Kolom

Ketika Syahadat Menjadi Jawaban Terakhir

Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Warga Nahdliyin

Ada satu pertanyaan sederhana, tetapi mungkin paling berat untuk dijawab manusia. Bukan pertanyaan tentang berapa harta yang kita tinggalkan, bukan pula tentang seberapa tinggi jabatan yang pernah kita duduki. Bahkan bukan tentang berapa banyak gelar yang berhasil ditempelkan di belakang nama. Pertanyaan itu datang ketika semua gelar sudah tidak berguna, harta tidak bisa dibawa, dan jabatan tidak lagi memiliki kursi untuk diduduki: siapa Tuhanmu?

Di hadapan pertanyaan seperti itu, manusia ternyata tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan. Orang yang semasa hidup mampu berbicara berjam-jam di depan publik belum tentu mampu menjawab. Orang yang hafal banyak teori belum tentu memperoleh keteguhan. Sebab, dalam urusan iman, ada wilayah yang tidak dapat ditembus hanya dengan hafalan. Ada pertolongan Allah yang menentukan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

عن البراءِ بن عازب رضي الله عنهما، عن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((المُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ في القَبْرِ يَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا الله وَأنّ مُحَمّدًا رَسُول الله، فذلك قوله تَعَالَى: {يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَة})) [إبراهيم: 27]. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

قال ابن عباس رضي الله عنهما: من دام على الشهادة في الدنيا يلقِّنه الله تعالى إياها في قبره.

Dari Al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhumā, dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda:

“Seorang Muslim apabila ditanya di dalam kubur, ia akan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Swt dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah firman Allah Ta‘ālā: ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.’”

Muttafaq ‘alaih

(HR. Bukhari & Muslim)

Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata:

“Barang siapa senantiasa teguh di atas syahadat ketika di dunia, Allah Ta‘ālā akan menuntunnya untuk mengucapkannya di dalam kuburnya.”

Hadis ini seolah mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia dan kehidupan setelah kematian tidak benar-benar terpisah oleh tembok yang rapat. Apa yang kita biasakan di sini, membawa jejaknya ke sana. Mulut yang setiap hari dibiasakan berdzikir, hati yang berusaha mengenal Tuhannya, dan kehidupan yang diarahkan kepada tauhid, semuanya bukan pekerjaan yang hilang begitu saja ketika manusia memasuki liang lahat.

Kita sering membayangkan kematian sebagai akhir. Padahal, bagi seorang beriman, kematian lebih mirip perpindahan alamat. Masalahnya, tidak semua orang membawa bekal yang cukup ketika pindah alamat. Ada yang sibuk memperbesar rumah, tetapi lupa mempersiapkan rumah terakhirnya. Ada yang sangat khawatir tentang masa depan anak cucunya, tetapi kurang cemas tentang masa depannya sendiri setelah nyawa meninggalkan badan.

Yang menarik, Allah tidak mengatakan bahwa orang beriman *sendiri* meneguhkan dirinya. Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah-lah yang meneguhkan. Inilah barangkali salah satu pelajaran paling menenangkan sekaligus paling menggugah. Menenangkan, karena seorang Muslim tidak menjalani perjalanan hidup dengan kekuatannya sendiri. Menggugah, karena keteguhan itu harus diusahakan melalui kehidupan yang sungguh-sungguh beriman.

Allah Swt berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah Swt meneguhkan orang- orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”Dan Allah menyesatkan orang- orang yang dzalim dan Allah Swt berbuat apa yang Dia kehendaki.”

(QS. Ibrahim : 27)

Kalimat *la ilaha illallah, Muhammad Rasulullah* karena itu bukan sekadar kalimat yang disimpan untuk acara keagamaan. Ia adalah cara pandang terhadap kehidupan. Ketika seseorang mengucapkan *la ilaha illallah*, sesungguhnya ia sedang menolak menjadikan apa pun sebagai tuhan selain Allah. Harta bukan tuhan. Jabatan bukan tuhan. Kekuasaan bukan tuhan. Bahkan manusia yang kita kagumi pun bukan tuhan.

