Kolom

Puasa dan Kesehatan Jiwa

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Kita hidup di zaman yang aneh. Tubuh manusia semakin dimanjakan, tetapi jiwa sering semakin lelah. Orang makan cukup, bahkan berlebihan. Teknologi membuat hidup lebih mudah. Namun kegelisahan justru menjadi teman sehari hari. Banyak orang terlihat sibuk, tetapi tidak selalu tahu untuk apa semua kesibukan itu.

Ramadhan datang setiap tahun seperti seorang tamu lama yang setia. Ia tidak membawa kemewahan. Ia justru membawa pembatasan. Kita diminta menahan lapar, menahan haus, bahkan menahan banyak keinginan kecil yang biasanya kita turuti tanpa berpikir. Di sinilah rahasia puasa sering tersembunyi.

Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Wahai orang orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini sering kita dengar, tetapi jarang kita renungkan dengan tenang. Takwa bukan sekadar status religius. Ia adalah kesadaran batin bahwa hidup ini tidak berjalan sendiri.

Orang yang memiliki kesadaran itu biasanya lebih tenang. Ia tahu bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya. Ada wilayah takdir yang harus diterima dengan lapang dada. Ada pula wilayah ikhtiar yang harus dijalani dengan sungguh sungguh. Keseimbangan antara keduanya melahirkan ketenangan jiwa.

Masalahnya, kehidupan modern sering mengajarkan manusia untuk merasa seolah olah ia mengendalikan segalanya. Kita membuat rencana. Kita mengejar target. Kita mengukur keberhasilan dengan angka angka yang terus meningkat. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, kegelisahan pun muncul.

Di tengah situasi seperti itu puasa hadir sebagai latihan yang sederhana tetapi dalam. Lapar datang di siang hari. Tubuh memberi sinyal bahwa ia membutuhkan makanan. Namun kita tidak segera memenuhinya. Kita menunggu sampai waktunya tiba. Penundaan kecil ini sebenarnya latihan besar bagi jiwa.

Puasa mengajarkan bahwa manusia tidak harus selalu mengikuti dorongan sesaat. Ada saat ketika keinginan harus ditahan. Ada saat ketika kesabaran menjadi jalan terbaik. Jiwa yang terbiasa menahan diri biasanya lebih kuat menghadapi gelombang kehidupan.

Dalam Al Qur’an ada satu ayat yang sering menyejukkan hati orang yang membacanya. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. Ar Ra’d: 28). Ayat ini seolah mengingatkan manusia tentang sumber ketenangan yang sering dilupakan. Banyak orang mencari ketenangan di luar dirinya. Padahal ia justru lahir dari hubungan batin dengan Tuhan.

Ramadhan memberi ruang yang lebih luas untuk hubungan itu. Malam menjadi lebih hidup dengan shalat tarawih. Banyak orang kembali membuka mushaf Al Qur’an yang mungkin lama tersimpan di rak. Zikir dan doa mengalir lebih sering dari biasanya. Semua itu bukan sekadar ritual.

Ada proses batin yang terjadi secara perlahan. Pikiran yang biasanya dipenuhi urusan dunia mulai mendapat jarak. Jiwa yang sebelumnya sesak oleh berbagai persoalan mulai menemukan ruang bernapas. Dalam keadaan seperti itulah manusia sering menemukan kembali dirinya.

Puasa juga mengajarkan kita tentang kesederhanaan. Ketika siang hari kita menahan lapar, kita merasakan sesuatu yang selama ini mungkin tidak kita perhatikan. Rasa lapar membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Kita menyadari bahwa bagi sebagian orang, lapar bukan sekadar latihan spiritual. Ia adalah kenyataan hidup sehari hari.

Kesadaran seperti ini melahirkan empati. Dari empati lahir kepedulian. Maka Ramadhan sering menjadi bulan yang penuh dengan sedekah dan berbagi. Orang memberi bukan hanya karena kewajiban agama, tetapi juga karena hatinya tersentuh.

Hubungan dengan sesama manusia ternyata juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa. Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri sering merasa hampa. Sebaliknya orang yang merasa terhubung dengan orang lain biasanya lebih kuat menghadapi kesulitan hidup.

Puasa juga mengajarkan rasa syukur dengan cara yang sangat sederhana. Setelah seharian menahan lapar, seteguk air saat berbuka terasa begitu nikmat. Sepiring makanan yang biasa saja tiba tiba terasa istimewa. Pengalaman kecil ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar.

Dalam kehidupan sehari hari kita sering lupa bersyukur karena terlalu terbiasa dengan kenikmatan. Puasa memecah kebiasaan itu. Ia membuat kita melihat kembali hal hal kecil yang selama ini dianggap biasa.

Kesabaran, kesederhanaan, dan rasa syukur adalah pelajaran yang terus diulang selama Ramadhan. Tiga hal ini sebenarnya sangat penting bagi kesehatan jiwa manusia. Orang yang sabar tidak mudah putus asa. Orang yang sederhana tidak mudah gelisah oleh keinginan yang tidak ada habisnya. Orang yang bersyukur lebih mampu menikmati hidup apa adanya.

Mungkin karena itu puasa terasa seperti perjalanan batin. Ia bukan hanya ritual yang dilakukan oleh tubuh. Ia adalah proses pelan pelan untuk menata kembali jiwa manusia yang sering tercerai berai oleh kesibukan dunia.

Ramadhan selalu datang dengan pesan yang sama. Ia mengajak manusia berhenti sejenak dari kegaduhan hidup. Ia memberi kesempatan untuk melihat kembali ke dalam diri. Di sana kita mungkin menemukan bahwa yang paling kita butuhkan bukanlah tambahan kesibukan, tetapi ketenangan jiwa yang selama ini kita cari ke mana mana.

 

*) Penulis adalah Direktur Research and Literacy Institute (RLI), Dosen UIN SGD Bandung, Dosen luar biasa pada Institut KH. Ahmad Sanusi Sukabumii, Institut Al-Masthuriyah Sukabumi dan STAI Kharisma Sukabumi, serta saat ini diamanahi sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi dan Wakil Ketua PCNU Kota Sukabumi, dan Ketua Forum Ukhuwah Warga Ciaul Kota Sukabumi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button