Ketika Mushaf Nusantara Menyatukan Bangsa
Oleh Ohan Jauharudin
(Kabid Kepengasuhan Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka)

Kemerdekaan tidak selalu dirayakan dengan upacara dan pengibaran bendera. Ia juga dapat dirayakan melalui karya yang mencerdaskan, menyatukan, dan menghidupkan kembali tradisi. Mushaf Nusantara menjadi salah satu bentuk perayaan itu.
Bayangkan ketika Mushaf Nusantara, karya monumental Pesantren Kaligrafi AlQur’an Lemka yang mempertemukan seni kaligrafi Islam dengan kekayaan budaya Nusantara. Mushaf yang ditulis 365 kaligrafer dari berbagai daerah di Indonesia menorehkan ayat-ayat Al-Qur’an secara serentak. Dalam waktu kurang dari 10 jam, sebuah mushaf lengkap berhasil ditulis.
Di balik kecepatan itu terdapat sebuah pesan yang jauh lebih panjang: tentang spiritualitas, kebudayaan, persatuan, dan cara sebuah bangsa mengisi kemerdekaannya melalui karya.
Mushaf yang diresmikan langsung oleh Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. lahir sebagai bagian dari komitmen Lemka dalam memperkuat syiar literasi Al-Qur’an di Indonesia. Lebih dari itu, karya tersebut menjadi bentuk pengabdian kepada bangsa melalui pengembangan seni kaligrafi Islam.
Yang membuat Mushaf Nusantara semakin istimewa adalah cara pembuatannya. Penulisan dilakukan secara serentak di 30 provinsi dengan melibatkan 365 kaligrafer. Angka tersebut bukan sekadar jumlah peserta, tetapi dipilih sebagai simbol jumlah hari dalam satu tahun.
Dalam hitungan waktu yang relatif singkat, seluruh mushaf berhasil diselesaikan.
Capaian ini kemudian mendapatkan pengakuan Museum Rekor Indonesia (MURI) melalui dua rekor nasional sekaligus: mushaf dengan jumlah penulis terbanyak dalam waktu tercepat serta mushaf dengan iluminasi bercorak Nusantara terbanyak. Tercatat terdapat 106 motif iluminasi yang berasal dari 38 provinsi.
Namun, angka-angka tersebut bukanlah satu-satunya alasan Mushaf Nusantara layak diperbincangkan.
Di balik rekor itu terdapat upaya menghidupkan kembali tradisi yang lebih tua: kitabah, tradisi menulis mushaf Al-Qur’an.
Tradisi penulisan mushaf disebut sempat mengalami kevakuman setelah lahirnya Mushaf Istiqlal pada 1995. Karena itu, kehadiran Mushaf Nusantara dapat dipandang sebagai ikhtiar untuk memperkenalkan kembali tradisi tersebut kepada generasi berikutnya, terutama melalui lingkungan pesantren dan madrasah.
Dalam tradisi Islam, aktivitas membaca dan menulis memiliki kedudukan penting. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW antara lain mengingatkan manusia tentang ilmu dan pena melalui ungkapan alladzi ‘allama bil-qalam. Pena, dalam konteks ini, bukan sekadar alat untuk menghasilkan tulisan. Ia juga menjadi simbol pengetahuan, pembelajaran, dan peradaban.
Kemerdekaan yang Diisi dengan Karya
Ada alasan simbolik lain yang membuat Mushaf Nusantara memiliki keterkaitan kuat dengan momentum kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan bukan hanya perkara terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga menghadirkan tanggung jawab untuk membangun masyarakat yang berpengetahuan dan berbudaya.
Dalam konteks itulah Mushaf Nusantara menemukan relevansinya. Ia menjadi ikhtiar untuk membumikan Al-Qur’an sekaligus mengambil bagian dalam mencerdaskan masyarakat melalui literasi Al-Qur’an dan seni kaligrafi.
Al-Qur’an dalam Wajah Keberagaman Nusantara
Keistimewaan Mushaf Nusantara tidak berhenti pada proses penulisannya. Identitas Nusantara juga terlihat melalui ragam iluminasi yang menghiasi mushaf.
Motif-motif yang berasal dari berbagai daerah memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia. Para kaligrafer dari berbagai provinsi hadir dalam satu proyek bersama, membawa latar budaya yang beragam tetapi bertemu dalam satu karya.
Di sinilah Mushaf Nusantara memiliki pesan kebangsaan yang kuat. Perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri.
Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi energi untuk melahirkan sesuatu yang lebih besar.
Beragam motif budaya Nusantara yang hadir dalam mushaf tersebut merepresentasikan semangat Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda tetapi tetap satu. Ia juga menyampaikan pesan tentang persatuan, toleransi, penghargaan terhadap kebudayaan, dan pentingnya menjaga kekayaan budaya Nusantara.
Dengan demikian, Al-Qur’an yang ditulis melalui tangan para kaligrafer dari berbagai wilayah Indonesia tidak hanya menghadirkan keindahan visual. Ia sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara agama dan kebudayaan.
Ayat-ayat suci ditulis dengan seni yang lahir dari keberagaman Nusantara. Di sana terdapat sebuah pesan sederhana tetapi penting: perbedaan dapat dirangkai menjadi keindahan ketika dipertemukan dalam tujuan yang sama.
Dakwah melalui Pena
Kehadiran Mushaf Nusantara juga memperlihatkan bahwa dakwah tidak selalu harus disampaikan melalui mimbar. Pena, kuas, dan karya seni dapat menjadi medium dakwah yang tidak kalah penting.
Komitmen tersebut sejalan dengan gagasan yang kerap disampaikan pimpinan Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka sekaligus Direktur Lemka, Dr. KH. Didin Sirojuddin AR, M.Ag., tentang dakwah bil-qalam: berdakwah melalui pena, menulis dan melukis untuk membangun kreativitas.
Dalam kerangka tersebut, kaligrafi bukan sekadar persoalan keindahan huruf. Ia dapat menjadi sarana pendidikan, ekspresi budaya, penguatan literasi, sekaligus medium penyampaian nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.
Mushaf Nusantara menunjukkan bagaimana sebuah karya seni dapat membawa banyak pesan sekaligus. Ada pesan spiritual melalui ayat-ayat Al-Qur’an.
Ada pesan pendidikan melalui tradisi kitabah. Ada pesan kebudayaan melalui iluminasi Nusantara. Dan ada pesan kebangsaan melalui keterlibatan para kaligrafer dari berbagai daerah.
Pada akhirnya, Mushaf Nusantara bukan sekadar mushaf yang selesai ditulis dalam waktu 10 jam. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah bangsa yang beragam dapat menorehkan satu karya bersama dan mampu menyatukan ragam budaya bangsa.
Jika kemerdekaan adalah kesempatan untuk menentukan masa depan sendiri, maka mengisi kemerdekaan berarti menghadirkan karya yang memberi manfaat bagi generasi berikutnya.
Dari goresan pena para kaligrafer Nusantara, pesan itu terasa begitu jelas: mencintai Al-Qur’an dapat berjalan seiring dengan mencintai kebudayaan, menjaga persatuan, dan mengabdi kepada bangsa.
Sebab pada akhirnya, kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan mengenang apa yang telah diperjuangkan para pendahulu. Kemerdekaan juga harus dibuktikan melalui apa yang kita ciptakan untuk generasi sesudah kita.
Dan Mushaf Nusantara adalah salah satu cara untuk mengisinya




