. Dengan shalawat, tentu. Dengan cinta, tentu. Tetapi juga dengan cara kita memperlakukan manusia.

Sebab orang yang paling rindu kepada Nabi, mestinya paling malu kalau hidupnya justru membuat orang lain jauh dari Islam.

 

Wallahu ‘alamu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button