Masalahnya, manusia sering kali lebih mudah mengucapkan tauhid daripada menjalani konsekuensinya. Kita bisa mengatakan bahwa hanya Allah yang Maha Berkuasa, tetapi kadang-kadang hati begitu takut kepada manusia. Kita mengakui rezeki datang dari Allah, tetapi kecemasan terhadap dunia membuat kita rela melakukan hampir apa saja. Kita menyebut Muhammad sebagai Rasulullah, tetapi belum tentu dengan senang hati menjadikan ajarannya sebagai petunjuk hidup.

Di situlah istiqamah menemukan maknanya. Iman bukan hanya soal momen haru. Ia bukan sekadar air mata yang jatuh ketika mendengar ceramah. Iman adalah kesetiaan yang diuji oleh hari-hari biasa: ketika tidak ada yang melihat, ketika kepentingan pribadi tergoda, ketika berbuat jujur terasa merugikan, dan ketika mempertahankan kebenaran tidak mendatangkan tepuk tangan.

Barangkali kita terlalu sering ingin menjadi orang hebat, padahal yang diperlukan adalah menjadi orang yang teguh. Kehebatan sering membutuhkan pengakuan orang lain. Keteguhan justru dapat tumbuh dalam kesunyian. Tidak ada kamera yang merekam ketika seseorang menolak mengambil yang bukan haknya. Tidak ada penghargaan khusus ketika seseorang tetap menjaga salatnya dalam kesibukan. Tidak ada berita utama ketika seseorang menahan lisannya agar tidak menyakiti orang lain. Namun, mungkin justru perkara-perkara kecil semacam itulah yang setiap hari sedang membentuk arah hati kita.

Perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā memberikan pesan yang sangat dalam: siapa yang terus hidup di atas syahadat di dunia, Allah akan menuntunnya untuk mengucapkannya di dalam kubur. Artinya, jawaban di alam kubur tidak hadir dari ruang kosong. Ia merupakan buah dari sebuah kehidupan. Kita tidak dapat berharap lidah menjadi teguh di saat paling menentukan apabila selama hidup hati kita terlalu jauh dari apa yang diucapkan.

Karena itu, doa Nabi yang sangat indah patut menjadi bagian dari keseharian kita:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Doa ini sekaligus mengajarkan kerendahan hati. Tidak ada manusia yang boleh terlalu percaya diri dengan imannya. Hati bisa berubah. Hari ini merasa kuat, besok bisa lemah. Hari ini merasa dekat kepada Allah, esok hari bisa lalai. Maka, meminta keteguhan bukan tanda kelemahan iman. Justru itulah kesadaran bahwa manusia membutuhkan pertolongan Tuhannya setiap saat.

Pada akhirnya, mungkin hidup ini memang sedang mengajari kita satu kalimat yang kelak menjadi sangat penting. Kita mengulangnya dalam azan, salat, dzikir, dan doa. Namun, semoga pengulangan itu tidak berhenti di lidah. Semoga *la ilaha illallah, Muhammad Rasulullah* benar-benar turun ke dalam hati, membentuk cara kita mencari rezeki, memperlakukan sesama, menggunakan kekuasaan, dan menjalani hidup.

Sebab, ada jawaban yang tidak cukup dipersiapkan pada saat pertanyaan datang. Ia harus dipelajari sejak sekarang, dihayati sejak sekarang, dan diamalkan sejak sekarang. Mungkin itulah makna keteguhan: bukan merasa bahwa kita tidak akan pernah jatuh, melainkan setiap kali jatuh kita kembali kepada Allah dan tidak berhenti berjalan di jalan-Nya.

Semoga ketika dunia telah selesai kita tinggalkan, Allah masih mengenali kita sebagai hamba yang berusaha hidup di atas tauhid. Dan semoga kalimat yang selama ini kita ucapkan bukan sekadar kebiasaan, melainkan benar-benar menjadi keyakinan yang hidup hingga akhir perjalanan kita.

 

Wallahu ‘alamu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button